1. START WITH A DREAM
Mulailah dengan sebuah mimpi. Semua bermula dari sebuah mimpi dan yakinkan akan produk yang akan kita tawarkan. A dream is where it all started : Pemimpilah yang selalu menciptakan dan membuat sebuah terobosan dalam produk, cara pelayanan, jasa, ataupun ide yang dapat dijual dengan sukses. Mereka tidak mengenal batas dan keterikatan, tak mengenal kata “tidak bisa” ataupun “tidak mungkin”. Semua yang kita impikan akan jadi kenyataan jika kita berusaha semaksimal mungkin dengan ketekunan dan usaha yang sungguh-sungguh tak hanya bermimpi saja tanpa adanya realisasi.
2. LOVE THE PRODUCTS OR SERVICES
Cintailah produk atau pelayanan Anda. Kecintaan akan produk kita akan memberikan sebuah keyakinan pada pelanggan kita dan membuat kerja keras terasa ringan. Membuat kita mampu melewati masa-masa sulit. Enthusiastism and Persistence : Antusiasme dan keuletan sebagai pertanda cinta dan keyakinan akan menjadi tulang punggung keberhasilan sebuah usaha yang baru. Kecintaan terhadap produk dan pelayanan berarti pula kita harus menjaga kualitas dari produk dan pelayanan kita sehingga pelanggan dapat merasa puas dengan produk dan pelayanan kita.
3. LEARN THE BASICS OF BUSINESS
Pelajarilah fundamental business. BEYOND THE “BUY LOW, SELL HIGH, PAY LATE, COLLECT EARLY”: Tidak akan ada sukses tanpa ada sebuah pengetahuan dasar untuk business yang baik, belajar sambil bekerja, turut kerja dahulu selama 1-2 tahun untuk dapat mempelajari dasar-dasar usaha akan membantu kita untuk maju dengan lebih baik. Carilah Guru yang baik, sebagai contoh yang patut untuk kita teladani sebagai pegangan kita untuk masa yang akan datang.
4. WILLING TO TAKE CALCULATED RISKS
Ambillah resiko. The Gaint that u will be able to achieve is directly proportional to the risk taken : Berani mengambil resiko yang diperhitungkan merupakan kunci awal dalam dunia usaha, karena hasil yang akan dicapai akan proporsional terhadap resiko yang akan diambil. Sebuah resiko yang diperhitungkan dengan baik-baik akan lebih banyak memberikan kemungkinan berhasil. Inilah faktor penentu yang membedakan “entrepreneur” dengan “Manager”. Entrepreneur akan lebih dibutuhkan pada tahap awal pengembangan perusahaan, dan manager dibutuhkan akan mengatur perusahaan yang telah maju. Sebisa mungkin kita meminimkan resiko atau sebisa mungkin kita memperhitungkan resiko yang kita ambil adalah langkah yang terbaik untuk tidak terjebak dalam bahaya yang besar akibat resiko yang tak terkendali.
5. SEEK ADVICE, BUT FOLLOW YOUR BELIEF
Carilah nasehat dari pakarnya, tapi ikuti kata-kata kita. Consult Consultants, ask the experts, but follow your hearts. Entrepreneur selalu mencari nasehat dari berbagai pihak tapi keputusan akhir selalu ada ditangannya dan dapat diputuskan dengan indera ke enam-nya. Komunikasi yang baik dan kepiawaian menjual. Pada fase awal sebuah usaha, kepiawaian menjual merupakan kunci suksesnya. Kemampuan untuk memahami dan menguasai hubungan dengan pelanggan akan membantu mengembangkan usaha pada fase itu. Keputusan yang bijaksana sangatlah dibutuhkan, keputusan yang mempertimbangkan kebaikan pada bisnis kita, kepuasan konsumen akan sangat berharga sekali.
6. WORK HARD, 7 DAY A WEEK, 18 HOURS A DAY
Kerja keras. Etos kerja keras sering dianggap sebagai mimpi kuno dan seharusnya diganti, tapi hard-work and smart-work tidaklah dapat dipisahkan lagi sekarang. Hampir semua successful start-up butuh workaholics. Entrepreneur sejati tidak pernah lepas dari kerjanya, pada saat tidurpun otaknya bekerja dan berpikir akan bisnisnya. Melamunkan dan memimpikan kerjanya. Bekerja keras saja tidak cukup tetapi disertai dengan kecerdasan dalam bekerja. Karena dengan kecerdasan dalam bekerja maka pekerjaan akan bisa diselesaikan dengan mudah, cepat dan tepat.
7. MAKE FRIENDS AS MUCH AS POSSIBLE
Bertemanlah sebanyak-banyaknya. Pada harga dan kwalitas yang sama orang membeli dari temannya, pada harga yang sedikit mahal, orang akan tetap membeli dari teman. Teman akan membantu mengembangkan usaha kita, memberi nasehat, membantu menolong pada masa sulit. Pilihlah teman yang mau berbagi pada masa sulit dan masa jaya, dan berhati-hatilah pada teman yang ingin berteman pada masa jaya saja dan pergi pada masa sulit atau hanya sekedar memanfaatkan saja!
8. DEAL WITH FAILURES
Hadapi kegagalan. Kegagalan merupakan sebuah vitamin untuk menguatkan dan mempertajam intuisi dan kemampuan kita berwirausaha, selama kegagalan itu tidak “mematikan”. Kegagalan adalah salah satu jalan terjal yang membuat kita tangguh! Setiap usaha selalu akan mempunyai resiko kegagalan dan bila mana itu sampai terjadi, bersiaplah dan hadapilah!
9. JUST DO IT, NOW!
Lakukanlah sekarang juga. Bila Anda telah siap, lakukanlah sekarang juga. Manager selalu melakukan READY-AIM-SHOOT, tetapi entrepreneur sejati akan melakukan READY-SHOOT-AIM! Putuskan dan kerjakan sekarang, karena besok bukanlah milik kita. Ingatlah bahwa yang hari ini tidak Anda kerjakan besokpun belum tentu Anda kerjakan.
Kunci Sukses Usaha
William A. Ward pernah berkata, "Ada empat langkah mencapai sukses, yakni perencanaan yang tepat, persiapan yang matang, pelaksanaan yang baik, dan tidak mudah menyerah." Gunakan falsafah Ward ini agar sukses. Perinciannya sebagai berikut : Ikuti perkembangan jaman Bergabunglah dalam organisasi yang berkaitan dengan bisnis Anda. Banyak membaca dan gali informasi sebanyak mungkin. Internet akan banyak membantu Anda.
a. Buat rencana keuangan
Catat semua pemasukan dan pengeluaran setiap harinya. Buat target jangka pendek dan jangka panjang. Jangan pernah menyerahkan kondisi keuangan pada nasib. Perhitungkan dengan matang. Nasib tidak akan pernah menentukan hidup ini tetapi kerja keras, tekun dan perjuanganlah yang menentukan masa depan seseorang.
b. Perkirakan aliran uang tunai
Anda harus bisa memperkirakan aliran uang tunai, paling tidak tiga bulan ke depan. Jangan membuat anggaran pengeluaran yang lebih besar dari itu. Bentuk dewan penasehat atau cari tenaga ahli, untuk memberi ide, saran atau kritik terhadap Anda dan produk yang ditawarkan mereka bisa berupa teman-teman atau anggota keluarga yang dipercaya. Yang mana mereka ada disisi kita pada saat kita down sehingga kita tidak putus asa untuk menghadapi hidup ini.
c. Jaga keseimbangan antara kerja, santai, dan keluarga
Tak perlu memaksakan, karena sesuatu yang dikerjakan dengan memaksakan, hasilnya tak akan maksimal. Lagi pula, badan dan otak butuh istirahat. Berilah hak kepada setiap anggota tubuh Anda karena dia mempunyai hak untuk bekerja, istirahat dan refreshing.
d. Kembangkan jaringan (network)
Tak ada salahnya berkenalan dan bergaul dengan orang-orang yang berhubungan atau bisa mendukung bisnis Anda. Siapa tahu ada ide yang bisa digali. Berilah ruang dan waktu kepada mereka untuk bisa berbagi untuk kebaikan bersama, baik itu untuk perkembangan usaha Anda dan untuk kebaikan mereka.
e. Disiplin/motivasi
Aspek terberat dalam menjalankan usaha sendiri adalah disiplin atau motivasi untuk bekerja secara teratur. Untuk mengatasinya, buatlah daftar apa saja yang harus dikerjakan hari ini dan esok. Tentukan target yang harus dicapai dalam minggu ini. Dengan disiplin dan motivasi tersebut Anda bisa mengerjakan segala sesuatu dengan teratur dan penuh semangat.
f. Selalu waspada dan siap
Rajin-rajin melakukan evaluasi terhadap pasar, produk dan system pemasaran. Kalau perlu, ubah cara kerja agar lebih efisien. Perbaiki cara pemasaran atau kualitas produk. Kewaspadaan Anda akan membuat Anda lebih hati-hati dalam setiap langkah sehingga Anda tidak salah dalam melangkah.
g. Cintai pekerjaan Anda
Bagaimana akan sukses, jika Anda tak punya “sense of belongin” pada pekerjaan dan produk yang dihasilkan. Cintai pekerjaan dan produksi sendiri, dan uang akan mengikuti Anda. Jika kita menncintai pekerjaan kita maka kita akan senang dan semangat dalam melakukan segala pekerjaan yang kita kerjakan, dan semuanya itu akan membuahkan hasil yang maksimal.
Rabu, 06 Oktober 2010
Selasa, 05 Oktober 2010
PERAN STRATEGIS TANGGUNG JAWAB PERUSAHAAN : Obat atau Vitamin?
Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility disingkat CSR merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan perusahaan saat ini dan mendatang. Paradigma lama perusahaan yang berfungsi sebagai mesin produksi hanya untuk menghasilkan uang (capitalism) sudah berubah pentingnya perhatian perusahaan pada masyarakat khususnya lingkungan sekitarnya. Pemahaman ini muncul dengan pada dekade terakhir yang mana strategi bersaing perusahaan (competitive strategy) untuk bertahan dan tumbuh tidak lagi berdasarkan kepada kacamata pasar dan pesaing tetapi juga meliputi pemahaman terhadap pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders analysis). Dengan semakin cerdas dan/atau kritisnya pihak-pihak ini, sehingga perlunya menumbuhkan kepercayaan pihak-pihak tersebut agar menjadi kunci keberhasilan perusahaan didalam usaha. Sikap membohongi publik semakin riskan karena seandainya masyarakat tahu terhadap kebohongan publik maka kepercayaan kepada perusahaan akan menurun drastis dan berdampak merugikan usaha, sebagai contoh kasus minyak goreng yang mengandung barang tidak halal sempat mencuat beberapa waktu yang lampau atau minuman kesehatan yang ternyata membahayakan kesehatan. Sedangkan sikap masa bodoh kepada masyarakat dapat menciptakan suasana rentan ancaman dan ketidakpastian hubungan bagi perusahaan. Upaya meningkatkan kepercayaan masyarakat dalam jangka panjang salah satunya melalui perencanaan dan pelaksanaan program CSR yang merupakan inisiatip sukarela perusahaan agar eksistensi perusahaan dapat diakui dan diterima masyarakat (social license), walaupun secara hukum/perijinan telah diterima/sah didalam melaksanakan usaha (operation license). Namun demikian, pelaksanaan program CSR ini tidak menjamin adanya keharmonisan karena adanya tekanan kelompok-kelompok masyarakat yang beragam (pressure groups), namun paling tidak usaha memperoleh posisi tawar (bargaining power) didalam masyarakat akan meningkat seiring dengan tumbuhnya kepercayaan serta meningkatkan sensitifitas perusahaan untuk memilah kelompok masyarakat yang memiliki itikad baik.
Disamping menghadapi kondisi diatas, perusahaan tidak lepas dari motif ekonomi yaitu upaya perusahaan mencapai titik impas bisnis untuk mencapai profit, yang kenyataan tidak selalu mencukupi apa yang menjadi tuntutan masyarakat tersebut karena itu perlunya kompensasi biaya sosial dimasukkan didalam perhitungan Break Event Point (BEP). Permasalahannya bagi perusahaan-perusahaan yang masih bergulat dengan margin tipisnya BEP untuk jenis karakteristik industri tertentu seperti garmen, percetakan dan lainnya merasakan bahwa program sosial merupakan beban dibandingkan manfaat bagi perusahaan. Dengan adanya gejolak tuntutan masyarakat, perusahaan terpaksa menjalankan program sehingga terdapat kesan terlambat dan tidak terprogram. Propinsi Kalimantan Timur yang kaya migas dan tambang umumnya merupakan perusahaan yang dalam jangka panjang diprediksi mampu melalui cost recovery sehingga tidak berada pada area margin tipisnya BEP dan diharapkan menjadi pendorong program CSR bagi masyarakat khususnya masyarakat sekitar lokasi usaha. Usaha memenuhi kebutuhan tenaga lokal setempat dipandang sebagai upaya CSR dapat dipahami sebagai kepedulian namun demikian kompetensi tenaga kerja harus tetap diperhatikan.
Jumlah perusahaan yang melaksanakan kegiatan sektor migas dan tambang semakin meningkat seiring dengan ditemukannya area pertambangan atau eksplorasi baru, akhirnya memiliki dampak ganda (multiplier effect) dari usaha migas dan tambang yaitu meningkatnya pula perusahaan penunjang (services company) baik jenis maupun jumlahnya termasuk mobilisasi karyawannya secara total bahkan bisa lebih besar dari yang ada di perusahaan inti industri (migas dan tambang). Mobilisasi jenis industri ini merupakan suatu kelebihan dibandingkan daerah lain, apabila dapat dimanfaatkan secara optimal maka program CSR menjadi jembatan bagi upaya pengembangan masyarakat antara semua pihak baik pemerintah setempat, perusahaan dan masyarakat. Jembatan (bridging sources) yang dibangun sebaiknya tidak hanya sekedar ajang komunikasi dan program sesaat tetapi lebih menyentuh kepada penguatan kapasitas masyarakat (capacity building) melalui kajian dan integrasi dimensi sendi-sendi kehidupan pokok masyarakat antara lain pendidikan & pelatihan, kesehatan, usaha wirausaha mikro, dan kepedulian lingkungan. Pengembangan kapasitas masyarakat harus didasari kepada sasaran utama program bahwa kemandirian komunitas (self sustainable) menjadi tujuan akhir program CSR. Bilamana prediksi pesimis habisnya migas dan tambang 50 tahun lagi, maka peran aktif industri migas dan tambang guna perubahan masyarakat di Propinsi Kalimantan Timur diharapkan dapat menjadi kesempatan momentum peletakan dasar-dasar keunggulan industri non migas dan pengembangan masyarakat (community development) selama 50 tahun untuk menjadi masyarakat maju (developing society) pada saat kekayaan migas dan tambang telah habis. Suatu lompatan perubahan masyarakat (leave frog) dalam jangka waktu tersebut masih memungkinkan tentunya tanpa meninggalkan jati diri bangsa, apalagi akses teknologi digital dan komunikasi yang demikian pesat didalam kehidupan masyarakat dapat dioptimalkan bagi program CSR. Perumusan visi pembangunan berbasis pada pengembangan masyarakat dan budaya lingkungan diharapkan menjadi acuan dan segera disusun langkah kongkrit (action plans) tidak sekedar diatas kertas seminar/simposium dan acara seremonial sehingga semangat visi tersebut luntur dan tidak jelasnya arah program seiring dengan berjalannya waktu.
Pengembangan sektor non migas yang saat ini dinilai unggul di suatu daerah Kalimantan Timur belum tentu menjadi unggulan strategis di masa datang bahkan mungkin menjadi suatu sektor generik yang tidak memiliki keunggulan komparatif (comparative advantage) atau bahkan keunggulan kompetitif (competitive advantage), namun demikian yang jelas-jelas menjadi faktor keunggulan kompetitif setiap bangsa sepanjang masa adalah faktor sumber daya manusia sebagai suprastruktur penggerak keunggulan yang bersifat statis (infrastruktur, sistem kerja, dll). Bagaimana perubahan tersebut dapat mendorong bangsanya untuk berniat, bersikap dan bertindak menjadi bangsa terbaik di percaturan dunia tentunya sumbangsih melalui tumpuan program CSR yang tersusun secara sistematik, terpadu, terukur, berjangka waktu panjang dengan komitmen bersama diharapkan memberikan perubahan lebih baik bagi masyarakat khususnya masyarakat setempat. Suatu contoh menarik dan berhasil dari wujud CSR sejak tahun 1990-an di Kawasan Industri Batam dengan karakteristik padat industri, pemerintah/otorita setempat menyediakan sarana fisik sekolah menengah kejuruan (SMK) sedangkan perusahaan secara sukarela sesuai jenis keahlian yang dibutuhkan sekolah menyediakan prasarana peralatan, tenaga instruktur terlatih, dan kurikulum lokal termasuk bekal bahasa asing serta bantuan beasiswa bagi siswa berprestasi. Bantuan program asing (technical assistance) untuk menyempurnakan kurikulum dalam bentuk standar kompetensi keahlian telah dikenal sejak lama sebelum kurikulum berbasis kompetensi mulai diterapkan secara nasional. Hasil simboisis mutualisma dalam kerangka CSR berupa lulusan lokal yang diharapkan mampu bekerja di kawasan industri tersebut dengan standar kompetensi industri yang up to date dan memahami mesin/peralatan yang digunakan industri sangat berguna bagi pemerintah setempat, pengusaha dan masyarakat.
Suatu asumsi bahwa keberadaan program CSR merupakan syarat perlu bagi perusahaan untuk menjaga hubungan (maintenance forces) dengan pihak-pihak yang berkepentingan harus diubah menjadi syarat mutlak agar melalui program ini memiliki manfaat bagi perubahan masyarakat. Bentuk perubahan masyarakat ini dapat diawali dengan perubahan pola pikir, pola sikap dan pola tindak meliputi ekonomi, sosial dan budaya yang lebih baik. Sangat disayangkan bahwa tidak semua program CSR ini mampu mengikat (bonding agent) dengan kemampuan untuk mendorong perubahan masyarakat, kenyataannya merupakan program reaktif berdasarkan kondisi yang ada sebagai contoh bentuk pelaksanaan bakti sosial (bibir sumbing, sunatan, pengobatan gratis, donor darah, katarak dll), permintaan sponsor acara, penyuluhan dan lain-lain atau kegiatan yang terkait dengan acara perusahaan. Salah satu bagian penting dari upaya perubahan masyarakat adalah penyusunan program tidak hanya didasarkan kepada kondisi yang telah berjalan (existing situation) tetapi perlunya melakukan teroboson pemikiran melalui inovasi program CSR yang dituangkan didalam model pemberdayaan masyarakat (modelling) dan dilengkapi peta jalan (road map) serta ukuran evaluasi kinerja yang jelas. Penerapan pada saat-saat awal program CSR akan menghadapi berbagai tantangan dan kendala, namun seiring manfaat dapat dirasakan maka penerimaan masyarakat terhadap program CSR akan mendorong percepatan implementasi tahap selanjutnya. Diakui bahwa program pemberdayaan masyarakat masih menjadi bagian tanggung jawab pemerintah, namun dengan semakin kompleksnya masalah masyarakat dan kondisi lambannya birokrasi pemerintah didalam merespon tuntutan masyarakat, tidak salahnya program CSR menjadi peran aktif dan sukarela perusahaan bagi upaya mengentaskan kemiskinan, meningkatkan derajat kualitas hidup masyarakat dan terjadinya perubahan pada masyarakat seperti diuraikan diatas. Penghargaan (community award), regulasi dan dukungan pemerintah didalam program CSR sangat dibutuhkan agar program CSR ini dapat dilaksanakan secara efektif mampu membantu pemerintah dan berkontribusi bagi masyarakat setempat.
Pandangan masyarakat bahwa program CSR sebagai kegiatan sosial perusahaan tidak dapat disalahkan namun keberadaan program CSR ini jika tidak melibatkan partisipasi masyarakat pada saat awal (bottom up process) dikhawatirkan tidak mengenali secara spesifik kebutuhan dan keinginan masyarakat. Sebaliknya, program CSR yang selalu menuruti kehendak masyarakat malah menjerumuskan masyarakat kepada ketergantungan yang terus menerus jika dominasi pemikiran masyarakat setempat masih terbatas kepada kebutuhan sesaat. Hal ini dapat disebabkan karena ketidakmampuan masyarakat mengenali kebutuhan utama dan kemudian menyusun program jangka panjang dengan sasaran yang jelas, sebagai contoh masih ada proposal masyarakat yang menginginkan perbaikan sarana fisik, padahal perbaikan sarana fisik dapat diupayakan melalui swadaya masyarakat sedangkan program CSR lebih berguna diarahkan kepada pemberdayaan kapasitas masyarakat. Pemanfaatan kompetensi generik yang ada didalam perusahaan sebagai peran konsultansi pengembangan komunitas melalui departemen hubungan masyarakat akan berguna sebagai mitra pendamping (counter part) pemerintah dan masyarakat didalam perencanaan, komunikasi dan implementasi program CSR. Masih adanya pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan kelompok masyarakat untuk melakukan tuntutan kepada perusahaan perlu diwaspadai, hal ini dapat timbul karena mudahnya masyarakat terpancing isu karena tidak tersedianya jembatan komunikasi antara perusahaan dan masyarakat sekitar, disisi lain masalah kematangan sikap masyarakat yang masih terjerat masalah ekonomi, wawasan pendidikan dan kesehatan yang kurang memadai sehingga kurang mampu membedakan masalah kepentingan pribadi/kelompok dengan kepentingan bersama. Program-program CSR yang menitik-beratkan kepada pemberdayaan masyarakat akhirnya menjadi kurang begitu populer bagi masyarakat yang belum terpenuhinya kebutuhan dasar sosial yang menjadi tanggung jawab pemerintah dan peran swadaya masyarakat.
Untuk mengatasi hal diatas, penyusunan program bersama ini menjadi tantangan bersama antara perusahaan, masyarakat, pemerintah setempat dan pihak-pihak terkait agar perumusan program CSR dapat diketahui, dipahami dan dapat dikembangkan lebih baik lagi. Upaya program CSR yang masuk kepada kebutuhan dasar sosial seperti pendidikan/pelatihan, kapasitas ekonomi dan kondisi kesehatan adalah merupakan pondasi awal pemberdayaan kapasitas masyarakat namun masih menyisakan pekerjaan rumah yang besar yaitu bagaimana masyarakat dapat melanjutkan program-program tersebut sendiri secara swadaya dan berkelanjutan (sustainable). Sebuah model pemberdayaan masyarakat pada suatu lokasi akan berbeda-beda sesuai dengan kondisi yang ada dan apa yang akan dicapai dimasa datang, perumusan model secara bersama-sama diharapkan dapat mewujudkan partisipasi dan komitmen untuk mencapai sasaran program CSR sehingga kepentingan bersama dapat didefinisikan secara jelas. Pelaksanaan perumusan model secara bersama diharapkan menghindari program tumpang tindih antara program CSR dengan program pemerintah yang sama-sama ditujukan untuk layanan publik/sosial, sehingga program CSR bila didesain sinergis dengan program pemerintah setempat dan peran swadaya masyarakat diharapkan saling mengisi dan melengkapi. Tahapan selanjutnya didalam implementasi model adalah penyusunan peta jalan pencapaian sasaran dimana setiap titik (milestone) memiliki ukuran keberhasilan yang memenuhi kriteria SMART (spesifik, measureable, achievable, realistic, timely). Setiap pergerakan titik didalam peta jalan harus mengkaji penyerapan sumber daya (resources profile), keterlibatan sumber pendukung (supporting agents) dan resiko-resiko yang muncul (risk analysis).
Sebagai contoh pemberdayaan kesehatan masyarakat yaitu masih perlunya perhatian pada pos kesehatan desa/poskesdes (unit sarana penunjang puskesmas) yang berada pada lokasi sangat terpencil dimana sarana dan prasarana sangat terbatas dan kurangnya kompetensi medis namun merupakan wilayah usaha perusahaan. Rancang bangun program CSR perusahaan, peran dan alokasi anggaran pemerintah setempat dan peran swadaya masyarakat bagi pemberdayaan poskesdes dapat saling melengkapi baik sarana fisik, pematangan kompetensi, program kesehatan termasuk sangat pentingnya aspek monitoring dan evaluasi program CSR. Monitoring dan evaluasi merupakan bagian umpan balik proses dalam bentuk koreksi dan pengawasan agar tahapan pencapaian kemajuan dapat diketahui. Seringkali data kesehatan pada tingkat puskesmas/poskesdes relatip sulit diperoleh secara lengkap dan up to date apalagi daerah terpencil, padahal proses monitoring dan evaluasi membutuhkan basis data yang memadai. Alangkah baiknya konsep JARDIKNAS melalui internet dapat diterapkan pula pada jaringan kesehatan misalnya disebut JARKESNAS sehingga teknologi digital dan komunikasi dapat dimanfaatkan secara maksimal bagi kebutuhan data kesehatan. Sebagai ilustrasi pembagian peran didalam pemberdayaan poskesdes misalnya peran pemerintah berupa penyediaan sarana fisik, swadaya masyarakat berupa prasarana penunjang antara lain sarana komunikasi dan sosialisasi program kesehatan, dan peran perusahaan berupa program CSR bisa dalam bentuk penyediaan obat-obatan generik dan pelatihan kompetensi tenaga kesehatan melalui pelatihan, pemagangan dan sertifikasi keahlian. Strategi induk nasional dibidang kesehatan (grand strategy) yaitu mencapai Indonesia Sehat harus diawali dari kemampuan poskesdes dan tentunya juga puskesmas untuk bangkit mewujudkan tahapan melalui desa siaga menuju desa sehat sebagai syarat kota/kabupaten/propinsi sehat. Revitalisasi puskesmas milik pemerintah dan poskesdes hasil swadaya masyarakat dengan dukungan program CSR diharapkan menjadi simpul-simpul deteksi dini (early warning system) masalah gizi buruk, autisme, penyakit epidemi, penyakit 10 terbesar dan lainnya yang menjadi masukan bagi tindakan dan kebijakan pada tingkat kota/kabupaten, propinsi dan nasional. Investasi pembangunan rumah sakit memang perlu namun pertimbangan optimalisasi kapasitas layanan kesehatan dan perluasan serta revitalisasi jaringan kesehatan (poskesdes dan puskesmas) tentunya merupakan prioritas yang perlu dikaji mengingat sumber dana pembangunan yang relatip terbatas. Akhirnya, bagaimana wujud peran program CSR saat ini dan mendatang kembali kepada kita didalam memaknainya apakah kita memandang sebagai obat penawar rasa sakit atau vitamin pendorong vitalitas. Tentunya harapan kita program CSR mampu memberikan revitalisasi masyarakat tidak sekedar memenuhi kebutuhan masyarakat saat ini atau ibarat orang sakit yang diberikan obat, namun lebih dari itu ibarat orang sehat yang diberi vitamin bagi vitalitas.
Disamping menghadapi kondisi diatas, perusahaan tidak lepas dari motif ekonomi yaitu upaya perusahaan mencapai titik impas bisnis untuk mencapai profit, yang kenyataan tidak selalu mencukupi apa yang menjadi tuntutan masyarakat tersebut karena itu perlunya kompensasi biaya sosial dimasukkan didalam perhitungan Break Event Point (BEP). Permasalahannya bagi perusahaan-perusahaan yang masih bergulat dengan margin tipisnya BEP untuk jenis karakteristik industri tertentu seperti garmen, percetakan dan lainnya merasakan bahwa program sosial merupakan beban dibandingkan manfaat bagi perusahaan. Dengan adanya gejolak tuntutan masyarakat, perusahaan terpaksa menjalankan program sehingga terdapat kesan terlambat dan tidak terprogram. Propinsi Kalimantan Timur yang kaya migas dan tambang umumnya merupakan perusahaan yang dalam jangka panjang diprediksi mampu melalui cost recovery sehingga tidak berada pada area margin tipisnya BEP dan diharapkan menjadi pendorong program CSR bagi masyarakat khususnya masyarakat sekitar lokasi usaha. Usaha memenuhi kebutuhan tenaga lokal setempat dipandang sebagai upaya CSR dapat dipahami sebagai kepedulian namun demikian kompetensi tenaga kerja harus tetap diperhatikan.
Jumlah perusahaan yang melaksanakan kegiatan sektor migas dan tambang semakin meningkat seiring dengan ditemukannya area pertambangan atau eksplorasi baru, akhirnya memiliki dampak ganda (multiplier effect) dari usaha migas dan tambang yaitu meningkatnya pula perusahaan penunjang (services company) baik jenis maupun jumlahnya termasuk mobilisasi karyawannya secara total bahkan bisa lebih besar dari yang ada di perusahaan inti industri (migas dan tambang). Mobilisasi jenis industri ini merupakan suatu kelebihan dibandingkan daerah lain, apabila dapat dimanfaatkan secara optimal maka program CSR menjadi jembatan bagi upaya pengembangan masyarakat antara semua pihak baik pemerintah setempat, perusahaan dan masyarakat. Jembatan (bridging sources) yang dibangun sebaiknya tidak hanya sekedar ajang komunikasi dan program sesaat tetapi lebih menyentuh kepada penguatan kapasitas masyarakat (capacity building) melalui kajian dan integrasi dimensi sendi-sendi kehidupan pokok masyarakat antara lain pendidikan & pelatihan, kesehatan, usaha wirausaha mikro, dan kepedulian lingkungan. Pengembangan kapasitas masyarakat harus didasari kepada sasaran utama program bahwa kemandirian komunitas (self sustainable) menjadi tujuan akhir program CSR. Bilamana prediksi pesimis habisnya migas dan tambang 50 tahun lagi, maka peran aktif industri migas dan tambang guna perubahan masyarakat di Propinsi Kalimantan Timur diharapkan dapat menjadi kesempatan momentum peletakan dasar-dasar keunggulan industri non migas dan pengembangan masyarakat (community development) selama 50 tahun untuk menjadi masyarakat maju (developing society) pada saat kekayaan migas dan tambang telah habis. Suatu lompatan perubahan masyarakat (leave frog) dalam jangka waktu tersebut masih memungkinkan tentunya tanpa meninggalkan jati diri bangsa, apalagi akses teknologi digital dan komunikasi yang demikian pesat didalam kehidupan masyarakat dapat dioptimalkan bagi program CSR. Perumusan visi pembangunan berbasis pada pengembangan masyarakat dan budaya lingkungan diharapkan menjadi acuan dan segera disusun langkah kongkrit (action plans) tidak sekedar diatas kertas seminar/simposium dan acara seremonial sehingga semangat visi tersebut luntur dan tidak jelasnya arah program seiring dengan berjalannya waktu.
Pengembangan sektor non migas yang saat ini dinilai unggul di suatu daerah Kalimantan Timur belum tentu menjadi unggulan strategis di masa datang bahkan mungkin menjadi suatu sektor generik yang tidak memiliki keunggulan komparatif (comparative advantage) atau bahkan keunggulan kompetitif (competitive advantage), namun demikian yang jelas-jelas menjadi faktor keunggulan kompetitif setiap bangsa sepanjang masa adalah faktor sumber daya manusia sebagai suprastruktur penggerak keunggulan yang bersifat statis (infrastruktur, sistem kerja, dll). Bagaimana perubahan tersebut dapat mendorong bangsanya untuk berniat, bersikap dan bertindak menjadi bangsa terbaik di percaturan dunia tentunya sumbangsih melalui tumpuan program CSR yang tersusun secara sistematik, terpadu, terukur, berjangka waktu panjang dengan komitmen bersama diharapkan memberikan perubahan lebih baik bagi masyarakat khususnya masyarakat setempat. Suatu contoh menarik dan berhasil dari wujud CSR sejak tahun 1990-an di Kawasan Industri Batam dengan karakteristik padat industri, pemerintah/otorita setempat menyediakan sarana fisik sekolah menengah kejuruan (SMK) sedangkan perusahaan secara sukarela sesuai jenis keahlian yang dibutuhkan sekolah menyediakan prasarana peralatan, tenaga instruktur terlatih, dan kurikulum lokal termasuk bekal bahasa asing serta bantuan beasiswa bagi siswa berprestasi. Bantuan program asing (technical assistance) untuk menyempurnakan kurikulum dalam bentuk standar kompetensi keahlian telah dikenal sejak lama sebelum kurikulum berbasis kompetensi mulai diterapkan secara nasional. Hasil simboisis mutualisma dalam kerangka CSR berupa lulusan lokal yang diharapkan mampu bekerja di kawasan industri tersebut dengan standar kompetensi industri yang up to date dan memahami mesin/peralatan yang digunakan industri sangat berguna bagi pemerintah setempat, pengusaha dan masyarakat.
Suatu asumsi bahwa keberadaan program CSR merupakan syarat perlu bagi perusahaan untuk menjaga hubungan (maintenance forces) dengan pihak-pihak yang berkepentingan harus diubah menjadi syarat mutlak agar melalui program ini memiliki manfaat bagi perubahan masyarakat. Bentuk perubahan masyarakat ini dapat diawali dengan perubahan pola pikir, pola sikap dan pola tindak meliputi ekonomi, sosial dan budaya yang lebih baik. Sangat disayangkan bahwa tidak semua program CSR ini mampu mengikat (bonding agent) dengan kemampuan untuk mendorong perubahan masyarakat, kenyataannya merupakan program reaktif berdasarkan kondisi yang ada sebagai contoh bentuk pelaksanaan bakti sosial (bibir sumbing, sunatan, pengobatan gratis, donor darah, katarak dll), permintaan sponsor acara, penyuluhan dan lain-lain atau kegiatan yang terkait dengan acara perusahaan. Salah satu bagian penting dari upaya perubahan masyarakat adalah penyusunan program tidak hanya didasarkan kepada kondisi yang telah berjalan (existing situation) tetapi perlunya melakukan teroboson pemikiran melalui inovasi program CSR yang dituangkan didalam model pemberdayaan masyarakat (modelling) dan dilengkapi peta jalan (road map) serta ukuran evaluasi kinerja yang jelas. Penerapan pada saat-saat awal program CSR akan menghadapi berbagai tantangan dan kendala, namun seiring manfaat dapat dirasakan maka penerimaan masyarakat terhadap program CSR akan mendorong percepatan implementasi tahap selanjutnya. Diakui bahwa program pemberdayaan masyarakat masih menjadi bagian tanggung jawab pemerintah, namun dengan semakin kompleksnya masalah masyarakat dan kondisi lambannya birokrasi pemerintah didalam merespon tuntutan masyarakat, tidak salahnya program CSR menjadi peran aktif dan sukarela perusahaan bagi upaya mengentaskan kemiskinan, meningkatkan derajat kualitas hidup masyarakat dan terjadinya perubahan pada masyarakat seperti diuraikan diatas. Penghargaan (community award), regulasi dan dukungan pemerintah didalam program CSR sangat dibutuhkan agar program CSR ini dapat dilaksanakan secara efektif mampu membantu pemerintah dan berkontribusi bagi masyarakat setempat.
Pandangan masyarakat bahwa program CSR sebagai kegiatan sosial perusahaan tidak dapat disalahkan namun keberadaan program CSR ini jika tidak melibatkan partisipasi masyarakat pada saat awal (bottom up process) dikhawatirkan tidak mengenali secara spesifik kebutuhan dan keinginan masyarakat. Sebaliknya, program CSR yang selalu menuruti kehendak masyarakat malah menjerumuskan masyarakat kepada ketergantungan yang terus menerus jika dominasi pemikiran masyarakat setempat masih terbatas kepada kebutuhan sesaat. Hal ini dapat disebabkan karena ketidakmampuan masyarakat mengenali kebutuhan utama dan kemudian menyusun program jangka panjang dengan sasaran yang jelas, sebagai contoh masih ada proposal masyarakat yang menginginkan perbaikan sarana fisik, padahal perbaikan sarana fisik dapat diupayakan melalui swadaya masyarakat sedangkan program CSR lebih berguna diarahkan kepada pemberdayaan kapasitas masyarakat. Pemanfaatan kompetensi generik yang ada didalam perusahaan sebagai peran konsultansi pengembangan komunitas melalui departemen hubungan masyarakat akan berguna sebagai mitra pendamping (counter part) pemerintah dan masyarakat didalam perencanaan, komunikasi dan implementasi program CSR. Masih adanya pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan kelompok masyarakat untuk melakukan tuntutan kepada perusahaan perlu diwaspadai, hal ini dapat timbul karena mudahnya masyarakat terpancing isu karena tidak tersedianya jembatan komunikasi antara perusahaan dan masyarakat sekitar, disisi lain masalah kematangan sikap masyarakat yang masih terjerat masalah ekonomi, wawasan pendidikan dan kesehatan yang kurang memadai sehingga kurang mampu membedakan masalah kepentingan pribadi/kelompok dengan kepentingan bersama. Program-program CSR yang menitik-beratkan kepada pemberdayaan masyarakat akhirnya menjadi kurang begitu populer bagi masyarakat yang belum terpenuhinya kebutuhan dasar sosial yang menjadi tanggung jawab pemerintah dan peran swadaya masyarakat.
Untuk mengatasi hal diatas, penyusunan program bersama ini menjadi tantangan bersama antara perusahaan, masyarakat, pemerintah setempat dan pihak-pihak terkait agar perumusan program CSR dapat diketahui, dipahami dan dapat dikembangkan lebih baik lagi. Upaya program CSR yang masuk kepada kebutuhan dasar sosial seperti pendidikan/pelatihan, kapasitas ekonomi dan kondisi kesehatan adalah merupakan pondasi awal pemberdayaan kapasitas masyarakat namun masih menyisakan pekerjaan rumah yang besar yaitu bagaimana masyarakat dapat melanjutkan program-program tersebut sendiri secara swadaya dan berkelanjutan (sustainable). Sebuah model pemberdayaan masyarakat pada suatu lokasi akan berbeda-beda sesuai dengan kondisi yang ada dan apa yang akan dicapai dimasa datang, perumusan model secara bersama-sama diharapkan dapat mewujudkan partisipasi dan komitmen untuk mencapai sasaran program CSR sehingga kepentingan bersama dapat didefinisikan secara jelas. Pelaksanaan perumusan model secara bersama diharapkan menghindari program tumpang tindih antara program CSR dengan program pemerintah yang sama-sama ditujukan untuk layanan publik/sosial, sehingga program CSR bila didesain sinergis dengan program pemerintah setempat dan peran swadaya masyarakat diharapkan saling mengisi dan melengkapi. Tahapan selanjutnya didalam implementasi model adalah penyusunan peta jalan pencapaian sasaran dimana setiap titik (milestone) memiliki ukuran keberhasilan yang memenuhi kriteria SMART (spesifik, measureable, achievable, realistic, timely). Setiap pergerakan titik didalam peta jalan harus mengkaji penyerapan sumber daya (resources profile), keterlibatan sumber pendukung (supporting agents) dan resiko-resiko yang muncul (risk analysis).
Sebagai contoh pemberdayaan kesehatan masyarakat yaitu masih perlunya perhatian pada pos kesehatan desa/poskesdes (unit sarana penunjang puskesmas) yang berada pada lokasi sangat terpencil dimana sarana dan prasarana sangat terbatas dan kurangnya kompetensi medis namun merupakan wilayah usaha perusahaan. Rancang bangun program CSR perusahaan, peran dan alokasi anggaran pemerintah setempat dan peran swadaya masyarakat bagi pemberdayaan poskesdes dapat saling melengkapi baik sarana fisik, pematangan kompetensi, program kesehatan termasuk sangat pentingnya aspek monitoring dan evaluasi program CSR. Monitoring dan evaluasi merupakan bagian umpan balik proses dalam bentuk koreksi dan pengawasan agar tahapan pencapaian kemajuan dapat diketahui. Seringkali data kesehatan pada tingkat puskesmas/poskesdes relatip sulit diperoleh secara lengkap dan up to date apalagi daerah terpencil, padahal proses monitoring dan evaluasi membutuhkan basis data yang memadai. Alangkah baiknya konsep JARDIKNAS melalui internet dapat diterapkan pula pada jaringan kesehatan misalnya disebut JARKESNAS sehingga teknologi digital dan komunikasi dapat dimanfaatkan secara maksimal bagi kebutuhan data kesehatan. Sebagai ilustrasi pembagian peran didalam pemberdayaan poskesdes misalnya peran pemerintah berupa penyediaan sarana fisik, swadaya masyarakat berupa prasarana penunjang antara lain sarana komunikasi dan sosialisasi program kesehatan, dan peran perusahaan berupa program CSR bisa dalam bentuk penyediaan obat-obatan generik dan pelatihan kompetensi tenaga kesehatan melalui pelatihan, pemagangan dan sertifikasi keahlian. Strategi induk nasional dibidang kesehatan (grand strategy) yaitu mencapai Indonesia Sehat harus diawali dari kemampuan poskesdes dan tentunya juga puskesmas untuk bangkit mewujudkan tahapan melalui desa siaga menuju desa sehat sebagai syarat kota/kabupaten/propinsi sehat. Revitalisasi puskesmas milik pemerintah dan poskesdes hasil swadaya masyarakat dengan dukungan program CSR diharapkan menjadi simpul-simpul deteksi dini (early warning system) masalah gizi buruk, autisme, penyakit epidemi, penyakit 10 terbesar dan lainnya yang menjadi masukan bagi tindakan dan kebijakan pada tingkat kota/kabupaten, propinsi dan nasional. Investasi pembangunan rumah sakit memang perlu namun pertimbangan optimalisasi kapasitas layanan kesehatan dan perluasan serta revitalisasi jaringan kesehatan (poskesdes dan puskesmas) tentunya merupakan prioritas yang perlu dikaji mengingat sumber dana pembangunan yang relatip terbatas. Akhirnya, bagaimana wujud peran program CSR saat ini dan mendatang kembali kepada kita didalam memaknainya apakah kita memandang sebagai obat penawar rasa sakit atau vitamin pendorong vitalitas. Tentunya harapan kita program CSR mampu memberikan revitalisasi masyarakat tidak sekedar memenuhi kebutuhan masyarakat saat ini atau ibarat orang sakit yang diberikan obat, namun lebih dari itu ibarat orang sehat yang diberi vitamin bagi vitalitas.
Senin, 04 Oktober 2010
KEKERASAN BUKAN KEGEMARAN ORANG BATAK
Oleh JANSEN H. SINAMO, dimuat di Harian KOMPAS, 7 Januari 2009
BERITA politik paling heboh pekan ini tentulah unjuk rasa keras yang berlangsung brutal di katedral politik Sumatera Utara yang berujung pada tewasnya Abdul Aziz Angkat, ketua DPRD provinsi yang berpenduduk multietnik itu.
Tak bisa lain, satu kesan sisa yang menonjol adalah: Batak itu memang keras. Di milis Forum Pembaca Kompas – yang beranggota hampir sepuluh ribu itu – seorang warganya menulis begini, “Sebagai orang yang dibesarkan di kota Medan, saya merasa malu. Apalagi kejadian pilu ini terkait dengan pembentukan Provinsi Tapanuli. Saya sangat malu sebagai suku Batak!”
Orang Batak memang jadi terdakwa dalam insiden ini, apa boleh buat. Namun tidak banyak orang tahu, sang korban sebenarnya adalah juga orang Batak, berasal dari rumpun sub-etnik Pakpak. Marga-marga Pakpak seperti Angkat, Bintang, Gajah, Padang, Sinamo, Tumanggor, dan masih banyak lagi, hampir tidak dikenal sebagai marga-marga Batak seperti yang telah tenar lebih dulu dari rumpun Batak lain seperti Sitorus, Sihombing, Sembiring, Pohan, Panggabean, Panjaitan, Silalahi, Siregar, atau Saragih.
Perlu segera ditegaskan, kekerasan bukanlah kegemaran khusus orang Batak, dan bukan pula ciri khasnya. Semua kaum, suku, dan bangsa pernah melakukannya: di Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Papua, bahkan di semua penjuru benua dan pelosok dunia, seperti di istana raja-raja Persia, kaisar-kaisar Romawi, prabu-prabu Singosari – ingat misalnya hikayat keris Mpu Gandring – dan sultan-sultan Mataram kuno. Barangkali cuma di benua Antartika tak ada aksi kekerasan. Dan itu jelas karena manusia apalagi keraton tidak ada di sana.
Jalan Kekerasan Tetap Digemari
KEKERASAN sebagai metode mewujudkan kehendak telah dipraktikkan manusia sejak purbakala dengan sokongan ilmu dan teknologi zamannya. Meski dewasa ini kekerasan dianggap sebagai sangat buruk, dan karena itu harus dijauhi, sebab jika tidak akan dicela dan dihakimi keras oleh masyarakat beradab, tetapi nyatanya kekerasan memang membawa nikmat bagi pelakunya. Juga, jalan kekerasan terlihat sangat praktis, instan dan ekonomis, serta membawa hasil besar secara efektif. Tidak heran Brutus melakukannya terhadap Caesar di Roma, Ken Arok terhadap Tunggul Ametung di Tumapel, dan Suharto di Aceh, Papua, dan Buru. Amerika pun melakukannya di Iran, Irak, dan Afganistan; Israel di Gaza, Tepi Barat, dan Libanon; dan pekan ini pendukung bakal Provinsi Tapanuli di kantor DPRD Sumatera Utara. Bisa diduga, kita masih akan terus menyaksikan aksi-aksi kekerasan di berbagai panggung kehidupan, dari skala kecil sampai kolosal, oleh aktor-aktor individual maupun satuan-satuan resmi nasional.
Persaingan adalah mulanya, konflik kepentingan adalah arenanya, dan perwujudan niat menguasai adalah cita-cita ultimatnya. Sudah niscaya selalu ada pihak yang tersisih, kalah, terluka, hilang atau mati. Tetapi korban-korban itu selalu dianggap wajar belaka, memang sudah seharusnya demikian, dan karenanya baiklah diabaikan atau dilupakan begitu saja.
Pada saat yang sama, pihak pelaku kekerasan, apalagi jika hasilnya besar, selain memperoleh kenikmatan intrinsik yang hebat — perhatikan misalnya ekspresi puas wajah-wajah para pendemo saat berhasil menjebol gerbang, mengobrak-abrik ruang sidang, atau meninju wajah Aziz Angkat — oleh kaumnya akan dielu-elukan sebagai pahlawan, diberi legitimasi legal, dihadiahi berbagai privilese, serta dikukuhkan posisinya dalam panteon sosial mereka.
Saat di zaman mutakhir ini, meminjam istilah Thomas L. Friedman, dunia sudah semakin datar – ketika peristiwa-peristiwa kekerasan bisa ditonton lalu diskusikan lewat televisi layar datar – maka kita pun meniru dan mempelajari kekerasan itu, tidak saja caranya dan tekniknya, tetapi juga nafsunya dan motivasinya, sekaligus dan serentak. Demikianlah etos kekerasan merambah makin luas dan berakar makin dalam di seluruh dunia. Tinggal menunggu momen ledak yang pas. Disederhanakan, kira-kira begitulah keterangan Rene Girard, sejarawan dan filsuf kondang kelahiran Avignon, Prancis, tentang situasi dan dinamika kekerasan dewasa ini dalam sejarah kontemporer kita.
Pancaroba Demokrasi
DEMOKRASI sebagai sebagai suatu sistem, prinsip, proses dan prosedur sesungguhnya tidaklah asing bagi orang Batak sejak zaman pra-kolonial. Bahkan di zaman Orde Baru yang sistem politik nasionalnya tidak demokratis, di tingkat adatnya orang Batak tetap saja bergaya demokratis. Tatkala kesempatan membentuk Provinsi Tapanuli terbuka lebar sedekade lalu bersamaan dengan tumbangnya Orde Baru, antusiasme besar segera saja melanda sebagian elit dan warga eks karesidenan Tapanuli zaman Belanda.
Tetapi warga wilayah itu ternyata sudah banyak berubah: semakin kompleks, semakin sadar kelompok, dan semakin berbeda kepentingan maupun orientasi politiknya. Ditambah dengan belum matangnya demokrasi republik beserta semua perangkat pendukungnya di musim pancaroba era reformasi ini, provinsi yang didamba-dambakan itu tidak juga terbentuk sesudah menghabiskan begitu banyak waktu, tenaga, dan ongkos, akhirnya melahirkan rasa frustrasi yang berujung pada amuk massa. Itulah yang terjadi hari Selasa lalu di Medan.
Namun ini tetap tak bisa diterima, demokrasi yang diniatkan sebagai sistem untuk lebih mengadabkan perilaku negara dan warganya, hanya bisa terwujud melalui jalan hukum yang tegas. Ya, hukum harus ditegakkan! Siapapun yang melanggar atau mengabaikan hukum Selasa lalu harus diproses secara hukum pula.
Hati Rinto Membuka Jalan Damai
KETIKA di tahun 80-an film laga seri Rambo mencuat terkenal yang berkoinsidensi dengan populernya lagu-lagu karangan Rinto Harahap, entah dari mana asalnya, muncullah ungkapan kocak, tampang Rambo hati Rinto, untuk menggambarkan dualitas karakter orang Batak. Tampang dan suara orang Batak yang tegas dan keras itu biasa terlihat di terminal bis, metromini, kantor-kantor, termasuk gereja-gereja, tetapi di situ juga mereka tarik suara, memetik gitar, dan melantunkan kor.
Tapi dualitas semacam ini pun bukanlah monopoli orang Batak. Semua orang juga begitu: bisa keras bahkan sanggup membunuh secara sadis jika terdesak namun juga memiliki sisi yang lembut, penuh cinta, romantisme, dan puisi. Guru-guru dan ajaran-ajaran kebajikan seperti yang berasal dari Siddharta Gautama, Isa Almasih, Jalaluddin Rumi hingga Mahatma Gandhi, Bunda Teresa, dan Nelson Mandela yang telah mewarnai berbagai peradaban dan kebudayaan sejak dulu kala, juga mempengaruhi masyarakat Batak. Ini jelas tampak dalam keseniannya, tembang-tembang maupun sastranya, serta relasi-relasi interpersonalnya.
Jika berkonflik, sama seperti kelompok masyarakat lain, orang Batak juga mempunyai strategi budaya, perangkat adat, dan instrumen sosial tersendiri untuk menyelesaikannya. Yang terkenal misalnya sistem Dalihan Natolu dengan panduan sehimpunan kaidah canggih semisal ‘menjaga padi di ladang tanpa bandringan’ atau ‘menggembalakan kerbau di padang tanpa pecut’. Namun keberhasilan strategi dan aplikasi perangkat dan instrumen di atas pada akhirnya sangat tergantung pada kualitas pribadi warganya, efektivitas birokrasi organisasi-organisasinya, serta integritas prosedur dan mekanisme operasionalnya.
Kini, pasca anarki Medan, saat semua perangkat di atas diragukan keandalannya, warga Batak sebaiknya kembali berpaling kepada watak terhalusnya, mengakses kalbu terbaiknya, dan mengizinkan hati cantik itu – hati Rinto – kembali tampil mengalun dengan tembang merdu berjudul Jalan Penuh Damai Menunggumu. Horas bah. Njuah-njuah banta karina.
BERITA politik paling heboh pekan ini tentulah unjuk rasa keras yang berlangsung brutal di katedral politik Sumatera Utara yang berujung pada tewasnya Abdul Aziz Angkat, ketua DPRD provinsi yang berpenduduk multietnik itu.
Tak bisa lain, satu kesan sisa yang menonjol adalah: Batak itu memang keras. Di milis Forum Pembaca Kompas – yang beranggota hampir sepuluh ribu itu – seorang warganya menulis begini, “Sebagai orang yang dibesarkan di kota Medan, saya merasa malu. Apalagi kejadian pilu ini terkait dengan pembentukan Provinsi Tapanuli. Saya sangat malu sebagai suku Batak!”
Orang Batak memang jadi terdakwa dalam insiden ini, apa boleh buat. Namun tidak banyak orang tahu, sang korban sebenarnya adalah juga orang Batak, berasal dari rumpun sub-etnik Pakpak. Marga-marga Pakpak seperti Angkat, Bintang, Gajah, Padang, Sinamo, Tumanggor, dan masih banyak lagi, hampir tidak dikenal sebagai marga-marga Batak seperti yang telah tenar lebih dulu dari rumpun Batak lain seperti Sitorus, Sihombing, Sembiring, Pohan, Panggabean, Panjaitan, Silalahi, Siregar, atau Saragih.
Perlu segera ditegaskan, kekerasan bukanlah kegemaran khusus orang Batak, dan bukan pula ciri khasnya. Semua kaum, suku, dan bangsa pernah melakukannya: di Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Papua, bahkan di semua penjuru benua dan pelosok dunia, seperti di istana raja-raja Persia, kaisar-kaisar Romawi, prabu-prabu Singosari – ingat misalnya hikayat keris Mpu Gandring – dan sultan-sultan Mataram kuno. Barangkali cuma di benua Antartika tak ada aksi kekerasan. Dan itu jelas karena manusia apalagi keraton tidak ada di sana.
Jalan Kekerasan Tetap Digemari
KEKERASAN sebagai metode mewujudkan kehendak telah dipraktikkan manusia sejak purbakala dengan sokongan ilmu dan teknologi zamannya. Meski dewasa ini kekerasan dianggap sebagai sangat buruk, dan karena itu harus dijauhi, sebab jika tidak akan dicela dan dihakimi keras oleh masyarakat beradab, tetapi nyatanya kekerasan memang membawa nikmat bagi pelakunya. Juga, jalan kekerasan terlihat sangat praktis, instan dan ekonomis, serta membawa hasil besar secara efektif. Tidak heran Brutus melakukannya terhadap Caesar di Roma, Ken Arok terhadap Tunggul Ametung di Tumapel, dan Suharto di Aceh, Papua, dan Buru. Amerika pun melakukannya di Iran, Irak, dan Afganistan; Israel di Gaza, Tepi Barat, dan Libanon; dan pekan ini pendukung bakal Provinsi Tapanuli di kantor DPRD Sumatera Utara. Bisa diduga, kita masih akan terus menyaksikan aksi-aksi kekerasan di berbagai panggung kehidupan, dari skala kecil sampai kolosal, oleh aktor-aktor individual maupun satuan-satuan resmi nasional.
Persaingan adalah mulanya, konflik kepentingan adalah arenanya, dan perwujudan niat menguasai adalah cita-cita ultimatnya. Sudah niscaya selalu ada pihak yang tersisih, kalah, terluka, hilang atau mati. Tetapi korban-korban itu selalu dianggap wajar belaka, memang sudah seharusnya demikian, dan karenanya baiklah diabaikan atau dilupakan begitu saja.
Pada saat yang sama, pihak pelaku kekerasan, apalagi jika hasilnya besar, selain memperoleh kenikmatan intrinsik yang hebat — perhatikan misalnya ekspresi puas wajah-wajah para pendemo saat berhasil menjebol gerbang, mengobrak-abrik ruang sidang, atau meninju wajah Aziz Angkat — oleh kaumnya akan dielu-elukan sebagai pahlawan, diberi legitimasi legal, dihadiahi berbagai privilese, serta dikukuhkan posisinya dalam panteon sosial mereka.
Saat di zaman mutakhir ini, meminjam istilah Thomas L. Friedman, dunia sudah semakin datar – ketika peristiwa-peristiwa kekerasan bisa ditonton lalu diskusikan lewat televisi layar datar – maka kita pun meniru dan mempelajari kekerasan itu, tidak saja caranya dan tekniknya, tetapi juga nafsunya dan motivasinya, sekaligus dan serentak. Demikianlah etos kekerasan merambah makin luas dan berakar makin dalam di seluruh dunia. Tinggal menunggu momen ledak yang pas. Disederhanakan, kira-kira begitulah keterangan Rene Girard, sejarawan dan filsuf kondang kelahiran Avignon, Prancis, tentang situasi dan dinamika kekerasan dewasa ini dalam sejarah kontemporer kita.
Pancaroba Demokrasi
DEMOKRASI sebagai sebagai suatu sistem, prinsip, proses dan prosedur sesungguhnya tidaklah asing bagi orang Batak sejak zaman pra-kolonial. Bahkan di zaman Orde Baru yang sistem politik nasionalnya tidak demokratis, di tingkat adatnya orang Batak tetap saja bergaya demokratis. Tatkala kesempatan membentuk Provinsi Tapanuli terbuka lebar sedekade lalu bersamaan dengan tumbangnya Orde Baru, antusiasme besar segera saja melanda sebagian elit dan warga eks karesidenan Tapanuli zaman Belanda.
Tetapi warga wilayah itu ternyata sudah banyak berubah: semakin kompleks, semakin sadar kelompok, dan semakin berbeda kepentingan maupun orientasi politiknya. Ditambah dengan belum matangnya demokrasi republik beserta semua perangkat pendukungnya di musim pancaroba era reformasi ini, provinsi yang didamba-dambakan itu tidak juga terbentuk sesudah menghabiskan begitu banyak waktu, tenaga, dan ongkos, akhirnya melahirkan rasa frustrasi yang berujung pada amuk massa. Itulah yang terjadi hari Selasa lalu di Medan.
Namun ini tetap tak bisa diterima, demokrasi yang diniatkan sebagai sistem untuk lebih mengadabkan perilaku negara dan warganya, hanya bisa terwujud melalui jalan hukum yang tegas. Ya, hukum harus ditegakkan! Siapapun yang melanggar atau mengabaikan hukum Selasa lalu harus diproses secara hukum pula.
Hati Rinto Membuka Jalan Damai
KETIKA di tahun 80-an film laga seri Rambo mencuat terkenal yang berkoinsidensi dengan populernya lagu-lagu karangan Rinto Harahap, entah dari mana asalnya, muncullah ungkapan kocak, tampang Rambo hati Rinto, untuk menggambarkan dualitas karakter orang Batak. Tampang dan suara orang Batak yang tegas dan keras itu biasa terlihat di terminal bis, metromini, kantor-kantor, termasuk gereja-gereja, tetapi di situ juga mereka tarik suara, memetik gitar, dan melantunkan kor.
Tapi dualitas semacam ini pun bukanlah monopoli orang Batak. Semua orang juga begitu: bisa keras bahkan sanggup membunuh secara sadis jika terdesak namun juga memiliki sisi yang lembut, penuh cinta, romantisme, dan puisi. Guru-guru dan ajaran-ajaran kebajikan seperti yang berasal dari Siddharta Gautama, Isa Almasih, Jalaluddin Rumi hingga Mahatma Gandhi, Bunda Teresa, dan Nelson Mandela yang telah mewarnai berbagai peradaban dan kebudayaan sejak dulu kala, juga mempengaruhi masyarakat Batak. Ini jelas tampak dalam keseniannya, tembang-tembang maupun sastranya, serta relasi-relasi interpersonalnya.
Jika berkonflik, sama seperti kelompok masyarakat lain, orang Batak juga mempunyai strategi budaya, perangkat adat, dan instrumen sosial tersendiri untuk menyelesaikannya. Yang terkenal misalnya sistem Dalihan Natolu dengan panduan sehimpunan kaidah canggih semisal ‘menjaga padi di ladang tanpa bandringan’ atau ‘menggembalakan kerbau di padang tanpa pecut’. Namun keberhasilan strategi dan aplikasi perangkat dan instrumen di atas pada akhirnya sangat tergantung pada kualitas pribadi warganya, efektivitas birokrasi organisasi-organisasinya, serta integritas prosedur dan mekanisme operasionalnya.
Kini, pasca anarki Medan, saat semua perangkat di atas diragukan keandalannya, warga Batak sebaiknya kembali berpaling kepada watak terhalusnya, mengakses kalbu terbaiknya, dan mengizinkan hati cantik itu – hati Rinto – kembali tampil mengalun dengan tembang merdu berjudul Jalan Penuh Damai Menunggumu. Horas bah. Njuah-njuah banta karina.
Selasa, 02 Maret 2010
KASUS BANK CENTURY
KASUS BANK CENTURY
Misbakhun Laporkan
Andi Arif ke Mabes Polri
Rabu, 3 Maret 2010
JAKARTA (Suara Karya): Merasa dicermarkan nama baiknya, anggota DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) M Misbakhun melaporkan kasusnya ke Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri di Jakarta, Selasa (2/3).
Didampingi kuasa hukumnya, Zainudin Paru, M Misbakhun melaporkan masalah pencemaran nama baik yang dilakukan staf khusus Presiden bidang Sosial dan Bencana, Andi Arif.
"Saya melaporkan dugaan pencemaran nama baik yang diduga dilakukan Andi Arif, staf khusus Presiden. Biarkan proses hukum yang akan menyelesaikan," kata dia saat keluar dari gedung Bareskrim Polri, kemarin.
Menurut M Misbakhun, apa yang disampaikan staf khusus Presiden tersebut ke beberapa media tidak hanya mencemarkan nama baiknya, melainkan juga telah memfitnah dirinya.
"Kepada publik lewat berbagai media dia (Andi Arif) menuduh saya telah melakukan korupsi. Bahkan, saya disamakan dengan Edi Tanzil. Itu jelas merusak nama baik saya," ujar dia.
Kuasa hukum M Misbakhun, Zainudin Paru menambahkan, dalam laporannya ke Mabes Polri, pihaknya menyertakan beberapa barang bukti berupa rekaman televisi, print out media cetak dan print out media online.
"Pernyataan Andi Arif telah mencemarkan nama baik Pak Misbakhun, karena Pak Misbakhun sebagai pengusaha memiliki kredibilitas dan track record yang baik. Dia juga telah memfitnah," kata dia.
Terkait dugaan menerima fasilitas letter of credit (L/C) fiktif, Misbakhun menolak menjelaskan. Menurut dia, hal itu sudah dijelaskan oleh pihak Bank Mutiara, nama baru Bank Century.
"Soal itu sudah dijelaskan oleh Dirut Bank Mutiara sendiri, tidak benar saya terkait L/C fiktif. Silakan tanya ke Bank Mutiara," tegas dia.
Ditanya soal pajak perusahaan PT Selalang Prima Indonesia (SPI), Misbakhun menandaskan, perusahaannya itu masih beroperasi dengan normal dan tak ada masalah dengan pajak perusahaan miliknya itu.
"Kita sudah selesai. Silakan tanya dirjen pajak. Kalau soal lain, biar korporasi yang memberi jawaban," jelas dia.
Sebelumnya Andi Arief melaporkan Misbakhun soal dugaan L/CFitif itu ke Polres Jakarta Utara. (Hanif S)
Misbakhun Laporkan
Andi Arif ke Mabes Polri
Rabu, 3 Maret 2010
JAKARTA (Suara Karya): Merasa dicermarkan nama baiknya, anggota DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) M Misbakhun melaporkan kasusnya ke Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri di Jakarta, Selasa (2/3).
Didampingi kuasa hukumnya, Zainudin Paru, M Misbakhun melaporkan masalah pencemaran nama baik yang dilakukan staf khusus Presiden bidang Sosial dan Bencana, Andi Arif.
"Saya melaporkan dugaan pencemaran nama baik yang diduga dilakukan Andi Arif, staf khusus Presiden. Biarkan proses hukum yang akan menyelesaikan," kata dia saat keluar dari gedung Bareskrim Polri, kemarin.
Menurut M Misbakhun, apa yang disampaikan staf khusus Presiden tersebut ke beberapa media tidak hanya mencemarkan nama baiknya, melainkan juga telah memfitnah dirinya.
"Kepada publik lewat berbagai media dia (Andi Arif) menuduh saya telah melakukan korupsi. Bahkan, saya disamakan dengan Edi Tanzil. Itu jelas merusak nama baik saya," ujar dia.
Kuasa hukum M Misbakhun, Zainudin Paru menambahkan, dalam laporannya ke Mabes Polri, pihaknya menyertakan beberapa barang bukti berupa rekaman televisi, print out media cetak dan print out media online.
"Pernyataan Andi Arif telah mencemarkan nama baik Pak Misbakhun, karena Pak Misbakhun sebagai pengusaha memiliki kredibilitas dan track record yang baik. Dia juga telah memfitnah," kata dia.
Terkait dugaan menerima fasilitas letter of credit (L/C) fiktif, Misbakhun menolak menjelaskan. Menurut dia, hal itu sudah dijelaskan oleh pihak Bank Mutiara, nama baru Bank Century.
"Soal itu sudah dijelaskan oleh Dirut Bank Mutiara sendiri, tidak benar saya terkait L/C fiktif. Silakan tanya ke Bank Mutiara," tegas dia.
Ditanya soal pajak perusahaan PT Selalang Prima Indonesia (SPI), Misbakhun menandaskan, perusahaannya itu masih beroperasi dengan normal dan tak ada masalah dengan pajak perusahaan miliknya itu.
"Kita sudah selesai. Silakan tanya dirjen pajak. Kalau soal lain, biar korporasi yang memberi jawaban," jelas dia.
Sebelumnya Andi Arief melaporkan Misbakhun soal dugaan L/CFitif itu ke Polres Jakarta Utara. (Hanif S)
KASUS BANK CENTURY
KASUS BANK CENTURY
Misbakhun Laporkan
Andi Arif ke Mabes Polri
Rabu, 3 Maret 2010
JAKARTA (Suara Karya): Merasa dicermarkan nama baiknya, anggota DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) M Misbakhun melaporkan kasusnya ke Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri di Jakarta, Selasa (2/3).
Didampingi kuasa hukumnya, Zainudin Paru, M Misbakhun melaporkan masalah pencemaran nama baik yang dilakukan staf khusus Presiden bidang Sosial dan Bencana, Andi Arif.
"Saya melaporkan dugaan pencemaran nama baik yang diduga dilakukan Andi Arif, staf khusus Presiden. Biarkan proses hukum yang akan menyelesaikan," kata dia saat keluar dari gedung Bareskrim Polri, kemarin.
Menurut M Misbakhun, apa yang disampaikan staf khusus Presiden tersebut ke beberapa media tidak hanya mencemarkan nama baiknya, melainkan juga telah memfitnah dirinya.
"Kepada publik lewat berbagai media dia (Andi Arif) menuduh saya telah melakukan korupsi. Bahkan, saya disamakan dengan Edi Tanzil. Itu jelas merusak nama baik saya," ujar dia.
Kuasa hukum M Misbakhun, Zainudin Paru menambahkan, dalam laporannya ke Mabes Polri, pihaknya menyertakan beberapa barang bukti berupa rekaman televisi, print out media cetak dan print out media online.
"Pernyataan Andi Arif telah mencemarkan nama baik Pak Misbakhun, karena Pak Misbakhun sebagai pengusaha memiliki kredibilitas dan track record yang baik. Dia juga telah memfitnah," kata dia.
Terkait dugaan menerima fasilitas letter of credit (L/C) fiktif, Misbakhun menolak menjelaskan. Menurut dia, hal itu sudah dijelaskan oleh pihak Bank Mutiara, nama baru Bank Century.
"Soal itu sudah dijelaskan oleh Dirut Bank Mutiara sendiri, tidak benar saya terkait L/C fiktif. Silakan tanya ke Bank Mutiara," tegas dia.
Ditanya soal pajak perusahaan PT Selalang Prima Indonesia (SPI), Misbakhun menandaskan, perusahaannya itu masih beroperasi dengan normal dan tak ada masalah dengan pajak perusahaan miliknya itu.
"Kita sudah selesai. Silakan tanya dirjen pajak. Kalau soal lain, biar korporasi yang memberi jawaban," jelas dia.
Sebelumnya Andi Arief melaporkan Misbakhun soal dugaan L/CFitif itu ke Polres Jakarta Utara. (Hanif S)
Misbakhun Laporkan
Andi Arif ke Mabes Polri
Rabu, 3 Maret 2010
JAKARTA (Suara Karya): Merasa dicermarkan nama baiknya, anggota DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) M Misbakhun melaporkan kasusnya ke Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri di Jakarta, Selasa (2/3).
Didampingi kuasa hukumnya, Zainudin Paru, M Misbakhun melaporkan masalah pencemaran nama baik yang dilakukan staf khusus Presiden bidang Sosial dan Bencana, Andi Arif.
"Saya melaporkan dugaan pencemaran nama baik yang diduga dilakukan Andi Arif, staf khusus Presiden. Biarkan proses hukum yang akan menyelesaikan," kata dia saat keluar dari gedung Bareskrim Polri, kemarin.
Menurut M Misbakhun, apa yang disampaikan staf khusus Presiden tersebut ke beberapa media tidak hanya mencemarkan nama baiknya, melainkan juga telah memfitnah dirinya.
"Kepada publik lewat berbagai media dia (Andi Arif) menuduh saya telah melakukan korupsi. Bahkan, saya disamakan dengan Edi Tanzil. Itu jelas merusak nama baik saya," ujar dia.
Kuasa hukum M Misbakhun, Zainudin Paru menambahkan, dalam laporannya ke Mabes Polri, pihaknya menyertakan beberapa barang bukti berupa rekaman televisi, print out media cetak dan print out media online.
"Pernyataan Andi Arif telah mencemarkan nama baik Pak Misbakhun, karena Pak Misbakhun sebagai pengusaha memiliki kredibilitas dan track record yang baik. Dia juga telah memfitnah," kata dia.
Terkait dugaan menerima fasilitas letter of credit (L/C) fiktif, Misbakhun menolak menjelaskan. Menurut dia, hal itu sudah dijelaskan oleh pihak Bank Mutiara, nama baru Bank Century.
"Soal itu sudah dijelaskan oleh Dirut Bank Mutiara sendiri, tidak benar saya terkait L/C fiktif. Silakan tanya ke Bank Mutiara," tegas dia.
Ditanya soal pajak perusahaan PT Selalang Prima Indonesia (SPI), Misbakhun menandaskan, perusahaannya itu masih beroperasi dengan normal dan tak ada masalah dengan pajak perusahaan miliknya itu.
"Kita sudah selesai. Silakan tanya dirjen pajak. Kalau soal lain, biar korporasi yang memberi jawaban," jelas dia.
Sebelumnya Andi Arief melaporkan Misbakhun soal dugaan L/CFitif itu ke Polres Jakarta Utara. (Hanif S)
10 ALASAN MENCINTAIMU
10 Alasan Mencintaimu
Aku butuh teman untuk melalui
Aku butuh kawan untuk berbagi
Aku butuh bayangan untuk mengikuti
Aku butuh mentari untuk menerangi
Aku butuh air untuk menyirami
Aku butuh pohon untuk meneduhi
Aku butuh pagi setelah gelap hari
Aku butuh tempat untuk kudiami
Aku butuh tersenyum setelah bersedih
Aku butuh hati untuk disayangi
Untuk itulah kuingin kau tetap disini
Hingga kelak kujadikan seorang istri
Referensi :
• berjudul 10 Alasan Mencintaimu ini ditulis oleh Kenzt pada 20th, 2008.
• http://www.anggrekbiru.com/alasan-mencintaimu.html
Aku butuh teman untuk melalui
Aku butuh kawan untuk berbagi
Aku butuh bayangan untuk mengikuti
Aku butuh mentari untuk menerangi
Aku butuh air untuk menyirami
Aku butuh pohon untuk meneduhi
Aku butuh pagi setelah gelap hari
Aku butuh tempat untuk kudiami
Aku butuh tersenyum setelah bersedih
Aku butuh hati untuk disayangi
Untuk itulah kuingin kau tetap disini
Hingga kelak kujadikan seorang istri
Referensi :
• berjudul 10 Alasan Mencintaimu ini ditulis oleh Kenzt pada 20th, 2008.
• http://www.anggrekbiru.com/alasan-mencintaimu.html
KEPRIBADIAN DAN GAYA HIDUP MANUSIA
KEPRIDADIAN DAN GAYA HIDUP MANUSIA
Kepribadian Manusia
Kepribadian yang kita bicarakan di sini adalah suatu karakter/corak kehidupan yang ada pada diri seseorang. Kepribadian adalah sesuatu yang memberi ciri khas bagi pemiliknya, yang membedakannya dengan orang lain. Maka, kita bisa melihat penampakan kepribadian yang ada pada diri manusia itu dari luar, berupa perbuatan-perbuatan fisik maupun sikap-sikap mental yang ditampakkannya secara konstan dalam kehidupan kesehariannya. Kita bisa mengenali mana orang yang baik dan mana orang yang jahat dari tingkah laku yang dijalankannya dan sikap mental yang ditampakkannya. Kita bisa mempersepsikan mana orang yang terhormat dan mana orang yang hina dari berbagai sikap dan omongan yang ditampilkannya secara ajeg (tetap). Lebih dari itu, dari pola keseharian yang tampak pada diri seseorang, kita bisa menebak "haluan pemikiran" yang dia anut. Maka kita bisa mengdentifikasi mana orang yang berpikiran islami, mana orang yang berhaluan liberal, mana orang yang berhaluan sosialis, dan mana orang yang tidak punya haluan.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: "kenapa penampakan kepribadian manusia itu berbeda-beda? ", "apa faktor yang membuat manusia itu memiliki kepribadian yang berbeda-beda? ". Dengan kata lain "apa faktor yang membentuk kepribadian yang khas yang ada pada diri seseorang?" Inilah yang akan kita jawab. Wa billaahit taufiiq
Manusia itu Pada Dasarnya Sama
Sudah jelas, sebagaimana kami gambarkan di atas, bahwa manusia itu berbeda-beda dalam wujud kepribadiannya. Namun demikian, anda pasti juga setuju jika dikatakan bahwa manusia itu pada dasarnya sama. Tidak ada manusia yang lahir sebagai orang yang mulia atau hina. Tatkala manusia lahir, dia tidak memiliki suatu haluan pun, maka ia tidak bisa disebut sebagai "bayi yang berhaluan sosialis", "bayi yang berhaluan liberal", "bayi yang berkepribadian islam", dst".
Sebagai sebuah spesies, maka manusia memiliki karakter umum yang dimiliki oleh seluruh anggotanya. Karakter umum yang ada pada setiap manusia adalah sebagai berikut:
Pertama, manusia itu adalah makhluk yang memiliki kebutuhan-kebutuhan dasar yang sama. Kebutuhan dasar manusia itu secara garis besar dibagi menjadi dua: Pertama kebutuhan fisik, seperti kebutuhan untuk mendapatkan nutrisi (melalui makanan, minuman, dan nafas), kebutuhan untuk membuang sisa metabolisme melalui saluran-salurannya (buang hajat), kebutuhan untuk hidup pada tempat yang memiliki vareable iklim yang layak (suhu, tekanan udara, kelembaban, dll), dan kebutuhan untuk istirahat. Kedua, kebutuhan manusia yang bersiat naluriah, seperti naluri mempertahankan diri, naluri untuk menyucikan/mengagun gkan sesuatu, dan naluri untuk melestarikan jenis manusia.
Kedua, manusia adalah spesies yang berakal. Selama manusia lahir dan hidup dalam keadaan normal, maka dia pasti memiliki akal, walau pun berbeda dalam tingkat kecerdasannya. Kedua hal inilah, yakni kebutuhan dan akal, yang merupakan karakter umum dari manusia.
Peran Akal Dalam Pembentukan Kepribadian
Kebutuhan-kebutuhan manusia dan tuntutan pemenuhannya merupakan dorongan yang membuat manusia memiliki alasan dan gairah untuk menjalani kehidupannya. Segala macam aktivitas manusia di dunia bisa dikatakan dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Manusia menjalani berbagai bentuk pekerjaan dan usaha dalam rangka mencari pemenuhan kebutuhan hidup. Di jaman sekarang ini, seharian penuh manusia mencari uang. Jika mereka ditanya: "untuk apa uang yang mereka dapat?", maka jawabnya pasti seputar pemenuhan kebutuhan-kebutuhan nya, bisa bersifat fisik, seperti pemenuhan kebutuhan makan, minum, maupun memenuhi kebutuan naluriah, seperti untuk menjalani ibadah, biaya menikah, biaya untuk meningkatkan status sosial, dll. Manusia saling berinteraksi dan berkomunikasi antara satu dengan yang lain juga dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Singkatnya, kebutuhan fisik dan naluriah manusia merupakan faktor yang mendasari segala bentuk aktivitasnya.
Hanya saja, manusia itu berbeda dengan hewan. Sebab, aktivitas hewan sepenuhnya hanya ditentukan oleh dorongan kebutuhan fisik dan naluriahnya. Tidak ada faktor lain yang menentukan tindak-tanduk hewan kecuali dorongan kebutuhan tersebut. Maka, hewan akan makan begitu dia lapar dan ada makanan, dia akan berhubungan seksual begitu ada kebutuhan dan lawan jenis, hewan akan bertarung begitu naluri mempertahankan dirinya terangsang, dst.
Berbeda dengan manusia. Meski manusia memiliki dorongan untuk memenuhi kebutuhan, tapi tingkah lakunya (suluk) tidak hanya ditentukan oleh kebutuhan-kebutuhan itu. Manusia memiliki kebutuhan untuk makan dan minum, akan tetapi rasa lapar dan keberadaan makanan tidak otomatis membuat manusia menyikat makanan yang ada di depannya (karena bukan miliknya atau karena sedang puasa, misalnya). Manusia juga memiliki kebutuhan seksual, akan tetapi keberadaan wanita cantik tidak serta-merta membuat seorang laki-laki -maaf- melampiaskan kebutuhan seksual dengan wanita tersebut (karena tidak halal untuknya). Manusia memiliki rasa marah, tapi rasa marah itu tidak otomatis membuat manusia memukul orang yang membuatnya marah. Dan sebagainya.
Artinya, manusia memiliki tatanan dan kaidah-kaidah nilai yang rumit dalam menentukan tingkah lakunya. Itu karena manusia punya akal. Akal berfungsi untuk mengaitkan fakta-fakta dan pemikiran-pemikiran -yang hadir- dengan informasi-informasi yang dimiliki oleh seseorang. Dengan pengaitan itu, manusia bisa memahami hakekat dari fakta atau pemikiran yang tengah ditela'ah. Setelah itu, manusia akan memasuki tahap "mencari sikap" terhadap pemikiran atau fakta yang hadir dihadapannya. Artinya, akal manusia ini bukan hanya digunakan untuk memahami dan mengembangkan cara-cara yang lebih efektif untuk memuaskan kebutuhan manusia (dengan teknologi). Akan tetapi akal juga memungkin manusia untuk membentuk pemahaman-pemahaman (mafaahim) tentang nilai, status hukum dan penyikapan terhadap suatu pemikiran atau fakta. Maksud saya adalah, bahwa akal bisa menemukan pemahaman mengenai standar yang digunakan untuk membedakan mana suatu hal yang terpuji dan mana hal yang tercela, mana hal yang pantas untuk diterima dan mana hal yang harus ditolak, mana perbuatan yang baik dan mana perbuatan yang buruk, dsb.
Dengan pemahaman seputar nilai atau hukum terhadap suatu fakta itulah manusia akan menentukan kecenderungan (muyul) mengenai apa yang dia hadapi. Ada pun yang disebut dengan kecenderungan (muyul) adalah suatu corak hasrat/keinginan tertentu yang terbentuk oleh pemahaman(mafhum). Maka muyul ini hanya ada pada manusia, sebab, muyul adalah hasil peleburan antara dorongan-dorangan (dawafi') yang muncul dari potensi kebutuhan dengan pemahaman-pemahaman (mafaahim) manusia mengenai status hukum dari alternatif-alternat if perbuatan yang ada.
Jika seorang manusia telah memiliki pemahaman (mafhum) bahwa suatu perbuatan itu merupakan perbuatan yang baik dan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan nya, maka akan tumbuh kecenderungan (muyul) berupa rasa suka dan ingin mengamalkan perbuatan yang dia pahami itu. dia akan memenuhi kebutuhannya dengan perbuatan itu, tapi jika sesuatu diidentifikasi sebagai perbuatan buruk atau tercela, maka dia akan membenci hal tersebut. Jadi muyul bisa membentuk kecintaan dan kebencian terhadap suatu fakta atau pemikiran tertentu.
Atas dasar itu, perbuatan manusia itu tidak hanya ditentukan oleh keberadaan dorongan-dorongan (dawafi') yang muncul dari kebutuhan-kebutuhan yang ada pada dirinya (baik berupa kebutuhan fisik maupun naluriah), tapi, perbuatan manusia itu juga ditentukan oleh bentuk kecenderungannya (muyul) terhadap perbuatan-perbuatan yang akan dilakukannya, sedangkan bentuk kecenderungan (hasrat) ini ditentukan oleh pemahaman-pemahaman (mafaahim) manusia mengenai nalai-nilai perbuatan.
Aqliyah Manusia Adalah Corak Pemahaman Yang Dibentuk Oleh Kaidah Tertentu
Sudah kita jelaskan bahwa perbuatan manusia itu dipengaruhi oleh dorongan yang muncul dari kebutuhannya, pemahamannya mengenai hukum atas fakta dan pemikiran yang ditelaahnya, dan kecenderungannya terhadap sesuatu yang dihadapi.
Dalam tataran inilah kepribadian manusia itu mulai terdeferensiasi. Jika kita bicara mengenai pemahaman manusia mengenai status hukum atas suatu fakta atau pemikiran, maka bisa kita katakan bahwa manusia itu memiliki pemahaman yang beragam mengenai mana sesuatu yang dianggap terpuji dan perbuatan mana sesuatu yang dianggap tercela. Dalam menelaah sebuah perbuatan misalnya, bisa jadi seseorang menganggap sebuah perbuatan itu sah-sah saja untuk dilakukan, namun di mata orang lain ternyata dianggap tidak baik. Seorang wanita berjalan ke sana ke mari dengan bikini di pantai-pantai Amerika bisa jadi tidak masalah, tapi itu akan diaggap masalah besar bagi kaum muslimin. Seorang seniman bisa jadi bangga dan mendapat banyak pujian saat berhasil melukis seseorang yang terkenal, tapi dalam pandangan seorang muslim hal itu adalah suatu perbuatan tercela (melukis makhluk bernyawa). Saya ingat, dulu saat saya kecil, di kampung saya, jika ada seorang muslimah yang berjilbab secara benar justru dipandang aneh oleh sebagian masyarakat. Padahal jilbab adalah kewajiban yang harus ditaati, sedangkan melepaskan jilbab adalah kemakshiatan besar yang pelakunya akan mendapat murka Allah.
Yang ingin saya tunjukkan adalah, bahwa ternyata manusia itu memiliki kaidah-kaidah yang berbeda dalam membentuk pemahamannya mengenai mana yang pantas dilakukan dan mana yang tidak, mana yang baik dan mana yang buruk. Ada yang mendasarkannya pada adat istiadat, ada yang mendasarkannya pada asas manfaat, ada yang mendasarkannya pada hukum syara'. Pola pemahaman manusia yang didasarkan atas kaidah-kaidah tertentu inilah yang disebut aqliyyah.
Maka dari itu, aqliyah manusia itu beraneka ragam. Ada aqliyah yang islami, ada aqliyah yang sekuleristik, ada aqliyah yang sosialistik, dan ada pula aqliyah yang tidak jelas. Semua itu tergantung dari kaidah yang dia gunakan dalam membangun pemahamannya terkait dengan amal perbuatan yang dilakukannya dan pensikapan terhadap segala sesuatu dan fakta yang ditemuinya. Kaidah yang digunakan oleh manusia itu bisa berupa aqidah aqliyah (kaidah yang dibangun dari proses berfikir yang mendasar, dan menyeluruh, seperti aqidah islam), bisa juga berupa kaidah yang rapuh, seperti norma adat.
Nafsiyah Manusia Adalah Corak Kecenderungan Manusia Yang Didasarkan Pada Kaidah Tertentu
Kecenderungan (muyul) yang mempengaruhi perbuatan manusia merupakan hasrat untuk melakukan suatu perbuatan tatkala tuntutannya muncul. Kecenderungan ini biasanya berupa keinginan yang kuat untuk berbuat, atau keinginan yang sangat untuk meninggalkan suatu perbuatan, kecintaan pada suatu perbuatan, atau juga kebencian pada suatu perbuatan. Itu semua merupakan kecenderungan.
Bentuk kecenderungan/ hasrat manusia terhadap suatu perbuatan itu berkaitan erat dengan pemahaman-pemahaman nya (mafaahim). Oleh karena itu, kecenderungan orang terhadap suatu perbuatan pun berbeda-beda tergantung pemahamannya. Ada orang yang senang dengan sholat, tapi ada juga yang benci melihat orang sholat. Ada orang yang tidak pernah rela untuk melepas jilbab, tapi ada juga orang yang benci melihat orang berjilbab. Ada orang yang takut dengan riba, tapi ada juga orang yang asyik menikmati riba. Dst.
Kecenderungan pada diri manusia itu sebenarnya bisa diatur. Benarkah kecenderungan bisa diatur? Saya jawab, dengan yakin, "bisa!". Ingin bukti? Kita buktikan! Pernahkah anda menemukan orang yang tidak pernah sholat tapi kemudian tiba-tiba berubah menjadi orang yang rajin berjamaah? Alhamdulillaah saya berkali-kali menemukan hal itu di masjid kami, dan banyak diantara mereka yang tetap istiqomah. Dulu tatkala mereka belum sadar, seruan adzan mungkin tidak membentuk kesan apa-apa. Mereka tidak tergugah. Tidak ada kebutuhan untuk memenuhi panggilan adzan. Tidak ada hasrat atau kecenderungan (muyul) dalam hati mereka untuk pergi ke masjid dan menunaikan sholat. Tapi sekarang, begitu adzan terdengar, maka muncul kebutuhan dalam diri mereka untuk segera sholat, memutuskan segala aktivitasnya, dan menyempatkan diri ke masjid. Mereka merasa senang bisa berjamaah di masjid, dan merasa kehilangan sesuatu jika sholatnya tertinggal. Mereka merasa senang melihat orang sholat, dan merasa sedih melihat orang yang tidak sholat. Subhaanallah. Pernah juga saya temukan orang yang tadinya tidak berjilbab kemudian berubah menjadi malu dan tidak kuasa jika keluar tanpa berjilbab. Pernah juga saya kenal dengan orang yang tadinya menjadi pegawai bank kemudian keluar karena memahami bahwa riba itu haram.
Apa yang terjadi pada diri mereka adalah perubahan kecenderungan. Kenapa kecenderungan bisa berubah? Jawabnya adalah karena didahului oleh perubahan pemahaman (mafhum). Maka, kita bisa mengatur kecenderungan dengan membentuk pemahaman. Seseorang yang tidak pernah sholat bisa berubah jika ditanamkan aqidah islam pada dirinya, kemudian dijelaskan konsekuensi dari memeluk aqidah itu, kemudian dijelaskan bahwa sholat merupakan kewajiban, setelah itu dijelaskan pula pahala bagi orang yang rajin sholat, dan tak lupa, dijelaskan juga kerasnya hukuman bagi orang yang meninggalkan sholat. Dengan begitu akan terbentuk pemahaman pada dirinya, dan setelah itu, pemahamannya akan menumbuhkan kebutuhan dan kecenderungan terhadap aktivitas sholat.
Atas dasar itu, kecenderungan itu terbentuk oleh pemahaman yang di dasarkan pada kaidah tertentu. Kecenderungan yang terbentuk oleh pemahaman dan kaidah tertentu itu tempatnya ada di dalam jiwa. Inilah yang disebut nafsiyah (pola kejiwaan). Jika kecenderungan seseorang terbentuk oleh pemahaman-pemahaman islam, maka nafsiyahnya disebut nafsiyah islamiyah. Jika yang membentuknya adalah pemahaman-pemahaman yang muncul dari aqidah lain, maka nafsiyahnya bukan nafsiyah islam.
Syakhshiyah Terbentuk Dari Aqliyah dan Nafsiyah
Demikianlah sekilas tentang aqliyah dan nafsiyah yang membedakan kepribadian manusia antara yang satu dengan yang lainya. Aqliyah dan nafsiyah itulah yang nantinya akan membentuk kulit luar dari pola kehidupan manusia. Seluruh kebutuhan yang muncul dalam dirinya akan diatur sesuai dengan pemahaman dan kecenderungan yang ada dalam dirinya. Aqliyah dan nafsiyah itu tercermin dalam segala macam tindak-tanduknya, seakan memberi warna tertentu pada corak kehidupannya. Inilah yang disebut dengan syakhshiyah atau kepribadian manusia. Singkatnya, kepribadian manusia itu terbentuk dari corak pemahaman (aqliyah) dan corak kecenderungannya (nafsiyah) yang didasarkan pada suatu aqidah tertentu.
Pelajaran yang bisa kita petik di sini adalah, bahwa membentuk kepribadian yang kuat pada diri manusia itu tidak bisa dilakukan secara dogmatis. Kita harus membentuk kepribadian itu mulai dari menanamkan sebuah kaidah dasar yang bisa digunakan untuk membentuk pemahaman-pemahaman (mafaahim) yang benar. Dengan begitu, seseorang bisa memahami dan menghukumi segala macam fakta dan pemikiran dengan kaidah yang shohih. Inilah yang disebut corak aqliyah yang mantap dan khas. Setelah itu, seseorang harus dilatih agar hawa nafsunya sejalan dengan pemahaman-pemahaman nya agar terbentuk suatu corak kecenderungan (muyul) yang baik. Corak kecenderungan inilah yang disebut nafsiyah. Dengan corak pemahaman dan corak kecenderungan yang khas ini, terbentuklah manusia yang memiliki corak kehidupan yang tegas dan unik (as syakhshiyah al mu'ayyanah) yang mencerminkan kaidah yang digunakan untuk membentuk aqliyah dan nafsiyahnya. Allaahu A'almu bish showaab.
PENGARUH KELUARGA DAN RUMAH TANGGA YANG MENJADI DASAR PERILAKU KONSUMEN
PERILAKU KONSUMEN
PENGARUH KELUARGA DAN RUMAH TANGGA YANG MENJADI DASAR PERILAKU KONSUMEN
Pembangunan didefinisikan secara luas sebagai suatu proses perbaikan yang
berkesinambungan atas suatu masyarakat atau suatu sistem sosial secara keseluruhan
menuju kehidupan yang lebih baik atau lebih sejahtera. Bentuk nyata atau unsurunsur
dari kehidupan serba lebih baik itu sendiri masih menjadi perdebatan. Namun
menurut Todaro (2000), komponen dasar atau nilai inti yang harus dijadikan basis
konseptual dan pedoman praktis untuk memahami kehidupan yang lebih baik atau
lebih sejahtera terdiri atas tiga komponen dasar yaitu :
1. Kecukupan (sustenance)
Kecukupan yaitu kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Kebutuhan tersebut bukan hanya menyangkut makanan,
melainkan mewakili semua hal yang merupakan kebutuhan dasar manusia
secara fisik yang meliputi pangan, sandang, papan dan keamanan.
2. Jati diri (self esteem)
Jati diri merupakan dorongan dari diri sendiri untuk maju, untuk
merasa diri pantas dan layak melakukan atau mengejar sesuatu. Penyebaran
nilai-nilai modern yang bersumber dari negara-negara maju telah
mengakibatkan kejutan dan kebingungan budaya di banyak negara
berkembang. Kontak dengan masyarakat lain yang secara ekonomis atau
teknologis lebih maju acapkali mengakibatkan definisi dan batasan
mengenai baik-buruk dan benar-salah menjadi kabur. Kemakmuran materil
lambat laun dianggap sebagai suatu ukuran kelayakan yang universal dan
dinobatkan menjadi landasan penilaian atas segala sesuatu.
3. Kebebasan (freedom)
Kebebasan atau kemerdekaan di sini diartikan secara luas sebagai
kemampuan untuk berdiri tegak sehingga tidak diperbudak oleh pengejaran
aspek materil semata-mata dalam kehidupan ini. Kebebasan disini juga
harus diartikan sebagai kebebasan terhadap ajaran-ajaran yang dogmatis.
Jika kita memiliki kebebasan, itu berarti untuk selamanya kita mampu
berpikir jernih dan menilai segala sesuatu atas dasar keyakinan, pikiran
sehat dan hati nurani kita sendiri. Kebebasan juga meliputi kemampuan
individual atau masyarakat untuk memilih satu atau sebagian dari sekian
banyak pilihan yang tersedia. Manfaat inti yang terkandung dalam
penguasaan yang lebih besar itu adalah kebebasan untuk memilih
merasakan kenikmatan yang lebih besar dan bervariasi, untuk memilih
lebih banyak barang dan jasa.
Faktor-faktor yang ikut menentukan pola konsumsi keluarga antara lain
tingkat pendapatan keluarga, ukuran keluarga, pendidikan kepala keluarga dan status
kerja wanita. Untuk mendukung pernyataan tersebut, telah banyak penelitian
dilakukan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendapatan dan pola konsumsi
keluarga. Teori Engel’s yang menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat pendapatan
keluarga semakin rendah persentasi pengeluaran untuk konsumsi makanan
(Sumarwan, 1993). Berdasarkan teori klasik ini, maka keluarga bisa dikatakan lebih
sejahtera bila persentasi pengeluaran untuk makanan jauh lebih kecil dari persentasi
pengeluaran untuk bukan makanan. Artinya proporsi alokasi pengeluaran untuk
pangan akan semakin kecil dengan bertambahnya pendapatan keluarga, karena
sebagian besar dari pendapatan tersebut dialokasikan pada kebutuhan non pangan.
Jumlah anggota keluarga atau ukuran keluarga juga mempengaruhi pola
konsumsi. Hasil Survei Biaya Hidup (SBH) tahun 1989 membuktikan bahwa semakin
besar jumlah anggota keluarga semakin besar proporsi pengeluaran keluarga untuk
makanan dari pada untuk bukan makanan. Ini berarti semakin kecil jumlah anggota
keluarga, semakin kecil pula bagian pendapatan untuk kebutuhan makanan
(Sumarwan, 1993). Selebihnya, keluarga akan mengalokasikan sisa pendapatannya
untuk konsumsi bukan makanan. Dengan demikian, keluarga dengan jumlah anggota
sedikit relatif lebih sejahtera dari keluarga dengan jumlah anggota besar.
Selain jumlah anggota keluarga, tingkat pendidikan formal kepala keluarga
juga berpengaruh terhadap pola konsumsi keluarga. Pendidikan dapat merubah sikap
dan prilaku seseorang dalam memenuhi kebutuhannya. Makin tinggi tingkat
pendidikan seseorang maka makin mudah ia dapat menerima informasi dan inovasi
baru yang dapat merubah pola konsumsinya. Disamping itu makin tinggi tingkat
pendidikan formal maka kemungkinannya akan mempunyai tingkat pendapatan yang
relatif lebih tinggi (Sumarwan, 1993).
Perubahan karakteristik keluarga ini mempunyai dampak sangat penting pada
perubahan pola kebutuhan atau konsumsi keluarga misalnya makanan, perlengkapan
alat-alat rumah tangga, pelayanan kesehatan, perumahan dan pendidikan.
A. Keluarga Sejahtera
Strategi pengembangan kependudukan terus mengalami perluasan karena
masalah kependudukan pun telah bertambah luas dengan berbagai tantangan yang
semakin beragam. Dengan telah ditekannya laju pertumbuhan penduduk, maka
ukuran, struktur dan komposisi penduduk yang tercermin dalam unit-unit keluarga
akan mengalami perubahan baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya.
Undang-undang No. 10 tahun 1992 yang telah dirujuk menjadikan keluarga
sebagai satuan sosial terkecil dalam masyarakat, sekaligus sebagai suatu lembaga
yang amat penting dalam kehidupan manusia. Lembaga keluarga dalam budaya
masyarakat kita dianggap sebagai suatu jalinan jasmani, rohani dan sosial yang
mendasar dan mengakar dalam kehidupan, lembaga keluarga ini sarat dengan fungsi
(Achir, 1993).
Menurut Selo Sumarjan dalam Hatmaji (1993), keluarga merupakan institusi
perantara (mediator) antara individu dengan masyarakat. Sehubungan dengan itu,
keluarga memiliki beberapa fungsi antara lain refroduksi, ekonomi, afeksi, proteksi,
sosialisasi dan keagamaan.
Pada saat ini sedang terjadi pergeseran nilai di masyarakat, termasuk nilainilai
yang berlaku dalam keluarga, misalnya pembagian peran di dalam keluarga.
Perubahan nilai yang ada dalam masyarakat membuat wanita memiliki kemungkinan
yang lebih besar untuk terjun ke lapangan kerja sehingga mempengaruhi pembagian
peran antara suami dan isteri dalam suatu keluarga.
Tugas-tugas yang secara tradisional dilakukan oleh isteri antara lain mengurus
kebutuhan anak baik secara fisik maupun psikologis, mengurus pendidikan anak dan
mengurus penyediaan makanan untuk anggota keluarga mulai bergeser pada sebagian
keluarga. Si suami secara tradisional bertugas memberikan status sosial pada
keluarga, mencari nafkah dan mewakili keluarga dengan pihak-pihak lain yang ada di
dalam masyarakat mulai menerima limpahan tugas dari sang isteri.
Dengan adanya pergeseran nilai dalam keluarga tersebut mengakibatkan juga
terjadi perubahan pola konsumsi barang dan jasa dalam keluarga.
Keberhasilan program pemerintah dalam bidang kependudukan khusunya
penurunan fertilitas nampaknya sudah mulai nyata. Keberhasilan ini antara lain
berdampak pada perubahan struktur keluarga (Hatmadji, 1993). Lebih lanjut ia
mengatakan, struktur keluarga sudah berubah dari keluarga berukuran besar (jumlah
anak banyak) ke keluarga berukuran kecil (sedikit anak).
Pada tahun 1971 rata-rata jumlah anggota rumah tangga di Indonesia sebesar
5,3 orang, tahun 1980 mengalami penurunan menjadi 5,2 orang kemudian pada tahun
1990 penurunannya cukup berarti yakni dari 5,2 pada tahun 1980 menjadi 4,5 o rang
pada tahun 1990 (Kasto dan Sembiring, 1996).
Propinsi Sulawesi Selatan pada tahun 1980 mempunyai rata-rata jumlah
anggota rumah tangga sebanyak 5,3 orang, tahun 1990 mengalami penurunan
menjadi 4,9 orang dan kemudian pada tahun 2000 menjadi 4,6 orang (BPS, 2001).
Pada tahun 1980 rata-rata rumah tangga di huni oleh 5 sampai 6 orang anggota rumah
tangga yang terdiri dari suami, isteri dan 3 sampai 4 orang anak. Namun pada tahun
2000 telah mengalami penurunan dimana rata-rata setiap rumah tangga hanya dihuni
oleh 4 sampai 5 orang anggota rumah tangga, yang terdiri dari suami, isteri dan 2
sampai 3 orang anak.
Penurunan rata-rata anggota rumah tangga tersebut menunjukkan diterimanya
norma keluarga kecil dan menunjukkan kecenderungan pembentukan keluarga batih
atau inti (nuclear family), keluarga yang terdiri dari suami, isteri dan anak.
Hal lain yang dapat diungkap dari menurunnya rata-rata anggota rumah
tangga ini adalah menunjukkan adanya perubahan struktur dalam keluarga, yakni
perubahan dari struktur keluarga luas (extended family) ke arah keluarga batih
(nuclear family). Bahkan adanya perubahan dalam struktur keluarga batih sendiri juga
telah terjadi, yakni perubahan dari jumlah anak banyak ke arah jumlah anak yang
lebih sedikit.
Bersamaan dengan perubahan struktur kelurga, maka terjadi pula perubahan
fungsi dalam kelurga. Masing-masing anggota keluarga karena hubungannya dengan
masyakat lingkungannya akan mengembangkan perannya sesuai dengan tuntutan
yang diharapkan oleh lingkungan tersebut. Salah satu fenomena yang terjadi adalah
masuknya wanita dalam pasar kerja, yang mau tidak mau akan menyebabkan
terjadinya perubahan status dan peran yang mereka mainkan sebelumnya (BKKBN,
1992). Lebih lanjut dijelaskan bahwa, dengan masuknya wanita dalam angkatan
kerja, berarti akan memberikan peranan ekonomi yang lebih besar terhadap keluarga
terutama dalam membantu meningkatkan pendapatan keluarga. Pada gilirannya akan
memberikan dampak psikologis, sosial dan budaya baik pada keluarga itu sendiri
maupun pada masyarakat lainnya.
Konsep keluarga sejahtera sangat beragam, menurut Selo Sumardjan dalam
Hatmadji (1993), sejahtera hanya dilihat dari sisi pencapaian finansial, sedangkan
kondisi ideal yang dari sisi psikologis diartikan sebagai bahagia. Lebih lanjut ia
katakan bahwa kesejahteraan itu haruslah bersifat komprehensif, tingkat pencapaian
kesejahteraan antara satu keluarga dengan keluarga lainnya tidak dapat
diperbandingkan, karena kesejahteraan berkaitan erat dengan tujuan hidup masingmasing
keluarga.
B. Perubahan Pola Konsumsi
Dalam ilmu ekonomi dijelaskan bahwa ekonomi merupakan asumsi dalam
teori ekonomi seseorang bertindak secara rasional dalam mencapai tujuannya dan
kemudian mengambil keputusan yang konsisten dengan tujuan tersebut.
Haris dan Andika (2002) mengemukakan beberapa macam kebutuhan pokok
manusia untuk bisa hidup secara wajar, yaitu :
1. Kebutuhan pangan atau kebutuhan akan makanan.
2. Kebutuhan sandang atau pakaian.
3. Kebutuhan papan atau tempat berteduh.
4. Kebutuhan pendidikan untuk menjadi manusia bermoral dan berbudaya.
Kebutuhan tersebut di atas merupakan kebutuhan primer yang harus dipenuhi
untuk dapat hidup wajar. Bila kebutuhan itu kurang dapat dipenuhi secara
memuaskan maka hal itu merupakan suatu indikasi bahwa kita masih hidup di bawah
garis kemiskinan. Kebutuhan lain seperti : kebutuhan akan perabot rumah tangga,
meja, kursi, lemari, alat-alat dapur, radio, televisi dan aneka kebutuhan lainnya,
disebut sebagai kebutuhan sekunder atau kebutuhan pelengkap yang ditambahkan
sesuai dengan peningkatan pendapatan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa, untuk dapat
memenuhi kebutuhan hidup, kita membutuhkan uang atau penghasilan. Tanpa bekerja
kita tak mungkin mendapatkan penghasilan. Tanpa penghasilan kita tak mungkin
dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan hidup secara wajar.
Semakin banyaknya isteri atau ibu rumah tangga yang masuk dalam dunia
kerja mengakibatkan terjadinya perubahan dalam keluarga. Dalam menghadapi
perubahan ini maka keluarga harus mempunyai beberapa strategi untuk mengatasi
kendala waktu yang dihadapinya. Dua strategi pokok yang dapat dilakukan keluarga
yang bekerja agar kesejahteraan keluarga dapat tercapai adalah membeli waktu dan
menghemat waktu. Membeli waktu merupakan usaha yang dilakukan keluarga untuk
membeli alat-alat rumah tangga, (household appliances) seperti mesin cuci, kulkas,
alat-alat dapur dan lain sebagainya, serta menggunakan jasa-jasa pelayanan. Strategi
semacam ini membuat keluarga lebih mengandalkan alat-alat listrik dalam melakukan
pekerjaan rumah tangga. Selain itu, keluarga dapat menggunakan jasa orang lain
untuk memenuhi kebutuhannya, misalnya menggunakan jasa binatu, jasa penitipan
dan pengasuhan anak, membayar pembantu rumah tangga, sering makan di rumah
makan atau membeli makanan yang siap dihidangkan.
Strategi menghemat waktu, merupakan usaha yang dilakukan oleh keluarga
untuk mengalokasikan pekerjaan rumah tangga yang biasa dilakukan oleh isteri/ibu
kepada suami/ayah atau anak-anak. Strategi menghemat waktu termasuk pula
pengurangan kuantitas dan kualitas pekerjaan rumah tangga yang harus dilakukan,
misalnya mengurangi waktu santai dan kegiatan sosial.
Kendala waktu yang dihadapi keluarga masa depan dan strategi untuk
mengatasinya akan mempengaruhi pola konsumsi keluarga tersebut, baik secara
langsung ataupun tidak langsung. Hal ini didukung oleh industri makanan yang
memproduksi berbagai jenis makanan jadi, industri restoran dan fast food yang
tumbuh pesat (Wilopo, 1998).
Jumlah rumah tangga atau keluarga yang menerapkan strategi membeli waktu
semakin banyak, maka semua itu akan berakibat pada peningkatan permintaan alatalat
rumah tangga. Oleh sebab itu, pengeluaran konsumsi untuk makanan jadi dan
alat-alat rumah tangga akan semakin besar.
Di pihak lain makanan jadi yang tersedia di pasar belum tentu memberikan
jaminan gizi yang baik. Kurangnya nilai gizi dari makanan tersebut membawa
dampak negatif terhadap kesehatan keluarga. Dengan demikian strategi menghemat
waktu tanpa memperhatikan kebutuhan tubuh akan membawa dampak negatif pada
kesehatan keluarga, yang mengakibatkan timbulnya berbagai macam penyakit.
Kondisi semacam ini mempengaruhi pengeluaran keluarga untuk konsumsi jasa
kesehatan dan obat-obatan.
Perubahan pola konsumsi terhadap aneka barang dan jasa diperkirakan akan
meningkat dengan pesat di masa mendatang sejalan dengan perubahan struktur
keluarga, perbaikan tingkat pendapatan, serta semakin banyaknya keluarga yang
menerapkan strategi membeli waktu.
C. Perilaku Konsumen
Menurut Joesron dan Fathorrozi (2003), kebutuhan manusia relatif tidak
terbatas sementara sumber daya yang tersedia sangat terbatas, hal ini mengakibatkan
manusia dalam memenuhi setiap kebutuhannya akan berusaha memilih alternatif
yang paling menguntungkan bagi dirinya. Lebih lanjut ia katakan bahwa timbulnya
perilaku konsumen karena adanya keinginan memperoleh kepuasan yang maksimal
dengan berusaha mengkonsumsi barang dan jasa sebanyak-banyaknya, tetapi
mempunyai keterbatasan pendapatan.
1. Fungsi Permintaan
Permintaan merupakan jumlah barang dan jasa yang diminta pada berbagai
tingkat harga dalam waktu tertentu. Sukirno (1985) menyatakan permintaan
seseorang atas sesuatu barang ditentukan oleh banyak faktor, diantaranya yang
terpenting adalah:
1. Harga barang itu sediri
2. Harga barang-barang lain yang mempunyai kaitan erat dengan barang
tersebut
3. Pendapatan rumah tangga dan pendapatan rata-rata masyarakat
4. Corak ditribusi pendapatan dalam masyarakat
5. Citarasa masyarakat
6. Jumlah penduduk
7. Ramalan mengenai keadaan di masa yang akan datang
Hubungan antara tingkat harga dan jumlah barang yang diminta dapat
disajikan dalam kurva permintaan. Kurva permintaan menunjukkan tempat titik-titik yang mengambarkan maksimum pembelian pada harga tertentu dengan anggapan ceteris paribus (hal-hal lain dianggap tetap).
Permintaan suatu barang bukan hanya dipengaruhi oleh harga barang tersebut,
melainkan juga dipengaruhi oleh pendapatan konsumen, selera, harga barang lain dan
masih banyak faktor lainnya yang dapat diidentifikasi sebagai faktor yang
mempengaruhi permintaan.
Adanya asumsi ceteris paribus, yaitu faktor lain selain harga dianggap tetap,
maka sepanjang fungsi permintaan individu akan dapat dijumpai adanya perubahan
jumlah yang diminta sebagai akibat perubahan harga. Dengan kata lain, dalam suatu
kurva yang sama akan terdapat gerakan dari suatu titik ke titik lainnya apabila harga
suatu barang mengalami perubahan.
Apabila faktor lain, selain harga mengalami perubahan maka fungsi
permintaan akan ikut berubah pula. Misalkan pendapatan konsumen meningkat maka
fungsi permintaan akan bergeser ke kanan (atas), begitu pula sebaliknya bila
pendapatan konsumen berkurang maka fungsi permintaan bergeser ke kiri (bawah).
Ada beberapa pendekatan yang sering digunakan untuk menjelaskan
terbentuknya fungsi permintaan konsumen, yaitu:
A. Pendekatan Kardinal (Cardinal Approach).Menurut pendekatan ini,
daya guna dapat diukur dengan satuan uang atau utilitas, dan tinggi rendahnya nilai
atau daya guna tergantung kepada subyek yang menilai. Pendekatan ini juga
mengandung anggapan bahwa semakin berguna suatu barang bagi seseorang, maka
akan semakin diminati. Asumsi dari pendekatan ini adalah:
1. Konsumen rasional, artinya konsumen bertujuan memaksimalkan
kepuasannya dengan batasan pendapatannya.
2. Diminishing marginal utility, artinya tambahan utilitas yang diperleh
konsumen makin menurun dengan bertambanya konsumsi dari komoditas
tersebut.
3. Pendapatan konsumen tetap
4. Uang mempunyai nilai subyektif yang tetap.
5. Total utility adalah additive dan independent. Additive artinya daya guna
dari sekumpulan barang adalah fungsi dari kuantitas masing-masing
barang yang dikonsumsi.
B. Pendekatan Ordinal. Dalam pendekatan ini daya guna suatu barang
tidak perlu diukur, cukup untuk diketahui dan konsumen mampu membuat urutan
tinggi rendahnya daya guna yang diperoleh dari mengkonsumsi sekelompok barang.
Pendekatan yang dipakai dalam teori ordinal adalah indefference curve, yaitu
kurva yang menunjukkan kombinasi 2 (dua) macam barang konsumsi yang
memberikan tingkat kepuasan sama. Asumsi dari pendekatan ini adalah:
1. Konsumen rasional
2. Konsumen mempunyai pola preferensi terhadap barang yang disusun
berdasarkan urutan besar kecilnya daya guna
3. Konsumen mempunyai sejumlah uang tertentu
4. Konsumen selalu berusaha mencapai kepuasan maksimum
5. Konsumen konsisten, artinya bila barang A lebih dipilih daripada B karena
A lebih disukai daripada B, tidak berlaku sebaliknya
6. Berlaku hukum transitif, artinya bila A lebih disukai daripada B dan B
lebih disukai daripada C, maka A lebih disukai daripada C
C. Preferensi Nyata (Revealed Preference Hypothesis). Kurva permintaan
dapat disusun secara langsung berdasarkan perilaku konsumen di pasar. Asumsi yang
menjadi dasar berlakunya teori ini antara lain adalah:
1. Rasionalisasi, yaitu konsumen adalah rasional, juga mengandung pengertian
bahwa jumlah barang banyak lebih disukai daripada barang sedikit.
2. Konsisten artinya seperti biasanya apabila konsumen telah menentukan A
lebih disukai daripada B maka dia tidak sekali-kali mengatakan bahwa B
lebih disukai dari pada A.
3. Asas transitif, artinya bila konsumen menyatakan A lebih disukai dari pada
B dan B lebih disukai daripada C, maka ia akan menyatakan juga bahwa A
lebih disukai daripada C.
4. Konsumen akan menyisihkan sejumlah uang untuk pengeluarannya. Jumlah
ini merupakan anggaran yang dapat dipergunakannya. Kombinasi barang X
dan Y yang sesungguhnya dibeli di pasar merupakan preferensi atas
kombinasi barang tersebut. Kombinasi yang dibeli ini akan memberikan
dayaguna yang tertinggi.
D. Pendekatan Atribut. Pendekatan ini mempunyai pandangan bahwa
konsumen dalam memberi produk tidak hanya karena daya guna dari produk tersebut,
tetapi karena karakteristik atau atribut-atribut yang disediakan oleh produk tersebut.
Ada beberapa keunggulan pendekatan atribut antara lain :
1. Kita akan terlepas dari diskusi mengenai bagaimana mengukur daya guna suatu
barang, yang merupakan asumsi dari pendekatan sebelumnya.
2. Pendekatan ini memandang suatu barang diminta konsumen bukan jumlahnya,
melainkan atribut yang melekat pada barang tersebut, sehingga lebih dapat
dijelaskan tentang pilihan konsumen terhadap produk.
3. Dapat digunakan untuk banyak barang, sehingga bersifat praktis dan lebih
mendekati kenyataan, serta operasionalisasinya lebih mudah.
D. Ukuran Keluarga
Keluarga yang dimaksud dalam penelitian ini adalah rumah tangga. Dalam
suatu rumah tangga biasanya dikepalai oleh seorang kepala rumah tangga, yaitu orang
dianggap paling bertanggungjawab atas kebutuhan sehari-hari dalam rumah tangga
tersebut, atau orang yang ditunjuk dan dituakan sebagai kepala rumah tangga. Selain
kepala rumah tangga terdapat pula anggota rumah tangga yang mempunyai hubungan
kekerabatan dengan kepala rumah tangga seperti isteri, anak, menantu, cucu, orang
tua, mertua, famili dan lain-lain.
Besarnya rumah tangga menyatakan jumlah seluruh anggota yang menjadi
tanggungan dalam rumah tangga tersebut. Besaran rumah tangga dapat memberikan
indikasi beban rumah tangga. Semakin tinggi besaran rumah tangga berarti semakin
banyak anggota rumah tangga yang selanjutnya semakin berat beban rumah tangga
tersebut untuk memenuhi kebutuhannya, terutama untuk rumah tangga dengan tingkat
pendapatan rendah (BPS, 2001).
Kebutuhan anggota keluarga akan makanan berbeda-beda tergantung dari
struktur umur. Menurut Sediaoetama (1985), distribusi kebutuhan pangan dalam
keluarga tidak merata, artinya setiap anggota keluarga tersebut mendapat jumlah
makanan yang sesuai dengan tingkat kebutuhannya, menurut umur dan keadaan
fisiknya.
Zat gizi yang diperlukan oleh anak-anak dan anggota keluarga yang masih
muda pada umumnya lebih tinggi dari kebutuhan orang dewasa, tetapi kalau
dinyatakan dalam kuantum absolut, anak-anak tentu membutuhkan kuantum makanan
yang lebih kecil dibandingkan dengan kuantum makanan yang diperlukan oleh orang
dewasa.
E. Jenis Pekerjaan
Di negara-negara miskin sebagian besar energi di dalam hidangan berasal dari
korbohidrat, terutama bila kondisi negaranya memungkinkan adanya pertanian maka
karbohidrat umumnya didapat dari padi-padian. Di negara yang mata pencaharian
masyarakatnya terutama beternak, sebagian besar energi, bahkan seluruh energi
berasal dari protein hewani dan lemak.
Di Indonesia sekitar 70 – 80 % dari seluruh energi untuk keperluan tubuh
berasal dari karbohidrat. Menurut Sediaoetama (1989), semakin rendah tingkat
ekonomi suatu keluarga maka semakin tinggi persentasi energi tersebut berasal dari
karbohidrat, karena energi dari karbohidrat termasuk yang paling murah. Lebih lanjut
dikatakan bahwa keluarga yang mengalami kemajuan dalam ekonominya, terlihat
adanya pergeseran sumber energi dari karbohidrat ke protein dan lemak.
Energi yang dibutuhkan oleh tubuh berasal dari karbohidrat, lemak dan
protein. Energi tersebut dibagi menjadi dua kelompok besar menurut penggunaannya
yaitu untuk kebutuhan metabolisme tubuh dan energi yang digunakan untuk
melakukan pekerjaan luar (Sediaoetama, 1985).
Walaupun tubuh tidak melakukan pekerjaan atau aktifitas luar seperti tidur,
tetap menggunakan energi. Energi tersebut dipergunakan untuk kebutuhan
metabolisme sel dalam tubuh. Energi tersebut diperlukan minimal untuk
melaksanakan hayat hidup biologis.
Dalam melakukan suatu pekerjaan atau aktifitas sangat membutuhkan energi
atau tenaga, energi tersebut berasal dari makanan yang dikonsumsi (Sukarni, 1994).
Lebih jauh ia katakan, energi dalam jumlah besar terutama diperlukan untuk kerja
otot yang melakukan pekerjaan luar. Misalnya orang yang pekerja sebagai buruh
bangunan, petani, tukang becak, yang hanya mengandalkan fisik atau kekuatan otot,
akan memerlukan makanan dalam jumlah relatif lebih besar untuk sanggup
melakukan pekerjaan tersebut .
Untuk melakukan kegiatan fisik yang sama, orang dengan ukuran tubuh besar
menggunakan lebih banyak energi dari pada ukuran tubuh kecil, karena untuk
menggerakkan tubuh yang lebih besar diperlukan enegi yang lebih banyak. Akan
tetapi, kegiatan fisik mempengaruhi lebih banyak pengeluaran energi dari pada
pengaruh ukuran tubuh (Suhardjo, 1986).
Klasifikasi pekerja menurut status pekerjaan dapat dibagi atas dua kelompok
yaitu sektor informal dan formal (Bakir dan Manning, 1984).
Klasifikasi tenaga kerja menurut jenis pekerjaan utama dapat dibagi atas tiga
jenis yaitu kelompok terampil, setengah terampil dan tidak terampil.
F. Pendidikan
Investasi sumber daya manusia bukan merupakan tanggung jawab salah satu
sektor pembangunan tetapi bersifat multisektor seperti pendidikan, kesehatan,
program kependudukan dan lain-lain. Namun demikian, di antara berbagai bentuk
investasi sumber daya manusia tersebut, pendidikan dapat dikatakan sebagai
katalisator utama pengembangan sumber daya manusia, dengan asumsi bahwa
semakin terdidik seseorang, semakin tinggi pula kesadarannya terhadap pembentukan
keluarga sejahtera.
Pendidikan merupakan upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai
dengan amanat yang telah dituangkan dalam Pembukaan Undang-undang Dasar
1945. Hal tersebut merupakan landasan yang kuat bagi pemerintah untuk
mencanangkan program wajib belajar. Program wajib belajar tersebut dimaksudkan
untuk memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warga negara
untuk memperoleh pendidikan. Program pendidikan tidak selamanya harus
terselenggara di lingkungan sekolah, tetapi juga pendidikan berkelanjutan seperti
kursus-kursus, pelatihan kerja, pendidikan dalam jabatan dan sejenisnya (Suryadi,
1997).
Pendidikan berorientasi pada penyiapan tenaga kerja terdidik, terampil dan
terlatih sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Pendidikan dalam kaitannya dengan
penyiapan tenaga kerja harus selalu lentur dan berwawasan lingkungan agar
pendidikan keterampilan dan keahlian dapat disesuaikan dengan kebutuhan akan
jenis-jenis keterampilan serta keahlian profesi yang selalu berubah (Mantra, 2000).
Pendidikan diharapkan dapat mengatasi keterbelakangan ekonomi lewat
efeknya pada peningkatan kemampuan manusia dan motivasi manusia untuk
berprestasi. Pendidikan berfungsi menyiapkan salah satu input dalam proses
produksi, yaitu tenaga kerja, agar dapat bekerja dengan produktif karena kwalitasnya.
Hal ini akan mendorong peningkatan out put yang diharapkan pada akhirnya dapat
meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Titik singgung antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi adalah
produktivitas tenaga kerja, dengan asumsi bahwa semakin tinggi mutu pendidikan
seseorang maka semakin tinggi pula produktivitasnya, dan semakin tinggi pula
pengaruhnya terhadap pendapatan keluarga (Ananta,1993).
Tingkat pendidikan kepala keluarga juga berpengaruh terhadap pola konsumsi
keluarga. Hasil Survei Biaya Hidup tahun 1989 mendukung keterkaitan tersebut.
Hasil survei membuktikan bahwa, semakin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga,
semakin kecil persentasi pengeluaran untuk konsumsi pangan (Sumarwan 1993).
G. Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian yang telah
dikemukakan, maka hipotesis penelitian ini dirumuskan sebagai berikut.
Kondisi sosial ekonomi keluarga (pendapatan, pendidikan, jenis pekerjaan dan
ukuran keluarga) mempengaruhi pola konsumsi keluarga.
PENGARUH KELUARGA DAN RUMAH TANGGA YANG MENJADI DASAR PERILAKU KONSUMEN
Pembangunan didefinisikan secara luas sebagai suatu proses perbaikan yang
berkesinambungan atas suatu masyarakat atau suatu sistem sosial secara keseluruhan
menuju kehidupan yang lebih baik atau lebih sejahtera. Bentuk nyata atau unsurunsur
dari kehidupan serba lebih baik itu sendiri masih menjadi perdebatan. Namun
menurut Todaro (2000), komponen dasar atau nilai inti yang harus dijadikan basis
konseptual dan pedoman praktis untuk memahami kehidupan yang lebih baik atau
lebih sejahtera terdiri atas tiga komponen dasar yaitu :
1. Kecukupan (sustenance)
Kecukupan yaitu kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Kebutuhan tersebut bukan hanya menyangkut makanan,
melainkan mewakili semua hal yang merupakan kebutuhan dasar manusia
secara fisik yang meliputi pangan, sandang, papan dan keamanan.
2. Jati diri (self esteem)
Jati diri merupakan dorongan dari diri sendiri untuk maju, untuk
merasa diri pantas dan layak melakukan atau mengejar sesuatu. Penyebaran
nilai-nilai modern yang bersumber dari negara-negara maju telah
mengakibatkan kejutan dan kebingungan budaya di banyak negara
berkembang. Kontak dengan masyarakat lain yang secara ekonomis atau
teknologis lebih maju acapkali mengakibatkan definisi dan batasan
mengenai baik-buruk dan benar-salah menjadi kabur. Kemakmuran materil
lambat laun dianggap sebagai suatu ukuran kelayakan yang universal dan
dinobatkan menjadi landasan penilaian atas segala sesuatu.
3. Kebebasan (freedom)
Kebebasan atau kemerdekaan di sini diartikan secara luas sebagai
kemampuan untuk berdiri tegak sehingga tidak diperbudak oleh pengejaran
aspek materil semata-mata dalam kehidupan ini. Kebebasan disini juga
harus diartikan sebagai kebebasan terhadap ajaran-ajaran yang dogmatis.
Jika kita memiliki kebebasan, itu berarti untuk selamanya kita mampu
berpikir jernih dan menilai segala sesuatu atas dasar keyakinan, pikiran
sehat dan hati nurani kita sendiri. Kebebasan juga meliputi kemampuan
individual atau masyarakat untuk memilih satu atau sebagian dari sekian
banyak pilihan yang tersedia. Manfaat inti yang terkandung dalam
penguasaan yang lebih besar itu adalah kebebasan untuk memilih
merasakan kenikmatan yang lebih besar dan bervariasi, untuk memilih
lebih banyak barang dan jasa.
Faktor-faktor yang ikut menentukan pola konsumsi keluarga antara lain
tingkat pendapatan keluarga, ukuran keluarga, pendidikan kepala keluarga dan status
kerja wanita. Untuk mendukung pernyataan tersebut, telah banyak penelitian
dilakukan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendapatan dan pola konsumsi
keluarga. Teori Engel’s yang menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat pendapatan
keluarga semakin rendah persentasi pengeluaran untuk konsumsi makanan
(Sumarwan, 1993). Berdasarkan teori klasik ini, maka keluarga bisa dikatakan lebih
sejahtera bila persentasi pengeluaran untuk makanan jauh lebih kecil dari persentasi
pengeluaran untuk bukan makanan. Artinya proporsi alokasi pengeluaran untuk
pangan akan semakin kecil dengan bertambahnya pendapatan keluarga, karena
sebagian besar dari pendapatan tersebut dialokasikan pada kebutuhan non pangan.
Jumlah anggota keluarga atau ukuran keluarga juga mempengaruhi pola
konsumsi. Hasil Survei Biaya Hidup (SBH) tahun 1989 membuktikan bahwa semakin
besar jumlah anggota keluarga semakin besar proporsi pengeluaran keluarga untuk
makanan dari pada untuk bukan makanan. Ini berarti semakin kecil jumlah anggota
keluarga, semakin kecil pula bagian pendapatan untuk kebutuhan makanan
(Sumarwan, 1993). Selebihnya, keluarga akan mengalokasikan sisa pendapatannya
untuk konsumsi bukan makanan. Dengan demikian, keluarga dengan jumlah anggota
sedikit relatif lebih sejahtera dari keluarga dengan jumlah anggota besar.
Selain jumlah anggota keluarga, tingkat pendidikan formal kepala keluarga
juga berpengaruh terhadap pola konsumsi keluarga. Pendidikan dapat merubah sikap
dan prilaku seseorang dalam memenuhi kebutuhannya. Makin tinggi tingkat
pendidikan seseorang maka makin mudah ia dapat menerima informasi dan inovasi
baru yang dapat merubah pola konsumsinya. Disamping itu makin tinggi tingkat
pendidikan formal maka kemungkinannya akan mempunyai tingkat pendapatan yang
relatif lebih tinggi (Sumarwan, 1993).
Perubahan karakteristik keluarga ini mempunyai dampak sangat penting pada
perubahan pola kebutuhan atau konsumsi keluarga misalnya makanan, perlengkapan
alat-alat rumah tangga, pelayanan kesehatan, perumahan dan pendidikan.
A. Keluarga Sejahtera
Strategi pengembangan kependudukan terus mengalami perluasan karena
masalah kependudukan pun telah bertambah luas dengan berbagai tantangan yang
semakin beragam. Dengan telah ditekannya laju pertumbuhan penduduk, maka
ukuran, struktur dan komposisi penduduk yang tercermin dalam unit-unit keluarga
akan mengalami perubahan baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya.
Undang-undang No. 10 tahun 1992 yang telah dirujuk menjadikan keluarga
sebagai satuan sosial terkecil dalam masyarakat, sekaligus sebagai suatu lembaga
yang amat penting dalam kehidupan manusia. Lembaga keluarga dalam budaya
masyarakat kita dianggap sebagai suatu jalinan jasmani, rohani dan sosial yang
mendasar dan mengakar dalam kehidupan, lembaga keluarga ini sarat dengan fungsi
(Achir, 1993).
Menurut Selo Sumarjan dalam Hatmaji (1993), keluarga merupakan institusi
perantara (mediator) antara individu dengan masyarakat. Sehubungan dengan itu,
keluarga memiliki beberapa fungsi antara lain refroduksi, ekonomi, afeksi, proteksi,
sosialisasi dan keagamaan.
Pada saat ini sedang terjadi pergeseran nilai di masyarakat, termasuk nilainilai
yang berlaku dalam keluarga, misalnya pembagian peran di dalam keluarga.
Perubahan nilai yang ada dalam masyarakat membuat wanita memiliki kemungkinan
yang lebih besar untuk terjun ke lapangan kerja sehingga mempengaruhi pembagian
peran antara suami dan isteri dalam suatu keluarga.
Tugas-tugas yang secara tradisional dilakukan oleh isteri antara lain mengurus
kebutuhan anak baik secara fisik maupun psikologis, mengurus pendidikan anak dan
mengurus penyediaan makanan untuk anggota keluarga mulai bergeser pada sebagian
keluarga. Si suami secara tradisional bertugas memberikan status sosial pada
keluarga, mencari nafkah dan mewakili keluarga dengan pihak-pihak lain yang ada di
dalam masyarakat mulai menerima limpahan tugas dari sang isteri.
Dengan adanya pergeseran nilai dalam keluarga tersebut mengakibatkan juga
terjadi perubahan pola konsumsi barang dan jasa dalam keluarga.
Keberhasilan program pemerintah dalam bidang kependudukan khusunya
penurunan fertilitas nampaknya sudah mulai nyata. Keberhasilan ini antara lain
berdampak pada perubahan struktur keluarga (Hatmadji, 1993). Lebih lanjut ia
mengatakan, struktur keluarga sudah berubah dari keluarga berukuran besar (jumlah
anak banyak) ke keluarga berukuran kecil (sedikit anak).
Pada tahun 1971 rata-rata jumlah anggota rumah tangga di Indonesia sebesar
5,3 orang, tahun 1980 mengalami penurunan menjadi 5,2 orang kemudian pada tahun
1990 penurunannya cukup berarti yakni dari 5,2 pada tahun 1980 menjadi 4,5 o rang
pada tahun 1990 (Kasto dan Sembiring, 1996).
Propinsi Sulawesi Selatan pada tahun 1980 mempunyai rata-rata jumlah
anggota rumah tangga sebanyak 5,3 orang, tahun 1990 mengalami penurunan
menjadi 4,9 orang dan kemudian pada tahun 2000 menjadi 4,6 orang (BPS, 2001).
Pada tahun 1980 rata-rata rumah tangga di huni oleh 5 sampai 6 orang anggota rumah
tangga yang terdiri dari suami, isteri dan 3 sampai 4 orang anak. Namun pada tahun
2000 telah mengalami penurunan dimana rata-rata setiap rumah tangga hanya dihuni
oleh 4 sampai 5 orang anggota rumah tangga, yang terdiri dari suami, isteri dan 2
sampai 3 orang anak.
Penurunan rata-rata anggota rumah tangga tersebut menunjukkan diterimanya
norma keluarga kecil dan menunjukkan kecenderungan pembentukan keluarga batih
atau inti (nuclear family), keluarga yang terdiri dari suami, isteri dan anak.
Hal lain yang dapat diungkap dari menurunnya rata-rata anggota rumah
tangga ini adalah menunjukkan adanya perubahan struktur dalam keluarga, yakni
perubahan dari struktur keluarga luas (extended family) ke arah keluarga batih
(nuclear family). Bahkan adanya perubahan dalam struktur keluarga batih sendiri juga
telah terjadi, yakni perubahan dari jumlah anak banyak ke arah jumlah anak yang
lebih sedikit.
Bersamaan dengan perubahan struktur kelurga, maka terjadi pula perubahan
fungsi dalam kelurga. Masing-masing anggota keluarga karena hubungannya dengan
masyakat lingkungannya akan mengembangkan perannya sesuai dengan tuntutan
yang diharapkan oleh lingkungan tersebut. Salah satu fenomena yang terjadi adalah
masuknya wanita dalam pasar kerja, yang mau tidak mau akan menyebabkan
terjadinya perubahan status dan peran yang mereka mainkan sebelumnya (BKKBN,
1992). Lebih lanjut dijelaskan bahwa, dengan masuknya wanita dalam angkatan
kerja, berarti akan memberikan peranan ekonomi yang lebih besar terhadap keluarga
terutama dalam membantu meningkatkan pendapatan keluarga. Pada gilirannya akan
memberikan dampak psikologis, sosial dan budaya baik pada keluarga itu sendiri
maupun pada masyarakat lainnya.
Konsep keluarga sejahtera sangat beragam, menurut Selo Sumardjan dalam
Hatmadji (1993), sejahtera hanya dilihat dari sisi pencapaian finansial, sedangkan
kondisi ideal yang dari sisi psikologis diartikan sebagai bahagia. Lebih lanjut ia
katakan bahwa kesejahteraan itu haruslah bersifat komprehensif, tingkat pencapaian
kesejahteraan antara satu keluarga dengan keluarga lainnya tidak dapat
diperbandingkan, karena kesejahteraan berkaitan erat dengan tujuan hidup masingmasing
keluarga.
B. Perubahan Pola Konsumsi
Dalam ilmu ekonomi dijelaskan bahwa ekonomi merupakan asumsi dalam
teori ekonomi seseorang bertindak secara rasional dalam mencapai tujuannya dan
kemudian mengambil keputusan yang konsisten dengan tujuan tersebut.
Haris dan Andika (2002) mengemukakan beberapa macam kebutuhan pokok
manusia untuk bisa hidup secara wajar, yaitu :
1. Kebutuhan pangan atau kebutuhan akan makanan.
2. Kebutuhan sandang atau pakaian.
3. Kebutuhan papan atau tempat berteduh.
4. Kebutuhan pendidikan untuk menjadi manusia bermoral dan berbudaya.
Kebutuhan tersebut di atas merupakan kebutuhan primer yang harus dipenuhi
untuk dapat hidup wajar. Bila kebutuhan itu kurang dapat dipenuhi secara
memuaskan maka hal itu merupakan suatu indikasi bahwa kita masih hidup di bawah
garis kemiskinan. Kebutuhan lain seperti : kebutuhan akan perabot rumah tangga,
meja, kursi, lemari, alat-alat dapur, radio, televisi dan aneka kebutuhan lainnya,
disebut sebagai kebutuhan sekunder atau kebutuhan pelengkap yang ditambahkan
sesuai dengan peningkatan pendapatan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa, untuk dapat
memenuhi kebutuhan hidup, kita membutuhkan uang atau penghasilan. Tanpa bekerja
kita tak mungkin mendapatkan penghasilan. Tanpa penghasilan kita tak mungkin
dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan hidup secara wajar.
Semakin banyaknya isteri atau ibu rumah tangga yang masuk dalam dunia
kerja mengakibatkan terjadinya perubahan dalam keluarga. Dalam menghadapi
perubahan ini maka keluarga harus mempunyai beberapa strategi untuk mengatasi
kendala waktu yang dihadapinya. Dua strategi pokok yang dapat dilakukan keluarga
yang bekerja agar kesejahteraan keluarga dapat tercapai adalah membeli waktu dan
menghemat waktu. Membeli waktu merupakan usaha yang dilakukan keluarga untuk
membeli alat-alat rumah tangga, (household appliances) seperti mesin cuci, kulkas,
alat-alat dapur dan lain sebagainya, serta menggunakan jasa-jasa pelayanan. Strategi
semacam ini membuat keluarga lebih mengandalkan alat-alat listrik dalam melakukan
pekerjaan rumah tangga. Selain itu, keluarga dapat menggunakan jasa orang lain
untuk memenuhi kebutuhannya, misalnya menggunakan jasa binatu, jasa penitipan
dan pengasuhan anak, membayar pembantu rumah tangga, sering makan di rumah
makan atau membeli makanan yang siap dihidangkan.
Strategi menghemat waktu, merupakan usaha yang dilakukan oleh keluarga
untuk mengalokasikan pekerjaan rumah tangga yang biasa dilakukan oleh isteri/ibu
kepada suami/ayah atau anak-anak. Strategi menghemat waktu termasuk pula
pengurangan kuantitas dan kualitas pekerjaan rumah tangga yang harus dilakukan,
misalnya mengurangi waktu santai dan kegiatan sosial.
Kendala waktu yang dihadapi keluarga masa depan dan strategi untuk
mengatasinya akan mempengaruhi pola konsumsi keluarga tersebut, baik secara
langsung ataupun tidak langsung. Hal ini didukung oleh industri makanan yang
memproduksi berbagai jenis makanan jadi, industri restoran dan fast food yang
tumbuh pesat (Wilopo, 1998).
Jumlah rumah tangga atau keluarga yang menerapkan strategi membeli waktu
semakin banyak, maka semua itu akan berakibat pada peningkatan permintaan alatalat
rumah tangga. Oleh sebab itu, pengeluaran konsumsi untuk makanan jadi dan
alat-alat rumah tangga akan semakin besar.
Di pihak lain makanan jadi yang tersedia di pasar belum tentu memberikan
jaminan gizi yang baik. Kurangnya nilai gizi dari makanan tersebut membawa
dampak negatif terhadap kesehatan keluarga. Dengan demikian strategi menghemat
waktu tanpa memperhatikan kebutuhan tubuh akan membawa dampak negatif pada
kesehatan keluarga, yang mengakibatkan timbulnya berbagai macam penyakit.
Kondisi semacam ini mempengaruhi pengeluaran keluarga untuk konsumsi jasa
kesehatan dan obat-obatan.
Perubahan pola konsumsi terhadap aneka barang dan jasa diperkirakan akan
meningkat dengan pesat di masa mendatang sejalan dengan perubahan struktur
keluarga, perbaikan tingkat pendapatan, serta semakin banyaknya keluarga yang
menerapkan strategi membeli waktu.
C. Perilaku Konsumen
Menurut Joesron dan Fathorrozi (2003), kebutuhan manusia relatif tidak
terbatas sementara sumber daya yang tersedia sangat terbatas, hal ini mengakibatkan
manusia dalam memenuhi setiap kebutuhannya akan berusaha memilih alternatif
yang paling menguntungkan bagi dirinya. Lebih lanjut ia katakan bahwa timbulnya
perilaku konsumen karena adanya keinginan memperoleh kepuasan yang maksimal
dengan berusaha mengkonsumsi barang dan jasa sebanyak-banyaknya, tetapi
mempunyai keterbatasan pendapatan.
1. Fungsi Permintaan
Permintaan merupakan jumlah barang dan jasa yang diminta pada berbagai
tingkat harga dalam waktu tertentu. Sukirno (1985) menyatakan permintaan
seseorang atas sesuatu barang ditentukan oleh banyak faktor, diantaranya yang
terpenting adalah:
1. Harga barang itu sediri
2. Harga barang-barang lain yang mempunyai kaitan erat dengan barang
tersebut
3. Pendapatan rumah tangga dan pendapatan rata-rata masyarakat
4. Corak ditribusi pendapatan dalam masyarakat
5. Citarasa masyarakat
6. Jumlah penduduk
7. Ramalan mengenai keadaan di masa yang akan datang
Hubungan antara tingkat harga dan jumlah barang yang diminta dapat
disajikan dalam kurva permintaan. Kurva permintaan menunjukkan tempat titik-titik yang mengambarkan maksimum pembelian pada harga tertentu dengan anggapan ceteris paribus (hal-hal lain dianggap tetap).
Permintaan suatu barang bukan hanya dipengaruhi oleh harga barang tersebut,
melainkan juga dipengaruhi oleh pendapatan konsumen, selera, harga barang lain dan
masih banyak faktor lainnya yang dapat diidentifikasi sebagai faktor yang
mempengaruhi permintaan.
Adanya asumsi ceteris paribus, yaitu faktor lain selain harga dianggap tetap,
maka sepanjang fungsi permintaan individu akan dapat dijumpai adanya perubahan
jumlah yang diminta sebagai akibat perubahan harga. Dengan kata lain, dalam suatu
kurva yang sama akan terdapat gerakan dari suatu titik ke titik lainnya apabila harga
suatu barang mengalami perubahan.
Apabila faktor lain, selain harga mengalami perubahan maka fungsi
permintaan akan ikut berubah pula. Misalkan pendapatan konsumen meningkat maka
fungsi permintaan akan bergeser ke kanan (atas), begitu pula sebaliknya bila
pendapatan konsumen berkurang maka fungsi permintaan bergeser ke kiri (bawah).
Ada beberapa pendekatan yang sering digunakan untuk menjelaskan
terbentuknya fungsi permintaan konsumen, yaitu:
A. Pendekatan Kardinal (Cardinal Approach).Menurut pendekatan ini,
daya guna dapat diukur dengan satuan uang atau utilitas, dan tinggi rendahnya nilai
atau daya guna tergantung kepada subyek yang menilai. Pendekatan ini juga
mengandung anggapan bahwa semakin berguna suatu barang bagi seseorang, maka
akan semakin diminati. Asumsi dari pendekatan ini adalah:
1. Konsumen rasional, artinya konsumen bertujuan memaksimalkan
kepuasannya dengan batasan pendapatannya.
2. Diminishing marginal utility, artinya tambahan utilitas yang diperleh
konsumen makin menurun dengan bertambanya konsumsi dari komoditas
tersebut.
3. Pendapatan konsumen tetap
4. Uang mempunyai nilai subyektif yang tetap.
5. Total utility adalah additive dan independent. Additive artinya daya guna
dari sekumpulan barang adalah fungsi dari kuantitas masing-masing
barang yang dikonsumsi.
B. Pendekatan Ordinal. Dalam pendekatan ini daya guna suatu barang
tidak perlu diukur, cukup untuk diketahui dan konsumen mampu membuat urutan
tinggi rendahnya daya guna yang diperoleh dari mengkonsumsi sekelompok barang.
Pendekatan yang dipakai dalam teori ordinal adalah indefference curve, yaitu
kurva yang menunjukkan kombinasi 2 (dua) macam barang konsumsi yang
memberikan tingkat kepuasan sama. Asumsi dari pendekatan ini adalah:
1. Konsumen rasional
2. Konsumen mempunyai pola preferensi terhadap barang yang disusun
berdasarkan urutan besar kecilnya daya guna
3. Konsumen mempunyai sejumlah uang tertentu
4. Konsumen selalu berusaha mencapai kepuasan maksimum
5. Konsumen konsisten, artinya bila barang A lebih dipilih daripada B karena
A lebih disukai daripada B, tidak berlaku sebaliknya
6. Berlaku hukum transitif, artinya bila A lebih disukai daripada B dan B
lebih disukai daripada C, maka A lebih disukai daripada C
C. Preferensi Nyata (Revealed Preference Hypothesis). Kurva permintaan
dapat disusun secara langsung berdasarkan perilaku konsumen di pasar. Asumsi yang
menjadi dasar berlakunya teori ini antara lain adalah:
1. Rasionalisasi, yaitu konsumen adalah rasional, juga mengandung pengertian
bahwa jumlah barang banyak lebih disukai daripada barang sedikit.
2. Konsisten artinya seperti biasanya apabila konsumen telah menentukan A
lebih disukai daripada B maka dia tidak sekali-kali mengatakan bahwa B
lebih disukai dari pada A.
3. Asas transitif, artinya bila konsumen menyatakan A lebih disukai dari pada
B dan B lebih disukai daripada C, maka ia akan menyatakan juga bahwa A
lebih disukai daripada C.
4. Konsumen akan menyisihkan sejumlah uang untuk pengeluarannya. Jumlah
ini merupakan anggaran yang dapat dipergunakannya. Kombinasi barang X
dan Y yang sesungguhnya dibeli di pasar merupakan preferensi atas
kombinasi barang tersebut. Kombinasi yang dibeli ini akan memberikan
dayaguna yang tertinggi.
D. Pendekatan Atribut. Pendekatan ini mempunyai pandangan bahwa
konsumen dalam memberi produk tidak hanya karena daya guna dari produk tersebut,
tetapi karena karakteristik atau atribut-atribut yang disediakan oleh produk tersebut.
Ada beberapa keunggulan pendekatan atribut antara lain :
1. Kita akan terlepas dari diskusi mengenai bagaimana mengukur daya guna suatu
barang, yang merupakan asumsi dari pendekatan sebelumnya.
2. Pendekatan ini memandang suatu barang diminta konsumen bukan jumlahnya,
melainkan atribut yang melekat pada barang tersebut, sehingga lebih dapat
dijelaskan tentang pilihan konsumen terhadap produk.
3. Dapat digunakan untuk banyak barang, sehingga bersifat praktis dan lebih
mendekati kenyataan, serta operasionalisasinya lebih mudah.
D. Ukuran Keluarga
Keluarga yang dimaksud dalam penelitian ini adalah rumah tangga. Dalam
suatu rumah tangga biasanya dikepalai oleh seorang kepala rumah tangga, yaitu orang
dianggap paling bertanggungjawab atas kebutuhan sehari-hari dalam rumah tangga
tersebut, atau orang yang ditunjuk dan dituakan sebagai kepala rumah tangga. Selain
kepala rumah tangga terdapat pula anggota rumah tangga yang mempunyai hubungan
kekerabatan dengan kepala rumah tangga seperti isteri, anak, menantu, cucu, orang
tua, mertua, famili dan lain-lain.
Besarnya rumah tangga menyatakan jumlah seluruh anggota yang menjadi
tanggungan dalam rumah tangga tersebut. Besaran rumah tangga dapat memberikan
indikasi beban rumah tangga. Semakin tinggi besaran rumah tangga berarti semakin
banyak anggota rumah tangga yang selanjutnya semakin berat beban rumah tangga
tersebut untuk memenuhi kebutuhannya, terutama untuk rumah tangga dengan tingkat
pendapatan rendah (BPS, 2001).
Kebutuhan anggota keluarga akan makanan berbeda-beda tergantung dari
struktur umur. Menurut Sediaoetama (1985), distribusi kebutuhan pangan dalam
keluarga tidak merata, artinya setiap anggota keluarga tersebut mendapat jumlah
makanan yang sesuai dengan tingkat kebutuhannya, menurut umur dan keadaan
fisiknya.
Zat gizi yang diperlukan oleh anak-anak dan anggota keluarga yang masih
muda pada umumnya lebih tinggi dari kebutuhan orang dewasa, tetapi kalau
dinyatakan dalam kuantum absolut, anak-anak tentu membutuhkan kuantum makanan
yang lebih kecil dibandingkan dengan kuantum makanan yang diperlukan oleh orang
dewasa.
E. Jenis Pekerjaan
Di negara-negara miskin sebagian besar energi di dalam hidangan berasal dari
korbohidrat, terutama bila kondisi negaranya memungkinkan adanya pertanian maka
karbohidrat umumnya didapat dari padi-padian. Di negara yang mata pencaharian
masyarakatnya terutama beternak, sebagian besar energi, bahkan seluruh energi
berasal dari protein hewani dan lemak.
Di Indonesia sekitar 70 – 80 % dari seluruh energi untuk keperluan tubuh
berasal dari karbohidrat. Menurut Sediaoetama (1989), semakin rendah tingkat
ekonomi suatu keluarga maka semakin tinggi persentasi energi tersebut berasal dari
karbohidrat, karena energi dari karbohidrat termasuk yang paling murah. Lebih lanjut
dikatakan bahwa keluarga yang mengalami kemajuan dalam ekonominya, terlihat
adanya pergeseran sumber energi dari karbohidrat ke protein dan lemak.
Energi yang dibutuhkan oleh tubuh berasal dari karbohidrat, lemak dan
protein. Energi tersebut dibagi menjadi dua kelompok besar menurut penggunaannya
yaitu untuk kebutuhan metabolisme tubuh dan energi yang digunakan untuk
melakukan pekerjaan luar (Sediaoetama, 1985).
Walaupun tubuh tidak melakukan pekerjaan atau aktifitas luar seperti tidur,
tetap menggunakan energi. Energi tersebut dipergunakan untuk kebutuhan
metabolisme sel dalam tubuh. Energi tersebut diperlukan minimal untuk
melaksanakan hayat hidup biologis.
Dalam melakukan suatu pekerjaan atau aktifitas sangat membutuhkan energi
atau tenaga, energi tersebut berasal dari makanan yang dikonsumsi (Sukarni, 1994).
Lebih jauh ia katakan, energi dalam jumlah besar terutama diperlukan untuk kerja
otot yang melakukan pekerjaan luar. Misalnya orang yang pekerja sebagai buruh
bangunan, petani, tukang becak, yang hanya mengandalkan fisik atau kekuatan otot,
akan memerlukan makanan dalam jumlah relatif lebih besar untuk sanggup
melakukan pekerjaan tersebut .
Untuk melakukan kegiatan fisik yang sama, orang dengan ukuran tubuh besar
menggunakan lebih banyak energi dari pada ukuran tubuh kecil, karena untuk
menggerakkan tubuh yang lebih besar diperlukan enegi yang lebih banyak. Akan
tetapi, kegiatan fisik mempengaruhi lebih banyak pengeluaran energi dari pada
pengaruh ukuran tubuh (Suhardjo, 1986).
Klasifikasi pekerja menurut status pekerjaan dapat dibagi atas dua kelompok
yaitu sektor informal dan formal (Bakir dan Manning, 1984).
Klasifikasi tenaga kerja menurut jenis pekerjaan utama dapat dibagi atas tiga
jenis yaitu kelompok terampil, setengah terampil dan tidak terampil.
F. Pendidikan
Investasi sumber daya manusia bukan merupakan tanggung jawab salah satu
sektor pembangunan tetapi bersifat multisektor seperti pendidikan, kesehatan,
program kependudukan dan lain-lain. Namun demikian, di antara berbagai bentuk
investasi sumber daya manusia tersebut, pendidikan dapat dikatakan sebagai
katalisator utama pengembangan sumber daya manusia, dengan asumsi bahwa
semakin terdidik seseorang, semakin tinggi pula kesadarannya terhadap pembentukan
keluarga sejahtera.
Pendidikan merupakan upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai
dengan amanat yang telah dituangkan dalam Pembukaan Undang-undang Dasar
1945. Hal tersebut merupakan landasan yang kuat bagi pemerintah untuk
mencanangkan program wajib belajar. Program wajib belajar tersebut dimaksudkan
untuk memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warga negara
untuk memperoleh pendidikan. Program pendidikan tidak selamanya harus
terselenggara di lingkungan sekolah, tetapi juga pendidikan berkelanjutan seperti
kursus-kursus, pelatihan kerja, pendidikan dalam jabatan dan sejenisnya (Suryadi,
1997).
Pendidikan berorientasi pada penyiapan tenaga kerja terdidik, terampil dan
terlatih sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Pendidikan dalam kaitannya dengan
penyiapan tenaga kerja harus selalu lentur dan berwawasan lingkungan agar
pendidikan keterampilan dan keahlian dapat disesuaikan dengan kebutuhan akan
jenis-jenis keterampilan serta keahlian profesi yang selalu berubah (Mantra, 2000).
Pendidikan diharapkan dapat mengatasi keterbelakangan ekonomi lewat
efeknya pada peningkatan kemampuan manusia dan motivasi manusia untuk
berprestasi. Pendidikan berfungsi menyiapkan salah satu input dalam proses
produksi, yaitu tenaga kerja, agar dapat bekerja dengan produktif karena kwalitasnya.
Hal ini akan mendorong peningkatan out put yang diharapkan pada akhirnya dapat
meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Titik singgung antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi adalah
produktivitas tenaga kerja, dengan asumsi bahwa semakin tinggi mutu pendidikan
seseorang maka semakin tinggi pula produktivitasnya, dan semakin tinggi pula
pengaruhnya terhadap pendapatan keluarga (Ananta,1993).
Tingkat pendidikan kepala keluarga juga berpengaruh terhadap pola konsumsi
keluarga. Hasil Survei Biaya Hidup tahun 1989 mendukung keterkaitan tersebut.
Hasil survei membuktikan bahwa, semakin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga,
semakin kecil persentasi pengeluaran untuk konsumsi pangan (Sumarwan 1993).
G. Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian yang telah
dikemukakan, maka hipotesis penelitian ini dirumuskan sebagai berikut.
Kondisi sosial ekonomi keluarga (pendapatan, pendidikan, jenis pekerjaan dan
ukuran keluarga) mempengaruhi pola konsumsi keluarga.
Senin, 01 Maret 2010
BAHASA PADA MODEL RELASIONAL
TUGAS SIM 2
BAHASA PADA MODEL RELASIONAL
Menggunakan bahasa query pernyataan yang diajukan untuk mengambil informasi terbagi 2, yaitu:
1. Bahasa Formal
Bahasa query yang diterjemahkan dengan menggunakan symbol-simbol matematis.
Contohnya: aljabar relasional dan kalkulus relasional
a. Aljabar Relasional
Bahasa query procedural, pemakai menspesifikasikan data apa yang dibutuhkan dan bagaimana untuk mendapatkannya.
b. Kalkulus Relasional
Bahas query non-prosedural, pemakai menspesifikasikan data apa yang dibutuhkan tanpa menspesifikasikan bagaimana untuk menapatkannya. Terbagi 2:
1. Kalkulus Relasional Tupel
2. Kalkulus Relasional Domain
2. Bahasa Komersial
Bahasa query yang dirancang sendiri oleh programmer menjadi suatu program aplikasi agar pemakai lebih mudah menggunakannya (user friendly).
Contohnya:
a. QUEL
Berbasis pada bahasa kalkulus relational
b. QBE
Berbasis pada bahasa kalkulus relational
c. SQL
Berbasis pada bahasa kalkulus relational dan aljabar relational
REFERENSI :
desthi-m.blogspot.com/.../bahasa-pada-model-data-relasional_01.html
BAHASA PADA MODEL RELASIONAL
Menggunakan bahasa query pernyataan yang diajukan untuk mengambil informasi terbagi 2, yaitu:
1. Bahasa Formal
Bahasa query yang diterjemahkan dengan menggunakan symbol-simbol matematis.
Contohnya: aljabar relasional dan kalkulus relasional
a. Aljabar Relasional
Bahasa query procedural, pemakai menspesifikasikan data apa yang dibutuhkan dan bagaimana untuk mendapatkannya.
b. Kalkulus Relasional
Bahas query non-prosedural, pemakai menspesifikasikan data apa yang dibutuhkan tanpa menspesifikasikan bagaimana untuk menapatkannya. Terbagi 2:
1. Kalkulus Relasional Tupel
2. Kalkulus Relasional Domain
2. Bahasa Komersial
Bahasa query yang dirancang sendiri oleh programmer menjadi suatu program aplikasi agar pemakai lebih mudah menggunakannya (user friendly).
Contohnya:
a. QUEL
Berbasis pada bahasa kalkulus relational
b. QBE
Berbasis pada bahasa kalkulus relational
c. SQL
Berbasis pada bahasa kalkulus relational dan aljabar relational
REFERENSI :
desthi-m.blogspot.com/.../bahasa-pada-model-data-relasional_01.html
TUGAS B.INDONESIA
Penalaran dan Argumentasi
Aksi 2 Maret Berpusat di Depan DPR
Laporan wartawan KOMPAS.com Caroline Damanik Senin, 1 Maret 2010 | 15:31 WIB JAKARTA, KOMPAS.com —Para mahasiswa dan sejumlah elemen masyarakat akan menggelar aksi besar-besaran di depan Gedung MPR/DPR/DPD RI, Selasa (2/3/2010), untuk mendorong agar Pansus Hak Angket Pengusutan Kasus Bank Century DPR RI berani menghasilkan rekomendasi maksimal. Dalam aksi ini, Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (HMI MPO) pun turut serta. HMI MPO memperkirakan akan membawa kekuatan 500-750 massa untuk tumpah ruah di jalanan besok. Tak hanya dari Jakarta, massa HMI MPO yang akan ikut berasal dari sejumlah kota di Jawa, seperti Yogyakarta, Bojonegoro, Surabaya, Bogor, Serang, dan Lebak. "Besok, Pansus harus berani tegas sebutkan nama siapa yang bertanggung jawab. Harus tegas, itu waktu dua bulan sudah cukup untuk menganalisis," tutur Ketua HMI MPO Chozin Amirullah di Universitas Paramadina, Senin (1/3/2010). Selain di Jakarta, mahasiswa HMI MPO di daerah juga akan menggelar aksi serupa di daerahnya masing-masing, misalnya di Makassar. Untuk rekan-rekannya di daerah, surat instruksi di daerah sudah dikeluarkan. Tujuannya untuk menyatukan suara dan tuntutan. Menurut Chozin, aksi unjuk rasa masih perlu dilakukan meski publik menilai dampaknya kini kurang signifikan atau karena banyaknya massa bayaran yang dampaknya justru untuk membuat kekuasaan baru. "Saya pikir itu tetap punya kekuatan. Kalaupun ada kekuasaan baru, itu juga akan kami kritisi," lanjutnya kemudian. Dalam aksi besok, lanjutnya, akan turun pula BEM sejumlah universitas, BEM se-Jabodetabek, Gerakan Indonesia Bersatu (GIB), Petisi 28, dan Front Umat Islam Bersatu (FUIB).
Merah : PENALARAN
Kuning : ARGUMENTASI
Aksi 2 Maret Berpusat di Depan DPR
Laporan wartawan KOMPAS.com Caroline Damanik Senin, 1 Maret 2010 | 15:31 WIB JAKARTA, KOMPAS.com —Para mahasiswa dan sejumlah elemen masyarakat akan menggelar aksi besar-besaran di depan Gedung MPR/DPR/DPD RI, Selasa (2/3/2010), untuk mendorong agar Pansus Hak Angket Pengusutan Kasus Bank Century DPR RI berani menghasilkan rekomendasi maksimal. Dalam aksi ini, Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (HMI MPO) pun turut serta. HMI MPO memperkirakan akan membawa kekuatan 500-750 massa untuk tumpah ruah di jalanan besok. Tak hanya dari Jakarta, massa HMI MPO yang akan ikut berasal dari sejumlah kota di Jawa, seperti Yogyakarta, Bojonegoro, Surabaya, Bogor, Serang, dan Lebak. "Besok, Pansus harus berani tegas sebutkan nama siapa yang bertanggung jawab. Harus tegas, itu waktu dua bulan sudah cukup untuk menganalisis," tutur Ketua HMI MPO Chozin Amirullah di Universitas Paramadina, Senin (1/3/2010). Selain di Jakarta, mahasiswa HMI MPO di daerah juga akan menggelar aksi serupa di daerahnya masing-masing, misalnya di Makassar. Untuk rekan-rekannya di daerah, surat instruksi di daerah sudah dikeluarkan. Tujuannya untuk menyatukan suara dan tuntutan. Menurut Chozin, aksi unjuk rasa masih perlu dilakukan meski publik menilai dampaknya kini kurang signifikan atau karena banyaknya massa bayaran yang dampaknya justru untuk membuat kekuasaan baru. "Saya pikir itu tetap punya kekuatan. Kalaupun ada kekuasaan baru, itu juga akan kami kritisi," lanjutnya kemudian. Dalam aksi besok, lanjutnya, akan turun pula BEM sejumlah universitas, BEM se-Jabodetabek, Gerakan Indonesia Bersatu (GIB), Petisi 28, dan Front Umat Islam Bersatu (FUIB).
Merah : PENALARAN
Kuning : ARGUMENTASI
Kamis, 25 Februari 2010
Jumat, 19 Februari 2010
ARSITEKTURE DATABASE
Profesional database zaman sekarang menghadapi beberapa pilihan ketika mempertimbangkan arsitektur yang akan digunakan untuk mengatasi berbagai kebutuhan para klien nya. Bahasan dibawah akan memberikan gambaran dari tiga katefori utama arsitektur database dan sub kategorinya, dan juga beberapa wawasan manfaat dari masing-masing arsitektur database.
Aplikasi Logika
Arsitektur database dapat dibedakan dengan memeriksa cara logika aplikasi didistribusikan di seluruh sistem. Aplikasi logika terdiri dari tiga komponen: Presentasi Logika, Pengolahan Logika, dan Storage Logic.
Presentasi Komponen logika bertanggung jawab untuk memformat dan menampilkan data pada layar pengguna. Pemrosesan komponen logika menangani manajemen data logika pemrosesan, logika aturan bisnis, dan manajemen data logika. Akhirnya, komponen logika penyimpanan bertanggung jawab atas penyimpanan dan pengambilan dari perangkat yang sebenarnya seperti sebagai hard drive atau RAM. Dengan menentukan tingkat baris komponen ini diproses, kita bisa mendapatkan ide bagus tentang apa jenis arsitektur dan subtipe kita hadapi.
One Tier Architectures
Bayangkan seseorang pada sebuah komputer desktop yang menggunakan Microsoft Access untuk memuat daftar alamat pribadi dan nomor telepon yang telah dia simpan dalam MS Windows “My Documents” folder. Ini adalah contoh dari satu database tier arsitektur. program (Microsoft Access) berjalan pada komputer lokal pengguna, dan referensi file yang disimpan pada hard drive komputer, sehingga menggunakan satu sumber daya fisik untuk mengakses dan memproses informasi.
Contoh lain dari one-tier architecture adalah sebuah file server arsitektur. Dalam skenario ini, sebuah workgroup database disimpan dalam lokasi bersama pada satu mesin. Anggota Workgroup menggunakan paket perangkat lunak seperti Microsoft Access untuk memuat data dan kemudian proses di mesin lokal mereka. Dalam hal ini, data dapat diberikan di antara pengguna yang berbeda, tapi semua pemrosesan terjadi pada komputer lokal. Intinya, file-server hanya sebuah hard drive ekstra dari yang digunakan untuk mengambil file-file.
Namun cara lain one-tier architecture yang muncul adalah dari komputer mainframe. Dalam sistem yang sudah ketinggalan zaman, mesin besar menyediakan terminal terhubung langsung dengan sarana yang diperlukan untuk mengakses, melihat dan memanipulasi data. Meskipun ini dianggap sebagai sistem client-server, karena semua kekuatan pemrosesan (baik untuk data dan aplikasi) terjadi pada satu mesin, kita memiliki one-tier architecture.
One-tier architecture dapat bermanfaat ketika kita berhadapan dengan data yang relevan kepada satu pengguna (atau sejumlah kecil pengguna) dan kita memiliki jumlah data yang relatif kecil. Mereka agak murah untuk menyebarkan dan mempertahankan.
Two Tier Client/Server Architectures
Two-tier architecture adalah salah satu yang familiar bagi banyak pengguna komputer saat ini. implementasi yang umum dari jenis sistem ini adalah bahwa klien berbasis program Microsoft Windows yang mengakses server database seperti Oracle atau SQL Server. Pemakai berinteraksi melalui GUI (Graphical User Interface) untuk berkomunikasi dengan database server di sebuah jaringan melalui SQL (Structured Query Language).
Dalam two-tier architecture yang penting untuk dicatat bahwa ada dua konfigurasi. Seorang thin-client (fat-server) konfigurasi ada ketika sebagian besar pemrosesan terjadi di server tier. Sebaliknya, fat-client (thin-server) konfigurasi ada ketika sebagian besar pengolahan terjadi pada mesin klien.
Contoh lain dari tingkat dua arsitektur dapat dilihat di web aplikasi berbasis database. Dalam kasus ini, user berinteraksi dengan database melalui aplikasi yang disediakan di web-server dan ditampilkan melalui web browser seperti Internet Explorer. Web server memproses aplikasi web, yang dapat ditulis dalam bahasa seperti PHP atau ASP. Aplikasi web menyambung ke server database SQL menyampaikan pernyataan yang pada gilirannya digunakan untuk mengakses, melihat dan memodifikasi data. DB Server kemudian akan mengirimkan data yang diminta yang kemudian diformat oleh server web bagi pengguna.
Meskipun hal ini tampaknya merupakan sistem tingkat tiga karena jumlah mesin yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proses, tetapi bukan. Web-server rumah biasanya tidak ada peraturan bisnis dan karena itu harus dianggap sebagai bagian dari klien tier di kemitraan dengan web-browser.
Two-tier architectures can prove to be beneficial when we have a relatively small number of users on the system (100-150) and we desire an increased level of scalability. Two-tier architecture bisa jadi menguntungkan ketika kita memiliki jumlah pengguna yang relatif kecil pada sistem (100-150) dan kita menginginkan peningkatan level skalabilitas.
Two-Tier Client-Server Architecture
Web-Based, Two-Tier Client-Server Architecture
N-Tier Client/Server Architecture
Kebanyakan n-tier arsitektur database yang ada pada three-tier konfigurasi. Dalam arsitektur klien / server model diperluas untuk memasukkan tingkat menengah (bisnis tier), yaitu aplikasi server yang menempatkan logika bisnis. Tingkat menengah ini mengurangi pemrosesan tugas aplikasi client dan beberapa database server dengan menerjemahkan panggilan klien ke dalam database queries dan menerjemahkan data dari database ke data klien kembali. Akibatnya, klien dan server tidak pernah berbicara langsung dengan satu-lain. Variasi dari n-tier arsitektur adalah aplikasi web berbasis n-tier. Sistem-sistem ini menggabungkan manfaat skalabilitas n-tier klient / server sistem dengan antarmuka pengguna yang kaya dari sistem berbasis web.
Karena tingkat menengah di tingkat tiga arsitektur berisi logika bisnis, ada peningkatan skalabilitas yang baik dan isolasi dari logika bisnis, serta menambahkan fleksibilitas dalam memilih database vendor.
Three-Tier Client/Server
Web-Based, Three-Tier Client Server Architecture
KESIMPULAN
Salah satu perubahan paling dramatis di pasar perangkat lunak perusahaan akan datang ke sebuah database di dekat Anda, dan dampak dari revolusi database yang tertunda ini akan dirasakan dalam berbagai bagian dari perusahaan, belum lagi tempat-tempat seperti Redmond, Redwood Shores, dan Armonk.
Apa revolusi ini menggembar-gemborkan multiprong pergeseran dari Microsoft SQL Server, Oracles, dan IBM DB2s dunia untuk campuran antara pilihan open source yang mencakup database, database di memori, dan turnkey database / hardware kumpulan, antara lain. Meskipun Anda mungkin tidak ingin merobek dan mengganti sistem saat ini untuk mengambil keuntungan dari revolusi database yang akan datang, Anda mungkin ingin serius mempertimbangkan salah satu pilihan baru ini ketika Anda merencanakan Greenfield baru Anda, database-operasi intensif. Namun berbeda pilihan, kekuatan dibelakang revolusi ini adalah sama. Hal ini sangat banyak kasus bagi perusahaan-perusahaan menggunakan sebagian besar aplikasi dan data yang dikemas gudang, yang dirancang untuk berjalan pada berbagai database dan karena itu memperlakukan database seperti teknologi generik. Dan juga kasus untuk non-tradisional, perusahaan berbasis web yang menggunakan database untuk mengelola hal-hal seperti seperti pencarian dan aplikasi besar lainnya yang tetap tidak memerlukan semua lonceng dan peluit dari database relasional yang mereka didasarkan.
Driver utama lainnya adalah gerakan open source, yang memiliki database tegas dalam crosshairs dan telah diperanakkan mengesankan jumlah perusahaan database open source: MySQL, Ingres, dan Greenplum, untuk menyebutkan hanya beberapa. Geng open source adalah melakukan banyak kerusakan harga tradisional dan pada saat yang sama upping taruhan dengan menyediakan peningkatan jumlah fungsi yang mulai merambah ke wilayah Tiga Besar penyedia ‘rumput Salah satu perusahaan, Greenplum, telah sampai pada tahap untuk bundel sebuah gudang data turnkey, berdasarkan Sun Microsystems hardware, yang pada dasarnya mengambil dari nol biaya gudang data tradisional tanpa sedikit atau tidak ada pengorbanan.
Sementara itu “in-memori” konsep database mulai mengambil terus. Akuisisi Oracle TimesTen, salah satu pionir in-memori, adalah simbol dari seberapa serius bahkan pemain tradisional mengambil tantangan ini. Dan baik mereka harus: Menjalankan transaksi yang kompleks dan permintaan dalam memori, bukan pada disk, memiliki throughput besar dan manajemen keuntungan. Dan dengan harga memori yang turun lebih cepat daripada biaya penyimpanan database tradisional, in-memori adalah sikap untuk menantang diterimanya pemikiran tentang besar peternakan dan penyimpanan data array, belum lagi biaya administrasi dan overhead.
Apa ini berarti secara singkat adalah bahwa ada beberapa hal penting cara-cara baru di mana perusahaan Anda dapat menempatkan database yang anda perlukan untuk menjalankan aplikasi mission-critical tanpa harus mamakai lisensi Oracle, SQL Server, atau DB2. Jika database bertindak seperti sebuah komoditas, kemudian memperlakukannya seperti itu dan mengambil penghematan dan menerapkannya pada sesuatu yang inovatif. Ini adalah salah satu revolusi Anda pasti ingin bergabung.
Download Artikel dalam pdf disini.
Download Referensi dalam .zip disini.
Referensi :
http://asepsyaifulmillah.blog.upi.edu/2009/10/20/revolusi-arsitektur-database/
http://bowoblog.wordpress.com/2009/05/26/kegunaan-database/
http://www.ddj.com/database/193001371
http://unixspace.com/context/databases.html
http://mhs.stiki.ac.id/boysagi/bdl/bukudb11.doc
http://search.arxiv.org:8081/details.jsp?qid=125598241711590f_nCnN_-699957647&r=pdf/cs/0305038v1
ftp://ftp.research.microsoft.com/pub/tr/tr-2004-31.pdf
Aplikasi Logika
Arsitektur database dapat dibedakan dengan memeriksa cara logika aplikasi didistribusikan di seluruh sistem. Aplikasi logika terdiri dari tiga komponen: Presentasi Logika, Pengolahan Logika, dan Storage Logic.
Presentasi Komponen logika bertanggung jawab untuk memformat dan menampilkan data pada layar pengguna. Pemrosesan komponen logika menangani manajemen data logika pemrosesan, logika aturan bisnis, dan manajemen data logika. Akhirnya, komponen logika penyimpanan bertanggung jawab atas penyimpanan dan pengambilan dari perangkat yang sebenarnya seperti sebagai hard drive atau RAM. Dengan menentukan tingkat baris komponen ini diproses, kita bisa mendapatkan ide bagus tentang apa jenis arsitektur dan subtipe kita hadapi.
One Tier Architectures
Bayangkan seseorang pada sebuah komputer desktop yang menggunakan Microsoft Access untuk memuat daftar alamat pribadi dan nomor telepon yang telah dia simpan dalam MS Windows “My Documents” folder. Ini adalah contoh dari satu database tier arsitektur. program (Microsoft Access) berjalan pada komputer lokal pengguna, dan referensi file yang disimpan pada hard drive komputer, sehingga menggunakan satu sumber daya fisik untuk mengakses dan memproses informasi.
Contoh lain dari one-tier architecture adalah sebuah file server arsitektur. Dalam skenario ini, sebuah workgroup database disimpan dalam lokasi bersama pada satu mesin. Anggota Workgroup menggunakan paket perangkat lunak seperti Microsoft Access untuk memuat data dan kemudian proses di mesin lokal mereka. Dalam hal ini, data dapat diberikan di antara pengguna yang berbeda, tapi semua pemrosesan terjadi pada komputer lokal. Intinya, file-server hanya sebuah hard drive ekstra dari yang digunakan untuk mengambil file-file.
Namun cara lain one-tier architecture yang muncul adalah dari komputer mainframe. Dalam sistem yang sudah ketinggalan zaman, mesin besar menyediakan terminal terhubung langsung dengan sarana yang diperlukan untuk mengakses, melihat dan memanipulasi data. Meskipun ini dianggap sebagai sistem client-server, karena semua kekuatan pemrosesan (baik untuk data dan aplikasi) terjadi pada satu mesin, kita memiliki one-tier architecture.
One-tier architecture dapat bermanfaat ketika kita berhadapan dengan data yang relevan kepada satu pengguna (atau sejumlah kecil pengguna) dan kita memiliki jumlah data yang relatif kecil. Mereka agak murah untuk menyebarkan dan mempertahankan.
Two Tier Client/Server Architectures
Two-tier architecture adalah salah satu yang familiar bagi banyak pengguna komputer saat ini. implementasi yang umum dari jenis sistem ini adalah bahwa klien berbasis program Microsoft Windows yang mengakses server database seperti Oracle atau SQL Server. Pemakai berinteraksi melalui GUI (Graphical User Interface) untuk berkomunikasi dengan database server di sebuah jaringan melalui SQL (Structured Query Language).
Dalam two-tier architecture yang penting untuk dicatat bahwa ada dua konfigurasi. Seorang thin-client (fat-server) konfigurasi ada ketika sebagian besar pemrosesan terjadi di server tier. Sebaliknya, fat-client (thin-server) konfigurasi ada ketika sebagian besar pengolahan terjadi pada mesin klien.
Contoh lain dari tingkat dua arsitektur dapat dilihat di web aplikasi berbasis database. Dalam kasus ini, user berinteraksi dengan database melalui aplikasi yang disediakan di web-server dan ditampilkan melalui web browser seperti Internet Explorer. Web server memproses aplikasi web, yang dapat ditulis dalam bahasa seperti PHP atau ASP. Aplikasi web menyambung ke server database SQL menyampaikan pernyataan yang pada gilirannya digunakan untuk mengakses, melihat dan memodifikasi data. DB Server kemudian akan mengirimkan data yang diminta yang kemudian diformat oleh server web bagi pengguna.
Meskipun hal ini tampaknya merupakan sistem tingkat tiga karena jumlah mesin yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proses, tetapi bukan. Web-server rumah biasanya tidak ada peraturan bisnis dan karena itu harus dianggap sebagai bagian dari klien tier di kemitraan dengan web-browser.
Two-tier architectures can prove to be beneficial when we have a relatively small number of users on the system (100-150) and we desire an increased level of scalability. Two-tier architecture bisa jadi menguntungkan ketika kita memiliki jumlah pengguna yang relatif kecil pada sistem (100-150) dan kita menginginkan peningkatan level skalabilitas.
Two-Tier Client-Server Architecture
Web-Based, Two-Tier Client-Server Architecture
N-Tier Client/Server Architecture
Kebanyakan n-tier arsitektur database yang ada pada three-tier konfigurasi. Dalam arsitektur klien / server model diperluas untuk memasukkan tingkat menengah (bisnis tier), yaitu aplikasi server yang menempatkan logika bisnis. Tingkat menengah ini mengurangi pemrosesan tugas aplikasi client dan beberapa database server dengan menerjemahkan panggilan klien ke dalam database queries dan menerjemahkan data dari database ke data klien kembali. Akibatnya, klien dan server tidak pernah berbicara langsung dengan satu-lain. Variasi dari n-tier arsitektur adalah aplikasi web berbasis n-tier. Sistem-sistem ini menggabungkan manfaat skalabilitas n-tier klient / server sistem dengan antarmuka pengguna yang kaya dari sistem berbasis web.
Karena tingkat menengah di tingkat tiga arsitektur berisi logika bisnis, ada peningkatan skalabilitas yang baik dan isolasi dari logika bisnis, serta menambahkan fleksibilitas dalam memilih database vendor.
Three-Tier Client/Server
Web-Based, Three-Tier Client Server Architecture
KESIMPULAN
Salah satu perubahan paling dramatis di pasar perangkat lunak perusahaan akan datang ke sebuah database di dekat Anda, dan dampak dari revolusi database yang tertunda ini akan dirasakan dalam berbagai bagian dari perusahaan, belum lagi tempat-tempat seperti Redmond, Redwood Shores, dan Armonk.
Apa revolusi ini menggembar-gemborkan multiprong pergeseran dari Microsoft SQL Server, Oracles, dan IBM DB2s dunia untuk campuran antara pilihan open source yang mencakup database, database di memori, dan turnkey database / hardware kumpulan, antara lain. Meskipun Anda mungkin tidak ingin merobek dan mengganti sistem saat ini untuk mengambil keuntungan dari revolusi database yang akan datang, Anda mungkin ingin serius mempertimbangkan salah satu pilihan baru ini ketika Anda merencanakan Greenfield baru Anda, database-operasi intensif. Namun berbeda pilihan, kekuatan dibelakang revolusi ini adalah sama. Hal ini sangat banyak kasus bagi perusahaan-perusahaan menggunakan sebagian besar aplikasi dan data yang dikemas gudang, yang dirancang untuk berjalan pada berbagai database dan karena itu memperlakukan database seperti teknologi generik. Dan juga kasus untuk non-tradisional, perusahaan berbasis web yang menggunakan database untuk mengelola hal-hal seperti seperti pencarian dan aplikasi besar lainnya yang tetap tidak memerlukan semua lonceng dan peluit dari database relasional yang mereka didasarkan.
Driver utama lainnya adalah gerakan open source, yang memiliki database tegas dalam crosshairs dan telah diperanakkan mengesankan jumlah perusahaan database open source: MySQL, Ingres, dan Greenplum, untuk menyebutkan hanya beberapa. Geng open source adalah melakukan banyak kerusakan harga tradisional dan pada saat yang sama upping taruhan dengan menyediakan peningkatan jumlah fungsi yang mulai merambah ke wilayah Tiga Besar penyedia ‘rumput Salah satu perusahaan, Greenplum, telah sampai pada tahap untuk bundel sebuah gudang data turnkey, berdasarkan Sun Microsystems hardware, yang pada dasarnya mengambil dari nol biaya gudang data tradisional tanpa sedikit atau tidak ada pengorbanan.
Sementara itu “in-memori” konsep database mulai mengambil terus. Akuisisi Oracle TimesTen, salah satu pionir in-memori, adalah simbol dari seberapa serius bahkan pemain tradisional mengambil tantangan ini. Dan baik mereka harus: Menjalankan transaksi yang kompleks dan permintaan dalam memori, bukan pada disk, memiliki throughput besar dan manajemen keuntungan. Dan dengan harga memori yang turun lebih cepat daripada biaya penyimpanan database tradisional, in-memori adalah sikap untuk menantang diterimanya pemikiran tentang besar peternakan dan penyimpanan data array, belum lagi biaya administrasi dan overhead.
Apa ini berarti secara singkat adalah bahwa ada beberapa hal penting cara-cara baru di mana perusahaan Anda dapat menempatkan database yang anda perlukan untuk menjalankan aplikasi mission-critical tanpa harus mamakai lisensi Oracle, SQL Server, atau DB2. Jika database bertindak seperti sebuah komoditas, kemudian memperlakukannya seperti itu dan mengambil penghematan dan menerapkannya pada sesuatu yang inovatif. Ini adalah salah satu revolusi Anda pasti ingin bergabung.
Download Artikel dalam pdf disini.
Download Referensi dalam .zip disini.
Referensi :
http://asepsyaifulmillah.blog.upi.edu/2009/10/20/revolusi-arsitektur-database/
http://bowoblog.wordpress.com/2009/05/26/kegunaan-database/
http://www.ddj.com/database/193001371
http://unixspace.com/context/databases.html
http://mhs.stiki.ac.id/boysagi/bdl/bukudb11.doc
http://search.arxiv.org:8081/details.jsp?qid=125598241711590f_nCnN_-699957647&r=pdf/cs/0305038v1
ftp://ftp.research.microsoft.com/pub/tr/tr-2004-31.pdf
ARSITEKTURE DATABASE
Profesional database zaman sekarang menghadapi beberapa pilihan ketika mempertimbangkan arsitektur yang akan digunakan untuk mengatasi berbagai kebutuhan para klien nya. Bahasan dibawah akan memberikan gambaran dari tiga katefori utama arsitektur database dan sub kategorinya, dan juga beberapa wawasan manfaat dari masing-masing arsitektur database.
Aplikasi Logika
Arsitektur database dapat dibedakan dengan memeriksa cara logika aplikasi didistribusikan di seluruh sistem. Aplikasi logika terdiri dari tiga komponen: Presentasi Logika, Pengolahan Logika, dan Storage Logic.
Presentasi Komponen logika bertanggung jawab untuk memformat dan menampilkan data pada layar pengguna. Pemrosesan komponen logika menangani manajemen data logika pemrosesan, logika aturan bisnis, dan manajemen data logika. Akhirnya, komponen logika penyimpanan bertanggung jawab atas penyimpanan dan pengambilan dari perangkat yang sebenarnya seperti sebagai hard drive atau RAM. Dengan menentukan tingkat baris komponen ini diproses, kita bisa mendapatkan ide bagus tentang apa jenis arsitektur dan subtipe kita hadapi.
One Tier Architectures
Bayangkan seseorang pada sebuah komputer desktop yang menggunakan Microsoft Access untuk memuat daftar alamat pribadi dan nomor telepon yang telah dia simpan dalam MS Windows “My Documents” folder. Ini adalah contoh dari satu database tier arsitektur. program (Microsoft Access) berjalan pada komputer lokal pengguna, dan referensi file yang disimpan pada hard drive komputer, sehingga menggunakan satu sumber daya fisik untuk mengakses dan memproses informasi.
Contoh lain dari one-tier architecture adalah sebuah file server arsitektur. Dalam skenario ini, sebuah workgroup database disimpan dalam lokasi bersama pada satu mesin. Anggota Workgroup menggunakan paket perangkat lunak seperti Microsoft Access untuk memuat data dan kemudian proses di mesin lokal mereka. Dalam hal ini, data dapat diberikan di antara pengguna yang berbeda, tapi semua pemrosesan terjadi pada komputer lokal. Intinya, file-server hanya sebuah hard drive ekstra dari yang digunakan untuk mengambil file-file.
Namun cara lain one-tier architecture yang muncul adalah dari komputer mainframe. Dalam sistem yang sudah ketinggalan zaman, mesin besar menyediakan terminal terhubung langsung dengan sarana yang diperlukan untuk mengakses, melihat dan memanipulasi data. Meskipun ini dianggap sebagai sistem client-server, karena semua kekuatan pemrosesan (baik untuk data dan aplikasi) terjadi pada satu mesin, kita memiliki one-tier architecture.
One-tier architecture dapat bermanfaat ketika kita berhadapan dengan data yang relevan kepada satu pengguna (atau sejumlah kecil pengguna) dan kita memiliki jumlah data yang relatif kecil. Mereka agak murah untuk menyebarkan dan mempertahankan.
Two Tier Client/Server Architectures
Two-tier architecture adalah salah satu yang familiar bagi banyak pengguna komputer saat ini. implementasi yang umum dari jenis sistem ini adalah bahwa klien berbasis program Microsoft Windows yang mengakses server database seperti Oracle atau SQL Server. Pemakai berinteraksi melalui GUI (Graphical User Interface) untuk berkomunikasi dengan database server di sebuah jaringan melalui SQL (Structured Query Language).
Dalam two-tier architecture yang penting untuk dicatat bahwa ada dua konfigurasi. Seorang thin-client (fat-server) konfigurasi ada ketika sebagian besar pemrosesan terjadi di server tier. Sebaliknya, fat-client (thin-server) konfigurasi ada ketika sebagian besar pengolahan terjadi pada mesin klien.
Contoh lain dari tingkat dua arsitektur dapat dilihat di web aplikasi berbasis database. Dalam kasus ini, user berinteraksi dengan database melalui aplikasi yang disediakan di web-server dan ditampilkan melalui web browser seperti Internet Explorer. Web server memproses aplikasi web, yang dapat ditulis dalam bahasa seperti PHP atau ASP. Aplikasi web menyambung ke server database SQL menyampaikan pernyataan yang pada gilirannya digunakan untuk mengakses, melihat dan memodifikasi data. DB Server kemudian akan mengirimkan data yang diminta yang kemudian diformat oleh server web bagi pengguna.
Meskipun hal ini tampaknya merupakan sistem tingkat tiga karena jumlah mesin yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proses, tetapi bukan. Web-server rumah biasanya tidak ada peraturan bisnis dan karena itu harus dianggap sebagai bagian dari klien tier di kemitraan dengan web-browser.
Two-tier architectures can prove to be beneficial when we have a relatively small number of users on the system (100-150) and we desire an increased level of scalability. Two-tier architecture bisa jadi menguntungkan ketika kita memiliki jumlah pengguna yang relatif kecil pada sistem (100-150) dan kita menginginkan peningkatan level skalabilitas.
Two-Tier Client-Server Architecture
Web-Based, Two-Tier Client-Server Architecture
N-Tier Client/Server Architecture
Kebanyakan n-tier arsitektur database yang ada pada three-tier konfigurasi. Dalam arsitektur klien / server model diperluas untuk memasukkan tingkat menengah (bisnis tier), yaitu aplikasi server yang menempatkan logika bisnis. Tingkat menengah ini mengurangi pemrosesan tugas aplikasi client dan beberapa database server dengan menerjemahkan panggilan klien ke dalam database queries dan menerjemahkan data dari database ke data klien kembali. Akibatnya, klien dan server tidak pernah berbicara langsung dengan satu-lain. Variasi dari n-tier arsitektur adalah aplikasi web berbasis n-tier. Sistem-sistem ini menggabungkan manfaat skalabilitas n-tier klient / server sistem dengan antarmuka pengguna yang kaya dari sistem berbasis web.
Karena tingkat menengah di tingkat tiga arsitektur berisi logika bisnis, ada peningkatan skalabilitas yang baik dan isolasi dari logika bisnis, serta menambahkan fleksibilitas dalam memilih database vendor.
Three-Tier Client/Server
Web-Based, Three-Tier Client Server Architecture
KESIMPULAN
Salah satu perubahan paling dramatis di pasar perangkat lunak perusahaan akan datang ke sebuah database di dekat Anda, dan dampak dari revolusi database yang tertunda ini akan dirasakan dalam berbagai bagian dari perusahaan, belum lagi tempat-tempat seperti Redmond, Redwood Shores, dan Armonk.
Apa revolusi ini menggembar-gemborkan multiprong pergeseran dari Microsoft SQL Server, Oracles, dan IBM DB2s dunia untuk campuran antara pilihan open source yang mencakup database, database di memori, dan turnkey database / hardware kumpulan, antara lain. Meskipun Anda mungkin tidak ingin merobek dan mengganti sistem saat ini untuk mengambil keuntungan dari revolusi database yang akan datang, Anda mungkin ingin serius mempertimbangkan salah satu pilihan baru ini ketika Anda merencanakan Greenfield baru Anda, database-operasi intensif. Namun berbeda pilihan, kekuatan dibelakang revolusi ini adalah sama. Hal ini sangat banyak kasus bagi perusahaan-perusahaan menggunakan sebagian besar aplikasi dan data yang dikemas gudang, yang dirancang untuk berjalan pada berbagai database dan karena itu memperlakukan database seperti teknologi generik. Dan juga kasus untuk non-tradisional, perusahaan berbasis web yang menggunakan database untuk mengelola hal-hal seperti seperti pencarian dan aplikasi besar lainnya yang tetap tidak memerlukan semua lonceng dan peluit dari database relasional yang mereka didasarkan.
Driver utama lainnya adalah gerakan open source, yang memiliki database tegas dalam crosshairs dan telah diperanakkan mengesankan jumlah perusahaan database open source: MySQL, Ingres, dan Greenplum, untuk menyebutkan hanya beberapa. Geng open source adalah melakukan banyak kerusakan harga tradisional dan pada saat yang sama upping taruhan dengan menyediakan peningkatan jumlah fungsi yang mulai merambah ke wilayah Tiga Besar penyedia ‘rumput Salah satu perusahaan, Greenplum, telah sampai pada tahap untuk bundel sebuah gudang data turnkey, berdasarkan Sun Microsystems hardware, yang pada dasarnya mengambil dari nol biaya gudang data tradisional tanpa sedikit atau tidak ada pengorbanan.
Sementara itu “in-memori” konsep database mulai mengambil terus. Akuisisi Oracle TimesTen, salah satu pionir in-memori, adalah simbol dari seberapa serius bahkan pemain tradisional mengambil tantangan ini. Dan baik mereka harus: Menjalankan transaksi yang kompleks dan permintaan dalam memori, bukan pada disk, memiliki throughput besar dan manajemen keuntungan. Dan dengan harga memori yang turun lebih cepat daripada biaya penyimpanan database tradisional, in-memori adalah sikap untuk menantang diterimanya pemikiran tentang besar peternakan dan penyimpanan data array, belum lagi biaya administrasi dan overhead.
Apa ini berarti secara singkat adalah bahwa ada beberapa hal penting cara-cara baru di mana perusahaan Anda dapat menempatkan database yang anda perlukan untuk menjalankan aplikasi mission-critical tanpa harus mamakai lisensi Oracle, SQL Server, atau DB2. Jika database bertindak seperti sebuah komoditas, kemudian memperlakukannya seperti itu dan mengambil penghematan dan menerapkannya pada sesuatu yang inovatif. Ini adalah salah satu revolusi Anda pasti ingin bergabung.
Download Artikel dalam pdf disini.
Download Referensi dalam .zip disini.
Referensi :
http://bowoblog.wordpress.com/2009/05/26/kegunaan-database/
http://www.ddj.com/database/193001371
http://unixspace.com/context/databases.html
http://mhs.stiki.ac.id/boysagi/bdl/bukudb11.doc
http://search.arxiv.org:8081/details.jsp?qid=125598241711590f_nCnN_-699957647&r=pdf/cs/0305038v1
ftp://ftp.research.microsoft.com/pub/tr/tr-2004-31.pdf
Aplikasi Logika
Arsitektur database dapat dibedakan dengan memeriksa cara logika aplikasi didistribusikan di seluruh sistem. Aplikasi logika terdiri dari tiga komponen: Presentasi Logika, Pengolahan Logika, dan Storage Logic.
Presentasi Komponen logika bertanggung jawab untuk memformat dan menampilkan data pada layar pengguna. Pemrosesan komponen logika menangani manajemen data logika pemrosesan, logika aturan bisnis, dan manajemen data logika. Akhirnya, komponen logika penyimpanan bertanggung jawab atas penyimpanan dan pengambilan dari perangkat yang sebenarnya seperti sebagai hard drive atau RAM. Dengan menentukan tingkat baris komponen ini diproses, kita bisa mendapatkan ide bagus tentang apa jenis arsitektur dan subtipe kita hadapi.
One Tier Architectures
Bayangkan seseorang pada sebuah komputer desktop yang menggunakan Microsoft Access untuk memuat daftar alamat pribadi dan nomor telepon yang telah dia simpan dalam MS Windows “My Documents” folder. Ini adalah contoh dari satu database tier arsitektur. program (Microsoft Access) berjalan pada komputer lokal pengguna, dan referensi file yang disimpan pada hard drive komputer, sehingga menggunakan satu sumber daya fisik untuk mengakses dan memproses informasi.
Contoh lain dari one-tier architecture adalah sebuah file server arsitektur. Dalam skenario ini, sebuah workgroup database disimpan dalam lokasi bersama pada satu mesin. Anggota Workgroup menggunakan paket perangkat lunak seperti Microsoft Access untuk memuat data dan kemudian proses di mesin lokal mereka. Dalam hal ini, data dapat diberikan di antara pengguna yang berbeda, tapi semua pemrosesan terjadi pada komputer lokal. Intinya, file-server hanya sebuah hard drive ekstra dari yang digunakan untuk mengambil file-file.
Namun cara lain one-tier architecture yang muncul adalah dari komputer mainframe. Dalam sistem yang sudah ketinggalan zaman, mesin besar menyediakan terminal terhubung langsung dengan sarana yang diperlukan untuk mengakses, melihat dan memanipulasi data. Meskipun ini dianggap sebagai sistem client-server, karena semua kekuatan pemrosesan (baik untuk data dan aplikasi) terjadi pada satu mesin, kita memiliki one-tier architecture.
One-tier architecture dapat bermanfaat ketika kita berhadapan dengan data yang relevan kepada satu pengguna (atau sejumlah kecil pengguna) dan kita memiliki jumlah data yang relatif kecil. Mereka agak murah untuk menyebarkan dan mempertahankan.
Two Tier Client/Server Architectures
Two-tier architecture adalah salah satu yang familiar bagi banyak pengguna komputer saat ini. implementasi yang umum dari jenis sistem ini adalah bahwa klien berbasis program Microsoft Windows yang mengakses server database seperti Oracle atau SQL Server. Pemakai berinteraksi melalui GUI (Graphical User Interface) untuk berkomunikasi dengan database server di sebuah jaringan melalui SQL (Structured Query Language).
Dalam two-tier architecture yang penting untuk dicatat bahwa ada dua konfigurasi. Seorang thin-client (fat-server) konfigurasi ada ketika sebagian besar pemrosesan terjadi di server tier. Sebaliknya, fat-client (thin-server) konfigurasi ada ketika sebagian besar pengolahan terjadi pada mesin klien.
Contoh lain dari tingkat dua arsitektur dapat dilihat di web aplikasi berbasis database. Dalam kasus ini, user berinteraksi dengan database melalui aplikasi yang disediakan di web-server dan ditampilkan melalui web browser seperti Internet Explorer. Web server memproses aplikasi web, yang dapat ditulis dalam bahasa seperti PHP atau ASP. Aplikasi web menyambung ke server database SQL menyampaikan pernyataan yang pada gilirannya digunakan untuk mengakses, melihat dan memodifikasi data. DB Server kemudian akan mengirimkan data yang diminta yang kemudian diformat oleh server web bagi pengguna.
Meskipun hal ini tampaknya merupakan sistem tingkat tiga karena jumlah mesin yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proses, tetapi bukan. Web-server rumah biasanya tidak ada peraturan bisnis dan karena itu harus dianggap sebagai bagian dari klien tier di kemitraan dengan web-browser.
Two-tier architectures can prove to be beneficial when we have a relatively small number of users on the system (100-150) and we desire an increased level of scalability. Two-tier architecture bisa jadi menguntungkan ketika kita memiliki jumlah pengguna yang relatif kecil pada sistem (100-150) dan kita menginginkan peningkatan level skalabilitas.
Two-Tier Client-Server Architecture
Web-Based, Two-Tier Client-Server Architecture
N-Tier Client/Server Architecture
Kebanyakan n-tier arsitektur database yang ada pada three-tier konfigurasi. Dalam arsitektur klien / server model diperluas untuk memasukkan tingkat menengah (bisnis tier), yaitu aplikasi server yang menempatkan logika bisnis. Tingkat menengah ini mengurangi pemrosesan tugas aplikasi client dan beberapa database server dengan menerjemahkan panggilan klien ke dalam database queries dan menerjemahkan data dari database ke data klien kembali. Akibatnya, klien dan server tidak pernah berbicara langsung dengan satu-lain. Variasi dari n-tier arsitektur adalah aplikasi web berbasis n-tier. Sistem-sistem ini menggabungkan manfaat skalabilitas n-tier klient / server sistem dengan antarmuka pengguna yang kaya dari sistem berbasis web.
Karena tingkat menengah di tingkat tiga arsitektur berisi logika bisnis, ada peningkatan skalabilitas yang baik dan isolasi dari logika bisnis, serta menambahkan fleksibilitas dalam memilih database vendor.
Three-Tier Client/Server
Web-Based, Three-Tier Client Server Architecture
KESIMPULAN
Salah satu perubahan paling dramatis di pasar perangkat lunak perusahaan akan datang ke sebuah database di dekat Anda, dan dampak dari revolusi database yang tertunda ini akan dirasakan dalam berbagai bagian dari perusahaan, belum lagi tempat-tempat seperti Redmond, Redwood Shores, dan Armonk.
Apa revolusi ini menggembar-gemborkan multiprong pergeseran dari Microsoft SQL Server, Oracles, dan IBM DB2s dunia untuk campuran antara pilihan open source yang mencakup database, database di memori, dan turnkey database / hardware kumpulan, antara lain. Meskipun Anda mungkin tidak ingin merobek dan mengganti sistem saat ini untuk mengambil keuntungan dari revolusi database yang akan datang, Anda mungkin ingin serius mempertimbangkan salah satu pilihan baru ini ketika Anda merencanakan Greenfield baru Anda, database-operasi intensif. Namun berbeda pilihan, kekuatan dibelakang revolusi ini adalah sama. Hal ini sangat banyak kasus bagi perusahaan-perusahaan menggunakan sebagian besar aplikasi dan data yang dikemas gudang, yang dirancang untuk berjalan pada berbagai database dan karena itu memperlakukan database seperti teknologi generik. Dan juga kasus untuk non-tradisional, perusahaan berbasis web yang menggunakan database untuk mengelola hal-hal seperti seperti pencarian dan aplikasi besar lainnya yang tetap tidak memerlukan semua lonceng dan peluit dari database relasional yang mereka didasarkan.
Driver utama lainnya adalah gerakan open source, yang memiliki database tegas dalam crosshairs dan telah diperanakkan mengesankan jumlah perusahaan database open source: MySQL, Ingres, dan Greenplum, untuk menyebutkan hanya beberapa. Geng open source adalah melakukan banyak kerusakan harga tradisional dan pada saat yang sama upping taruhan dengan menyediakan peningkatan jumlah fungsi yang mulai merambah ke wilayah Tiga Besar penyedia ‘rumput Salah satu perusahaan, Greenplum, telah sampai pada tahap untuk bundel sebuah gudang data turnkey, berdasarkan Sun Microsystems hardware, yang pada dasarnya mengambil dari nol biaya gudang data tradisional tanpa sedikit atau tidak ada pengorbanan.
Sementara itu “in-memori” konsep database mulai mengambil terus. Akuisisi Oracle TimesTen, salah satu pionir in-memori, adalah simbol dari seberapa serius bahkan pemain tradisional mengambil tantangan ini. Dan baik mereka harus: Menjalankan transaksi yang kompleks dan permintaan dalam memori, bukan pada disk, memiliki throughput besar dan manajemen keuntungan. Dan dengan harga memori yang turun lebih cepat daripada biaya penyimpanan database tradisional, in-memori adalah sikap untuk menantang diterimanya pemikiran tentang besar peternakan dan penyimpanan data array, belum lagi biaya administrasi dan overhead.
Apa ini berarti secara singkat adalah bahwa ada beberapa hal penting cara-cara baru di mana perusahaan Anda dapat menempatkan database yang anda perlukan untuk menjalankan aplikasi mission-critical tanpa harus mamakai lisensi Oracle, SQL Server, atau DB2. Jika database bertindak seperti sebuah komoditas, kemudian memperlakukannya seperti itu dan mengambil penghematan dan menerapkannya pada sesuatu yang inovatif. Ini adalah salah satu revolusi Anda pasti ingin bergabung.
Download Artikel dalam pdf disini.
Download Referensi dalam .zip disini.
Referensi :
http://bowoblog.wordpress.com/2009/05/26/kegunaan-database/
http://www.ddj.com/database/193001371
http://unixspace.com/context/databases.html
http://mhs.stiki.ac.id/boysagi/bdl/bukudb11.doc
http://search.arxiv.org:8081/details.jsp?qid=125598241711590f_nCnN_-699957647&r=pdf/cs/0305038v1
ftp://ftp.research.microsoft.com/pub/tr/tr-2004-31.pdf
Langganan:
Postingan (Atom)
