1. START WITH A DREAM
Mulailah dengan sebuah mimpi. Semua bermula dari sebuah mimpi dan yakinkan akan produk yang akan kita tawarkan. A dream is where it all started : Pemimpilah yang selalu menciptakan dan membuat sebuah terobosan dalam produk, cara pelayanan, jasa, ataupun ide yang dapat dijual dengan sukses. Mereka tidak mengenal batas dan keterikatan, tak mengenal kata “tidak bisa” ataupun “tidak mungkin”. Semua yang kita impikan akan jadi kenyataan jika kita berusaha semaksimal mungkin dengan ketekunan dan usaha yang sungguh-sungguh tak hanya bermimpi saja tanpa adanya realisasi.
2. LOVE THE PRODUCTS OR SERVICES
Cintailah produk atau pelayanan Anda. Kecintaan akan produk kita akan memberikan sebuah keyakinan pada pelanggan kita dan membuat kerja keras terasa ringan. Membuat kita mampu melewati masa-masa sulit. Enthusiastism and Persistence : Antusiasme dan keuletan sebagai pertanda cinta dan keyakinan akan menjadi tulang punggung keberhasilan sebuah usaha yang baru. Kecintaan terhadap produk dan pelayanan berarti pula kita harus menjaga kualitas dari produk dan pelayanan kita sehingga pelanggan dapat merasa puas dengan produk dan pelayanan kita.
3. LEARN THE BASICS OF BUSINESS
Pelajarilah fundamental business. BEYOND THE “BUY LOW, SELL HIGH, PAY LATE, COLLECT EARLY”: Tidak akan ada sukses tanpa ada sebuah pengetahuan dasar untuk business yang baik, belajar sambil bekerja, turut kerja dahulu selama 1-2 tahun untuk dapat mempelajari dasar-dasar usaha akan membantu kita untuk maju dengan lebih baik. Carilah Guru yang baik, sebagai contoh yang patut untuk kita teladani sebagai pegangan kita untuk masa yang akan datang.
4. WILLING TO TAKE CALCULATED RISKS
Ambillah resiko. The Gaint that u will be able to achieve is directly proportional to the risk taken : Berani mengambil resiko yang diperhitungkan merupakan kunci awal dalam dunia usaha, karena hasil yang akan dicapai akan proporsional terhadap resiko yang akan diambil. Sebuah resiko yang diperhitungkan dengan baik-baik akan lebih banyak memberikan kemungkinan berhasil. Inilah faktor penentu yang membedakan “entrepreneur” dengan “Manager”. Entrepreneur akan lebih dibutuhkan pada tahap awal pengembangan perusahaan, dan manager dibutuhkan akan mengatur perusahaan yang telah maju. Sebisa mungkin kita meminimkan resiko atau sebisa mungkin kita memperhitungkan resiko yang kita ambil adalah langkah yang terbaik untuk tidak terjebak dalam bahaya yang besar akibat resiko yang tak terkendali.
5. SEEK ADVICE, BUT FOLLOW YOUR BELIEF
Carilah nasehat dari pakarnya, tapi ikuti kata-kata kita. Consult Consultants, ask the experts, but follow your hearts. Entrepreneur selalu mencari nasehat dari berbagai pihak tapi keputusan akhir selalu ada ditangannya dan dapat diputuskan dengan indera ke enam-nya. Komunikasi yang baik dan kepiawaian menjual. Pada fase awal sebuah usaha, kepiawaian menjual merupakan kunci suksesnya. Kemampuan untuk memahami dan menguasai hubungan dengan pelanggan akan membantu mengembangkan usaha pada fase itu. Keputusan yang bijaksana sangatlah dibutuhkan, keputusan yang mempertimbangkan kebaikan pada bisnis kita, kepuasan konsumen akan sangat berharga sekali.
6. WORK HARD, 7 DAY A WEEK, 18 HOURS A DAY
Kerja keras. Etos kerja keras sering dianggap sebagai mimpi kuno dan seharusnya diganti, tapi hard-work and smart-work tidaklah dapat dipisahkan lagi sekarang. Hampir semua successful start-up butuh workaholics. Entrepreneur sejati tidak pernah lepas dari kerjanya, pada saat tidurpun otaknya bekerja dan berpikir akan bisnisnya. Melamunkan dan memimpikan kerjanya. Bekerja keras saja tidak cukup tetapi disertai dengan kecerdasan dalam bekerja. Karena dengan kecerdasan dalam bekerja maka pekerjaan akan bisa diselesaikan dengan mudah, cepat dan tepat.
7. MAKE FRIENDS AS MUCH AS POSSIBLE
Bertemanlah sebanyak-banyaknya. Pada harga dan kwalitas yang sama orang membeli dari temannya, pada harga yang sedikit mahal, orang akan tetap membeli dari teman. Teman akan membantu mengembangkan usaha kita, memberi nasehat, membantu menolong pada masa sulit. Pilihlah teman yang mau berbagi pada masa sulit dan masa jaya, dan berhati-hatilah pada teman yang ingin berteman pada masa jaya saja dan pergi pada masa sulit atau hanya sekedar memanfaatkan saja!
8. DEAL WITH FAILURES
Hadapi kegagalan. Kegagalan merupakan sebuah vitamin untuk menguatkan dan mempertajam intuisi dan kemampuan kita berwirausaha, selama kegagalan itu tidak “mematikan”. Kegagalan adalah salah satu jalan terjal yang membuat kita tangguh! Setiap usaha selalu akan mempunyai resiko kegagalan dan bila mana itu sampai terjadi, bersiaplah dan hadapilah!
9. JUST DO IT, NOW!
Lakukanlah sekarang juga. Bila Anda telah siap, lakukanlah sekarang juga. Manager selalu melakukan READY-AIM-SHOOT, tetapi entrepreneur sejati akan melakukan READY-SHOOT-AIM! Putuskan dan kerjakan sekarang, karena besok bukanlah milik kita. Ingatlah bahwa yang hari ini tidak Anda kerjakan besokpun belum tentu Anda kerjakan.
Kunci Sukses Usaha
William A. Ward pernah berkata, "Ada empat langkah mencapai sukses, yakni perencanaan yang tepat, persiapan yang matang, pelaksanaan yang baik, dan tidak mudah menyerah." Gunakan falsafah Ward ini agar sukses. Perinciannya sebagai berikut : Ikuti perkembangan jaman Bergabunglah dalam organisasi yang berkaitan dengan bisnis Anda. Banyak membaca dan gali informasi sebanyak mungkin. Internet akan banyak membantu Anda.
a. Buat rencana keuangan
Catat semua pemasukan dan pengeluaran setiap harinya. Buat target jangka pendek dan jangka panjang. Jangan pernah menyerahkan kondisi keuangan pada nasib. Perhitungkan dengan matang. Nasib tidak akan pernah menentukan hidup ini tetapi kerja keras, tekun dan perjuanganlah yang menentukan masa depan seseorang.
b. Perkirakan aliran uang tunai
Anda harus bisa memperkirakan aliran uang tunai, paling tidak tiga bulan ke depan. Jangan membuat anggaran pengeluaran yang lebih besar dari itu. Bentuk dewan penasehat atau cari tenaga ahli, untuk memberi ide, saran atau kritik terhadap Anda dan produk yang ditawarkan mereka bisa berupa teman-teman atau anggota keluarga yang dipercaya. Yang mana mereka ada disisi kita pada saat kita down sehingga kita tidak putus asa untuk menghadapi hidup ini.
c. Jaga keseimbangan antara kerja, santai, dan keluarga
Tak perlu memaksakan, karena sesuatu yang dikerjakan dengan memaksakan, hasilnya tak akan maksimal. Lagi pula, badan dan otak butuh istirahat. Berilah hak kepada setiap anggota tubuh Anda karena dia mempunyai hak untuk bekerja, istirahat dan refreshing.
d. Kembangkan jaringan (network)
Tak ada salahnya berkenalan dan bergaul dengan orang-orang yang berhubungan atau bisa mendukung bisnis Anda. Siapa tahu ada ide yang bisa digali. Berilah ruang dan waktu kepada mereka untuk bisa berbagi untuk kebaikan bersama, baik itu untuk perkembangan usaha Anda dan untuk kebaikan mereka.
e. Disiplin/motivasi
Aspek terberat dalam menjalankan usaha sendiri adalah disiplin atau motivasi untuk bekerja secara teratur. Untuk mengatasinya, buatlah daftar apa saja yang harus dikerjakan hari ini dan esok. Tentukan target yang harus dicapai dalam minggu ini. Dengan disiplin dan motivasi tersebut Anda bisa mengerjakan segala sesuatu dengan teratur dan penuh semangat.
f. Selalu waspada dan siap
Rajin-rajin melakukan evaluasi terhadap pasar, produk dan system pemasaran. Kalau perlu, ubah cara kerja agar lebih efisien. Perbaiki cara pemasaran atau kualitas produk. Kewaspadaan Anda akan membuat Anda lebih hati-hati dalam setiap langkah sehingga Anda tidak salah dalam melangkah.
g. Cintai pekerjaan Anda
Bagaimana akan sukses, jika Anda tak punya “sense of belongin” pada pekerjaan dan produk yang dihasilkan. Cintai pekerjaan dan produksi sendiri, dan uang akan mengikuti Anda. Jika kita menncintai pekerjaan kita maka kita akan senang dan semangat dalam melakukan segala pekerjaan yang kita kerjakan, dan semuanya itu akan membuahkan hasil yang maksimal.
Rabu, 06 Oktober 2010
Selasa, 05 Oktober 2010
PERAN STRATEGIS TANGGUNG JAWAB PERUSAHAAN : Obat atau Vitamin?
Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility disingkat CSR merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan perusahaan saat ini dan mendatang. Paradigma lama perusahaan yang berfungsi sebagai mesin produksi hanya untuk menghasilkan uang (capitalism) sudah berubah pentingnya perhatian perusahaan pada masyarakat khususnya lingkungan sekitarnya. Pemahaman ini muncul dengan pada dekade terakhir yang mana strategi bersaing perusahaan (competitive strategy) untuk bertahan dan tumbuh tidak lagi berdasarkan kepada kacamata pasar dan pesaing tetapi juga meliputi pemahaman terhadap pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders analysis). Dengan semakin cerdas dan/atau kritisnya pihak-pihak ini, sehingga perlunya menumbuhkan kepercayaan pihak-pihak tersebut agar menjadi kunci keberhasilan perusahaan didalam usaha. Sikap membohongi publik semakin riskan karena seandainya masyarakat tahu terhadap kebohongan publik maka kepercayaan kepada perusahaan akan menurun drastis dan berdampak merugikan usaha, sebagai contoh kasus minyak goreng yang mengandung barang tidak halal sempat mencuat beberapa waktu yang lampau atau minuman kesehatan yang ternyata membahayakan kesehatan. Sedangkan sikap masa bodoh kepada masyarakat dapat menciptakan suasana rentan ancaman dan ketidakpastian hubungan bagi perusahaan. Upaya meningkatkan kepercayaan masyarakat dalam jangka panjang salah satunya melalui perencanaan dan pelaksanaan program CSR yang merupakan inisiatip sukarela perusahaan agar eksistensi perusahaan dapat diakui dan diterima masyarakat (social license), walaupun secara hukum/perijinan telah diterima/sah didalam melaksanakan usaha (operation license). Namun demikian, pelaksanaan program CSR ini tidak menjamin adanya keharmonisan karena adanya tekanan kelompok-kelompok masyarakat yang beragam (pressure groups), namun paling tidak usaha memperoleh posisi tawar (bargaining power) didalam masyarakat akan meningkat seiring dengan tumbuhnya kepercayaan serta meningkatkan sensitifitas perusahaan untuk memilah kelompok masyarakat yang memiliki itikad baik.
Disamping menghadapi kondisi diatas, perusahaan tidak lepas dari motif ekonomi yaitu upaya perusahaan mencapai titik impas bisnis untuk mencapai profit, yang kenyataan tidak selalu mencukupi apa yang menjadi tuntutan masyarakat tersebut karena itu perlunya kompensasi biaya sosial dimasukkan didalam perhitungan Break Event Point (BEP). Permasalahannya bagi perusahaan-perusahaan yang masih bergulat dengan margin tipisnya BEP untuk jenis karakteristik industri tertentu seperti garmen, percetakan dan lainnya merasakan bahwa program sosial merupakan beban dibandingkan manfaat bagi perusahaan. Dengan adanya gejolak tuntutan masyarakat, perusahaan terpaksa menjalankan program sehingga terdapat kesan terlambat dan tidak terprogram. Propinsi Kalimantan Timur yang kaya migas dan tambang umumnya merupakan perusahaan yang dalam jangka panjang diprediksi mampu melalui cost recovery sehingga tidak berada pada area margin tipisnya BEP dan diharapkan menjadi pendorong program CSR bagi masyarakat khususnya masyarakat sekitar lokasi usaha. Usaha memenuhi kebutuhan tenaga lokal setempat dipandang sebagai upaya CSR dapat dipahami sebagai kepedulian namun demikian kompetensi tenaga kerja harus tetap diperhatikan.
Jumlah perusahaan yang melaksanakan kegiatan sektor migas dan tambang semakin meningkat seiring dengan ditemukannya area pertambangan atau eksplorasi baru, akhirnya memiliki dampak ganda (multiplier effect) dari usaha migas dan tambang yaitu meningkatnya pula perusahaan penunjang (services company) baik jenis maupun jumlahnya termasuk mobilisasi karyawannya secara total bahkan bisa lebih besar dari yang ada di perusahaan inti industri (migas dan tambang). Mobilisasi jenis industri ini merupakan suatu kelebihan dibandingkan daerah lain, apabila dapat dimanfaatkan secara optimal maka program CSR menjadi jembatan bagi upaya pengembangan masyarakat antara semua pihak baik pemerintah setempat, perusahaan dan masyarakat. Jembatan (bridging sources) yang dibangun sebaiknya tidak hanya sekedar ajang komunikasi dan program sesaat tetapi lebih menyentuh kepada penguatan kapasitas masyarakat (capacity building) melalui kajian dan integrasi dimensi sendi-sendi kehidupan pokok masyarakat antara lain pendidikan & pelatihan, kesehatan, usaha wirausaha mikro, dan kepedulian lingkungan. Pengembangan kapasitas masyarakat harus didasari kepada sasaran utama program bahwa kemandirian komunitas (self sustainable) menjadi tujuan akhir program CSR. Bilamana prediksi pesimis habisnya migas dan tambang 50 tahun lagi, maka peran aktif industri migas dan tambang guna perubahan masyarakat di Propinsi Kalimantan Timur diharapkan dapat menjadi kesempatan momentum peletakan dasar-dasar keunggulan industri non migas dan pengembangan masyarakat (community development) selama 50 tahun untuk menjadi masyarakat maju (developing society) pada saat kekayaan migas dan tambang telah habis. Suatu lompatan perubahan masyarakat (leave frog) dalam jangka waktu tersebut masih memungkinkan tentunya tanpa meninggalkan jati diri bangsa, apalagi akses teknologi digital dan komunikasi yang demikian pesat didalam kehidupan masyarakat dapat dioptimalkan bagi program CSR. Perumusan visi pembangunan berbasis pada pengembangan masyarakat dan budaya lingkungan diharapkan menjadi acuan dan segera disusun langkah kongkrit (action plans) tidak sekedar diatas kertas seminar/simposium dan acara seremonial sehingga semangat visi tersebut luntur dan tidak jelasnya arah program seiring dengan berjalannya waktu.
Pengembangan sektor non migas yang saat ini dinilai unggul di suatu daerah Kalimantan Timur belum tentu menjadi unggulan strategis di masa datang bahkan mungkin menjadi suatu sektor generik yang tidak memiliki keunggulan komparatif (comparative advantage) atau bahkan keunggulan kompetitif (competitive advantage), namun demikian yang jelas-jelas menjadi faktor keunggulan kompetitif setiap bangsa sepanjang masa adalah faktor sumber daya manusia sebagai suprastruktur penggerak keunggulan yang bersifat statis (infrastruktur, sistem kerja, dll). Bagaimana perubahan tersebut dapat mendorong bangsanya untuk berniat, bersikap dan bertindak menjadi bangsa terbaik di percaturan dunia tentunya sumbangsih melalui tumpuan program CSR yang tersusun secara sistematik, terpadu, terukur, berjangka waktu panjang dengan komitmen bersama diharapkan memberikan perubahan lebih baik bagi masyarakat khususnya masyarakat setempat. Suatu contoh menarik dan berhasil dari wujud CSR sejak tahun 1990-an di Kawasan Industri Batam dengan karakteristik padat industri, pemerintah/otorita setempat menyediakan sarana fisik sekolah menengah kejuruan (SMK) sedangkan perusahaan secara sukarela sesuai jenis keahlian yang dibutuhkan sekolah menyediakan prasarana peralatan, tenaga instruktur terlatih, dan kurikulum lokal termasuk bekal bahasa asing serta bantuan beasiswa bagi siswa berprestasi. Bantuan program asing (technical assistance) untuk menyempurnakan kurikulum dalam bentuk standar kompetensi keahlian telah dikenal sejak lama sebelum kurikulum berbasis kompetensi mulai diterapkan secara nasional. Hasil simboisis mutualisma dalam kerangka CSR berupa lulusan lokal yang diharapkan mampu bekerja di kawasan industri tersebut dengan standar kompetensi industri yang up to date dan memahami mesin/peralatan yang digunakan industri sangat berguna bagi pemerintah setempat, pengusaha dan masyarakat.
Suatu asumsi bahwa keberadaan program CSR merupakan syarat perlu bagi perusahaan untuk menjaga hubungan (maintenance forces) dengan pihak-pihak yang berkepentingan harus diubah menjadi syarat mutlak agar melalui program ini memiliki manfaat bagi perubahan masyarakat. Bentuk perubahan masyarakat ini dapat diawali dengan perubahan pola pikir, pola sikap dan pola tindak meliputi ekonomi, sosial dan budaya yang lebih baik. Sangat disayangkan bahwa tidak semua program CSR ini mampu mengikat (bonding agent) dengan kemampuan untuk mendorong perubahan masyarakat, kenyataannya merupakan program reaktif berdasarkan kondisi yang ada sebagai contoh bentuk pelaksanaan bakti sosial (bibir sumbing, sunatan, pengobatan gratis, donor darah, katarak dll), permintaan sponsor acara, penyuluhan dan lain-lain atau kegiatan yang terkait dengan acara perusahaan. Salah satu bagian penting dari upaya perubahan masyarakat adalah penyusunan program tidak hanya didasarkan kepada kondisi yang telah berjalan (existing situation) tetapi perlunya melakukan teroboson pemikiran melalui inovasi program CSR yang dituangkan didalam model pemberdayaan masyarakat (modelling) dan dilengkapi peta jalan (road map) serta ukuran evaluasi kinerja yang jelas. Penerapan pada saat-saat awal program CSR akan menghadapi berbagai tantangan dan kendala, namun seiring manfaat dapat dirasakan maka penerimaan masyarakat terhadap program CSR akan mendorong percepatan implementasi tahap selanjutnya. Diakui bahwa program pemberdayaan masyarakat masih menjadi bagian tanggung jawab pemerintah, namun dengan semakin kompleksnya masalah masyarakat dan kondisi lambannya birokrasi pemerintah didalam merespon tuntutan masyarakat, tidak salahnya program CSR menjadi peran aktif dan sukarela perusahaan bagi upaya mengentaskan kemiskinan, meningkatkan derajat kualitas hidup masyarakat dan terjadinya perubahan pada masyarakat seperti diuraikan diatas. Penghargaan (community award), regulasi dan dukungan pemerintah didalam program CSR sangat dibutuhkan agar program CSR ini dapat dilaksanakan secara efektif mampu membantu pemerintah dan berkontribusi bagi masyarakat setempat.
Pandangan masyarakat bahwa program CSR sebagai kegiatan sosial perusahaan tidak dapat disalahkan namun keberadaan program CSR ini jika tidak melibatkan partisipasi masyarakat pada saat awal (bottom up process) dikhawatirkan tidak mengenali secara spesifik kebutuhan dan keinginan masyarakat. Sebaliknya, program CSR yang selalu menuruti kehendak masyarakat malah menjerumuskan masyarakat kepada ketergantungan yang terus menerus jika dominasi pemikiran masyarakat setempat masih terbatas kepada kebutuhan sesaat. Hal ini dapat disebabkan karena ketidakmampuan masyarakat mengenali kebutuhan utama dan kemudian menyusun program jangka panjang dengan sasaran yang jelas, sebagai contoh masih ada proposal masyarakat yang menginginkan perbaikan sarana fisik, padahal perbaikan sarana fisik dapat diupayakan melalui swadaya masyarakat sedangkan program CSR lebih berguna diarahkan kepada pemberdayaan kapasitas masyarakat. Pemanfaatan kompetensi generik yang ada didalam perusahaan sebagai peran konsultansi pengembangan komunitas melalui departemen hubungan masyarakat akan berguna sebagai mitra pendamping (counter part) pemerintah dan masyarakat didalam perencanaan, komunikasi dan implementasi program CSR. Masih adanya pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan kelompok masyarakat untuk melakukan tuntutan kepada perusahaan perlu diwaspadai, hal ini dapat timbul karena mudahnya masyarakat terpancing isu karena tidak tersedianya jembatan komunikasi antara perusahaan dan masyarakat sekitar, disisi lain masalah kematangan sikap masyarakat yang masih terjerat masalah ekonomi, wawasan pendidikan dan kesehatan yang kurang memadai sehingga kurang mampu membedakan masalah kepentingan pribadi/kelompok dengan kepentingan bersama. Program-program CSR yang menitik-beratkan kepada pemberdayaan masyarakat akhirnya menjadi kurang begitu populer bagi masyarakat yang belum terpenuhinya kebutuhan dasar sosial yang menjadi tanggung jawab pemerintah dan peran swadaya masyarakat.
Untuk mengatasi hal diatas, penyusunan program bersama ini menjadi tantangan bersama antara perusahaan, masyarakat, pemerintah setempat dan pihak-pihak terkait agar perumusan program CSR dapat diketahui, dipahami dan dapat dikembangkan lebih baik lagi. Upaya program CSR yang masuk kepada kebutuhan dasar sosial seperti pendidikan/pelatihan, kapasitas ekonomi dan kondisi kesehatan adalah merupakan pondasi awal pemberdayaan kapasitas masyarakat namun masih menyisakan pekerjaan rumah yang besar yaitu bagaimana masyarakat dapat melanjutkan program-program tersebut sendiri secara swadaya dan berkelanjutan (sustainable). Sebuah model pemberdayaan masyarakat pada suatu lokasi akan berbeda-beda sesuai dengan kondisi yang ada dan apa yang akan dicapai dimasa datang, perumusan model secara bersama-sama diharapkan dapat mewujudkan partisipasi dan komitmen untuk mencapai sasaran program CSR sehingga kepentingan bersama dapat didefinisikan secara jelas. Pelaksanaan perumusan model secara bersama diharapkan menghindari program tumpang tindih antara program CSR dengan program pemerintah yang sama-sama ditujukan untuk layanan publik/sosial, sehingga program CSR bila didesain sinergis dengan program pemerintah setempat dan peran swadaya masyarakat diharapkan saling mengisi dan melengkapi. Tahapan selanjutnya didalam implementasi model adalah penyusunan peta jalan pencapaian sasaran dimana setiap titik (milestone) memiliki ukuran keberhasilan yang memenuhi kriteria SMART (spesifik, measureable, achievable, realistic, timely). Setiap pergerakan titik didalam peta jalan harus mengkaji penyerapan sumber daya (resources profile), keterlibatan sumber pendukung (supporting agents) dan resiko-resiko yang muncul (risk analysis).
Sebagai contoh pemberdayaan kesehatan masyarakat yaitu masih perlunya perhatian pada pos kesehatan desa/poskesdes (unit sarana penunjang puskesmas) yang berada pada lokasi sangat terpencil dimana sarana dan prasarana sangat terbatas dan kurangnya kompetensi medis namun merupakan wilayah usaha perusahaan. Rancang bangun program CSR perusahaan, peran dan alokasi anggaran pemerintah setempat dan peran swadaya masyarakat bagi pemberdayaan poskesdes dapat saling melengkapi baik sarana fisik, pematangan kompetensi, program kesehatan termasuk sangat pentingnya aspek monitoring dan evaluasi program CSR. Monitoring dan evaluasi merupakan bagian umpan balik proses dalam bentuk koreksi dan pengawasan agar tahapan pencapaian kemajuan dapat diketahui. Seringkali data kesehatan pada tingkat puskesmas/poskesdes relatip sulit diperoleh secara lengkap dan up to date apalagi daerah terpencil, padahal proses monitoring dan evaluasi membutuhkan basis data yang memadai. Alangkah baiknya konsep JARDIKNAS melalui internet dapat diterapkan pula pada jaringan kesehatan misalnya disebut JARKESNAS sehingga teknologi digital dan komunikasi dapat dimanfaatkan secara maksimal bagi kebutuhan data kesehatan. Sebagai ilustrasi pembagian peran didalam pemberdayaan poskesdes misalnya peran pemerintah berupa penyediaan sarana fisik, swadaya masyarakat berupa prasarana penunjang antara lain sarana komunikasi dan sosialisasi program kesehatan, dan peran perusahaan berupa program CSR bisa dalam bentuk penyediaan obat-obatan generik dan pelatihan kompetensi tenaga kesehatan melalui pelatihan, pemagangan dan sertifikasi keahlian. Strategi induk nasional dibidang kesehatan (grand strategy) yaitu mencapai Indonesia Sehat harus diawali dari kemampuan poskesdes dan tentunya juga puskesmas untuk bangkit mewujudkan tahapan melalui desa siaga menuju desa sehat sebagai syarat kota/kabupaten/propinsi sehat. Revitalisasi puskesmas milik pemerintah dan poskesdes hasil swadaya masyarakat dengan dukungan program CSR diharapkan menjadi simpul-simpul deteksi dini (early warning system) masalah gizi buruk, autisme, penyakit epidemi, penyakit 10 terbesar dan lainnya yang menjadi masukan bagi tindakan dan kebijakan pada tingkat kota/kabupaten, propinsi dan nasional. Investasi pembangunan rumah sakit memang perlu namun pertimbangan optimalisasi kapasitas layanan kesehatan dan perluasan serta revitalisasi jaringan kesehatan (poskesdes dan puskesmas) tentunya merupakan prioritas yang perlu dikaji mengingat sumber dana pembangunan yang relatip terbatas. Akhirnya, bagaimana wujud peran program CSR saat ini dan mendatang kembali kepada kita didalam memaknainya apakah kita memandang sebagai obat penawar rasa sakit atau vitamin pendorong vitalitas. Tentunya harapan kita program CSR mampu memberikan revitalisasi masyarakat tidak sekedar memenuhi kebutuhan masyarakat saat ini atau ibarat orang sakit yang diberikan obat, namun lebih dari itu ibarat orang sehat yang diberi vitamin bagi vitalitas.
Disamping menghadapi kondisi diatas, perusahaan tidak lepas dari motif ekonomi yaitu upaya perusahaan mencapai titik impas bisnis untuk mencapai profit, yang kenyataan tidak selalu mencukupi apa yang menjadi tuntutan masyarakat tersebut karena itu perlunya kompensasi biaya sosial dimasukkan didalam perhitungan Break Event Point (BEP). Permasalahannya bagi perusahaan-perusahaan yang masih bergulat dengan margin tipisnya BEP untuk jenis karakteristik industri tertentu seperti garmen, percetakan dan lainnya merasakan bahwa program sosial merupakan beban dibandingkan manfaat bagi perusahaan. Dengan adanya gejolak tuntutan masyarakat, perusahaan terpaksa menjalankan program sehingga terdapat kesan terlambat dan tidak terprogram. Propinsi Kalimantan Timur yang kaya migas dan tambang umumnya merupakan perusahaan yang dalam jangka panjang diprediksi mampu melalui cost recovery sehingga tidak berada pada area margin tipisnya BEP dan diharapkan menjadi pendorong program CSR bagi masyarakat khususnya masyarakat sekitar lokasi usaha. Usaha memenuhi kebutuhan tenaga lokal setempat dipandang sebagai upaya CSR dapat dipahami sebagai kepedulian namun demikian kompetensi tenaga kerja harus tetap diperhatikan.
Jumlah perusahaan yang melaksanakan kegiatan sektor migas dan tambang semakin meningkat seiring dengan ditemukannya area pertambangan atau eksplorasi baru, akhirnya memiliki dampak ganda (multiplier effect) dari usaha migas dan tambang yaitu meningkatnya pula perusahaan penunjang (services company) baik jenis maupun jumlahnya termasuk mobilisasi karyawannya secara total bahkan bisa lebih besar dari yang ada di perusahaan inti industri (migas dan tambang). Mobilisasi jenis industri ini merupakan suatu kelebihan dibandingkan daerah lain, apabila dapat dimanfaatkan secara optimal maka program CSR menjadi jembatan bagi upaya pengembangan masyarakat antara semua pihak baik pemerintah setempat, perusahaan dan masyarakat. Jembatan (bridging sources) yang dibangun sebaiknya tidak hanya sekedar ajang komunikasi dan program sesaat tetapi lebih menyentuh kepada penguatan kapasitas masyarakat (capacity building) melalui kajian dan integrasi dimensi sendi-sendi kehidupan pokok masyarakat antara lain pendidikan & pelatihan, kesehatan, usaha wirausaha mikro, dan kepedulian lingkungan. Pengembangan kapasitas masyarakat harus didasari kepada sasaran utama program bahwa kemandirian komunitas (self sustainable) menjadi tujuan akhir program CSR. Bilamana prediksi pesimis habisnya migas dan tambang 50 tahun lagi, maka peran aktif industri migas dan tambang guna perubahan masyarakat di Propinsi Kalimantan Timur diharapkan dapat menjadi kesempatan momentum peletakan dasar-dasar keunggulan industri non migas dan pengembangan masyarakat (community development) selama 50 tahun untuk menjadi masyarakat maju (developing society) pada saat kekayaan migas dan tambang telah habis. Suatu lompatan perubahan masyarakat (leave frog) dalam jangka waktu tersebut masih memungkinkan tentunya tanpa meninggalkan jati diri bangsa, apalagi akses teknologi digital dan komunikasi yang demikian pesat didalam kehidupan masyarakat dapat dioptimalkan bagi program CSR. Perumusan visi pembangunan berbasis pada pengembangan masyarakat dan budaya lingkungan diharapkan menjadi acuan dan segera disusun langkah kongkrit (action plans) tidak sekedar diatas kertas seminar/simposium dan acara seremonial sehingga semangat visi tersebut luntur dan tidak jelasnya arah program seiring dengan berjalannya waktu.
Pengembangan sektor non migas yang saat ini dinilai unggul di suatu daerah Kalimantan Timur belum tentu menjadi unggulan strategis di masa datang bahkan mungkin menjadi suatu sektor generik yang tidak memiliki keunggulan komparatif (comparative advantage) atau bahkan keunggulan kompetitif (competitive advantage), namun demikian yang jelas-jelas menjadi faktor keunggulan kompetitif setiap bangsa sepanjang masa adalah faktor sumber daya manusia sebagai suprastruktur penggerak keunggulan yang bersifat statis (infrastruktur, sistem kerja, dll). Bagaimana perubahan tersebut dapat mendorong bangsanya untuk berniat, bersikap dan bertindak menjadi bangsa terbaik di percaturan dunia tentunya sumbangsih melalui tumpuan program CSR yang tersusun secara sistematik, terpadu, terukur, berjangka waktu panjang dengan komitmen bersama diharapkan memberikan perubahan lebih baik bagi masyarakat khususnya masyarakat setempat. Suatu contoh menarik dan berhasil dari wujud CSR sejak tahun 1990-an di Kawasan Industri Batam dengan karakteristik padat industri, pemerintah/otorita setempat menyediakan sarana fisik sekolah menengah kejuruan (SMK) sedangkan perusahaan secara sukarela sesuai jenis keahlian yang dibutuhkan sekolah menyediakan prasarana peralatan, tenaga instruktur terlatih, dan kurikulum lokal termasuk bekal bahasa asing serta bantuan beasiswa bagi siswa berprestasi. Bantuan program asing (technical assistance) untuk menyempurnakan kurikulum dalam bentuk standar kompetensi keahlian telah dikenal sejak lama sebelum kurikulum berbasis kompetensi mulai diterapkan secara nasional. Hasil simboisis mutualisma dalam kerangka CSR berupa lulusan lokal yang diharapkan mampu bekerja di kawasan industri tersebut dengan standar kompetensi industri yang up to date dan memahami mesin/peralatan yang digunakan industri sangat berguna bagi pemerintah setempat, pengusaha dan masyarakat.
Suatu asumsi bahwa keberadaan program CSR merupakan syarat perlu bagi perusahaan untuk menjaga hubungan (maintenance forces) dengan pihak-pihak yang berkepentingan harus diubah menjadi syarat mutlak agar melalui program ini memiliki manfaat bagi perubahan masyarakat. Bentuk perubahan masyarakat ini dapat diawali dengan perubahan pola pikir, pola sikap dan pola tindak meliputi ekonomi, sosial dan budaya yang lebih baik. Sangat disayangkan bahwa tidak semua program CSR ini mampu mengikat (bonding agent) dengan kemampuan untuk mendorong perubahan masyarakat, kenyataannya merupakan program reaktif berdasarkan kondisi yang ada sebagai contoh bentuk pelaksanaan bakti sosial (bibir sumbing, sunatan, pengobatan gratis, donor darah, katarak dll), permintaan sponsor acara, penyuluhan dan lain-lain atau kegiatan yang terkait dengan acara perusahaan. Salah satu bagian penting dari upaya perubahan masyarakat adalah penyusunan program tidak hanya didasarkan kepada kondisi yang telah berjalan (existing situation) tetapi perlunya melakukan teroboson pemikiran melalui inovasi program CSR yang dituangkan didalam model pemberdayaan masyarakat (modelling) dan dilengkapi peta jalan (road map) serta ukuran evaluasi kinerja yang jelas. Penerapan pada saat-saat awal program CSR akan menghadapi berbagai tantangan dan kendala, namun seiring manfaat dapat dirasakan maka penerimaan masyarakat terhadap program CSR akan mendorong percepatan implementasi tahap selanjutnya. Diakui bahwa program pemberdayaan masyarakat masih menjadi bagian tanggung jawab pemerintah, namun dengan semakin kompleksnya masalah masyarakat dan kondisi lambannya birokrasi pemerintah didalam merespon tuntutan masyarakat, tidak salahnya program CSR menjadi peran aktif dan sukarela perusahaan bagi upaya mengentaskan kemiskinan, meningkatkan derajat kualitas hidup masyarakat dan terjadinya perubahan pada masyarakat seperti diuraikan diatas. Penghargaan (community award), regulasi dan dukungan pemerintah didalam program CSR sangat dibutuhkan agar program CSR ini dapat dilaksanakan secara efektif mampu membantu pemerintah dan berkontribusi bagi masyarakat setempat.
Pandangan masyarakat bahwa program CSR sebagai kegiatan sosial perusahaan tidak dapat disalahkan namun keberadaan program CSR ini jika tidak melibatkan partisipasi masyarakat pada saat awal (bottom up process) dikhawatirkan tidak mengenali secara spesifik kebutuhan dan keinginan masyarakat. Sebaliknya, program CSR yang selalu menuruti kehendak masyarakat malah menjerumuskan masyarakat kepada ketergantungan yang terus menerus jika dominasi pemikiran masyarakat setempat masih terbatas kepada kebutuhan sesaat. Hal ini dapat disebabkan karena ketidakmampuan masyarakat mengenali kebutuhan utama dan kemudian menyusun program jangka panjang dengan sasaran yang jelas, sebagai contoh masih ada proposal masyarakat yang menginginkan perbaikan sarana fisik, padahal perbaikan sarana fisik dapat diupayakan melalui swadaya masyarakat sedangkan program CSR lebih berguna diarahkan kepada pemberdayaan kapasitas masyarakat. Pemanfaatan kompetensi generik yang ada didalam perusahaan sebagai peran konsultansi pengembangan komunitas melalui departemen hubungan masyarakat akan berguna sebagai mitra pendamping (counter part) pemerintah dan masyarakat didalam perencanaan, komunikasi dan implementasi program CSR. Masih adanya pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan kelompok masyarakat untuk melakukan tuntutan kepada perusahaan perlu diwaspadai, hal ini dapat timbul karena mudahnya masyarakat terpancing isu karena tidak tersedianya jembatan komunikasi antara perusahaan dan masyarakat sekitar, disisi lain masalah kematangan sikap masyarakat yang masih terjerat masalah ekonomi, wawasan pendidikan dan kesehatan yang kurang memadai sehingga kurang mampu membedakan masalah kepentingan pribadi/kelompok dengan kepentingan bersama. Program-program CSR yang menitik-beratkan kepada pemberdayaan masyarakat akhirnya menjadi kurang begitu populer bagi masyarakat yang belum terpenuhinya kebutuhan dasar sosial yang menjadi tanggung jawab pemerintah dan peran swadaya masyarakat.
Untuk mengatasi hal diatas, penyusunan program bersama ini menjadi tantangan bersama antara perusahaan, masyarakat, pemerintah setempat dan pihak-pihak terkait agar perumusan program CSR dapat diketahui, dipahami dan dapat dikembangkan lebih baik lagi. Upaya program CSR yang masuk kepada kebutuhan dasar sosial seperti pendidikan/pelatihan, kapasitas ekonomi dan kondisi kesehatan adalah merupakan pondasi awal pemberdayaan kapasitas masyarakat namun masih menyisakan pekerjaan rumah yang besar yaitu bagaimana masyarakat dapat melanjutkan program-program tersebut sendiri secara swadaya dan berkelanjutan (sustainable). Sebuah model pemberdayaan masyarakat pada suatu lokasi akan berbeda-beda sesuai dengan kondisi yang ada dan apa yang akan dicapai dimasa datang, perumusan model secara bersama-sama diharapkan dapat mewujudkan partisipasi dan komitmen untuk mencapai sasaran program CSR sehingga kepentingan bersama dapat didefinisikan secara jelas. Pelaksanaan perumusan model secara bersama diharapkan menghindari program tumpang tindih antara program CSR dengan program pemerintah yang sama-sama ditujukan untuk layanan publik/sosial, sehingga program CSR bila didesain sinergis dengan program pemerintah setempat dan peran swadaya masyarakat diharapkan saling mengisi dan melengkapi. Tahapan selanjutnya didalam implementasi model adalah penyusunan peta jalan pencapaian sasaran dimana setiap titik (milestone) memiliki ukuran keberhasilan yang memenuhi kriteria SMART (spesifik, measureable, achievable, realistic, timely). Setiap pergerakan titik didalam peta jalan harus mengkaji penyerapan sumber daya (resources profile), keterlibatan sumber pendukung (supporting agents) dan resiko-resiko yang muncul (risk analysis).
Sebagai contoh pemberdayaan kesehatan masyarakat yaitu masih perlunya perhatian pada pos kesehatan desa/poskesdes (unit sarana penunjang puskesmas) yang berada pada lokasi sangat terpencil dimana sarana dan prasarana sangat terbatas dan kurangnya kompetensi medis namun merupakan wilayah usaha perusahaan. Rancang bangun program CSR perusahaan, peran dan alokasi anggaran pemerintah setempat dan peran swadaya masyarakat bagi pemberdayaan poskesdes dapat saling melengkapi baik sarana fisik, pematangan kompetensi, program kesehatan termasuk sangat pentingnya aspek monitoring dan evaluasi program CSR. Monitoring dan evaluasi merupakan bagian umpan balik proses dalam bentuk koreksi dan pengawasan agar tahapan pencapaian kemajuan dapat diketahui. Seringkali data kesehatan pada tingkat puskesmas/poskesdes relatip sulit diperoleh secara lengkap dan up to date apalagi daerah terpencil, padahal proses monitoring dan evaluasi membutuhkan basis data yang memadai. Alangkah baiknya konsep JARDIKNAS melalui internet dapat diterapkan pula pada jaringan kesehatan misalnya disebut JARKESNAS sehingga teknologi digital dan komunikasi dapat dimanfaatkan secara maksimal bagi kebutuhan data kesehatan. Sebagai ilustrasi pembagian peran didalam pemberdayaan poskesdes misalnya peran pemerintah berupa penyediaan sarana fisik, swadaya masyarakat berupa prasarana penunjang antara lain sarana komunikasi dan sosialisasi program kesehatan, dan peran perusahaan berupa program CSR bisa dalam bentuk penyediaan obat-obatan generik dan pelatihan kompetensi tenaga kesehatan melalui pelatihan, pemagangan dan sertifikasi keahlian. Strategi induk nasional dibidang kesehatan (grand strategy) yaitu mencapai Indonesia Sehat harus diawali dari kemampuan poskesdes dan tentunya juga puskesmas untuk bangkit mewujudkan tahapan melalui desa siaga menuju desa sehat sebagai syarat kota/kabupaten/propinsi sehat. Revitalisasi puskesmas milik pemerintah dan poskesdes hasil swadaya masyarakat dengan dukungan program CSR diharapkan menjadi simpul-simpul deteksi dini (early warning system) masalah gizi buruk, autisme, penyakit epidemi, penyakit 10 terbesar dan lainnya yang menjadi masukan bagi tindakan dan kebijakan pada tingkat kota/kabupaten, propinsi dan nasional. Investasi pembangunan rumah sakit memang perlu namun pertimbangan optimalisasi kapasitas layanan kesehatan dan perluasan serta revitalisasi jaringan kesehatan (poskesdes dan puskesmas) tentunya merupakan prioritas yang perlu dikaji mengingat sumber dana pembangunan yang relatip terbatas. Akhirnya, bagaimana wujud peran program CSR saat ini dan mendatang kembali kepada kita didalam memaknainya apakah kita memandang sebagai obat penawar rasa sakit atau vitamin pendorong vitalitas. Tentunya harapan kita program CSR mampu memberikan revitalisasi masyarakat tidak sekedar memenuhi kebutuhan masyarakat saat ini atau ibarat orang sakit yang diberikan obat, namun lebih dari itu ibarat orang sehat yang diberi vitamin bagi vitalitas.
Senin, 04 Oktober 2010
KEKERASAN BUKAN KEGEMARAN ORANG BATAK
Oleh JANSEN H. SINAMO, dimuat di Harian KOMPAS, 7 Januari 2009
BERITA politik paling heboh pekan ini tentulah unjuk rasa keras yang berlangsung brutal di katedral politik Sumatera Utara yang berujung pada tewasnya Abdul Aziz Angkat, ketua DPRD provinsi yang berpenduduk multietnik itu.
Tak bisa lain, satu kesan sisa yang menonjol adalah: Batak itu memang keras. Di milis Forum Pembaca Kompas – yang beranggota hampir sepuluh ribu itu – seorang warganya menulis begini, “Sebagai orang yang dibesarkan di kota Medan, saya merasa malu. Apalagi kejadian pilu ini terkait dengan pembentukan Provinsi Tapanuli. Saya sangat malu sebagai suku Batak!”
Orang Batak memang jadi terdakwa dalam insiden ini, apa boleh buat. Namun tidak banyak orang tahu, sang korban sebenarnya adalah juga orang Batak, berasal dari rumpun sub-etnik Pakpak. Marga-marga Pakpak seperti Angkat, Bintang, Gajah, Padang, Sinamo, Tumanggor, dan masih banyak lagi, hampir tidak dikenal sebagai marga-marga Batak seperti yang telah tenar lebih dulu dari rumpun Batak lain seperti Sitorus, Sihombing, Sembiring, Pohan, Panggabean, Panjaitan, Silalahi, Siregar, atau Saragih.
Perlu segera ditegaskan, kekerasan bukanlah kegemaran khusus orang Batak, dan bukan pula ciri khasnya. Semua kaum, suku, dan bangsa pernah melakukannya: di Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Papua, bahkan di semua penjuru benua dan pelosok dunia, seperti di istana raja-raja Persia, kaisar-kaisar Romawi, prabu-prabu Singosari – ingat misalnya hikayat keris Mpu Gandring – dan sultan-sultan Mataram kuno. Barangkali cuma di benua Antartika tak ada aksi kekerasan. Dan itu jelas karena manusia apalagi keraton tidak ada di sana.
Jalan Kekerasan Tetap Digemari
KEKERASAN sebagai metode mewujudkan kehendak telah dipraktikkan manusia sejak purbakala dengan sokongan ilmu dan teknologi zamannya. Meski dewasa ini kekerasan dianggap sebagai sangat buruk, dan karena itu harus dijauhi, sebab jika tidak akan dicela dan dihakimi keras oleh masyarakat beradab, tetapi nyatanya kekerasan memang membawa nikmat bagi pelakunya. Juga, jalan kekerasan terlihat sangat praktis, instan dan ekonomis, serta membawa hasil besar secara efektif. Tidak heran Brutus melakukannya terhadap Caesar di Roma, Ken Arok terhadap Tunggul Ametung di Tumapel, dan Suharto di Aceh, Papua, dan Buru. Amerika pun melakukannya di Iran, Irak, dan Afganistan; Israel di Gaza, Tepi Barat, dan Libanon; dan pekan ini pendukung bakal Provinsi Tapanuli di kantor DPRD Sumatera Utara. Bisa diduga, kita masih akan terus menyaksikan aksi-aksi kekerasan di berbagai panggung kehidupan, dari skala kecil sampai kolosal, oleh aktor-aktor individual maupun satuan-satuan resmi nasional.
Persaingan adalah mulanya, konflik kepentingan adalah arenanya, dan perwujudan niat menguasai adalah cita-cita ultimatnya. Sudah niscaya selalu ada pihak yang tersisih, kalah, terluka, hilang atau mati. Tetapi korban-korban itu selalu dianggap wajar belaka, memang sudah seharusnya demikian, dan karenanya baiklah diabaikan atau dilupakan begitu saja.
Pada saat yang sama, pihak pelaku kekerasan, apalagi jika hasilnya besar, selain memperoleh kenikmatan intrinsik yang hebat — perhatikan misalnya ekspresi puas wajah-wajah para pendemo saat berhasil menjebol gerbang, mengobrak-abrik ruang sidang, atau meninju wajah Aziz Angkat — oleh kaumnya akan dielu-elukan sebagai pahlawan, diberi legitimasi legal, dihadiahi berbagai privilese, serta dikukuhkan posisinya dalam panteon sosial mereka.
Saat di zaman mutakhir ini, meminjam istilah Thomas L. Friedman, dunia sudah semakin datar – ketika peristiwa-peristiwa kekerasan bisa ditonton lalu diskusikan lewat televisi layar datar – maka kita pun meniru dan mempelajari kekerasan itu, tidak saja caranya dan tekniknya, tetapi juga nafsunya dan motivasinya, sekaligus dan serentak. Demikianlah etos kekerasan merambah makin luas dan berakar makin dalam di seluruh dunia. Tinggal menunggu momen ledak yang pas. Disederhanakan, kira-kira begitulah keterangan Rene Girard, sejarawan dan filsuf kondang kelahiran Avignon, Prancis, tentang situasi dan dinamika kekerasan dewasa ini dalam sejarah kontemporer kita.
Pancaroba Demokrasi
DEMOKRASI sebagai sebagai suatu sistem, prinsip, proses dan prosedur sesungguhnya tidaklah asing bagi orang Batak sejak zaman pra-kolonial. Bahkan di zaman Orde Baru yang sistem politik nasionalnya tidak demokratis, di tingkat adatnya orang Batak tetap saja bergaya demokratis. Tatkala kesempatan membentuk Provinsi Tapanuli terbuka lebar sedekade lalu bersamaan dengan tumbangnya Orde Baru, antusiasme besar segera saja melanda sebagian elit dan warga eks karesidenan Tapanuli zaman Belanda.
Tetapi warga wilayah itu ternyata sudah banyak berubah: semakin kompleks, semakin sadar kelompok, dan semakin berbeda kepentingan maupun orientasi politiknya. Ditambah dengan belum matangnya demokrasi republik beserta semua perangkat pendukungnya di musim pancaroba era reformasi ini, provinsi yang didamba-dambakan itu tidak juga terbentuk sesudah menghabiskan begitu banyak waktu, tenaga, dan ongkos, akhirnya melahirkan rasa frustrasi yang berujung pada amuk massa. Itulah yang terjadi hari Selasa lalu di Medan.
Namun ini tetap tak bisa diterima, demokrasi yang diniatkan sebagai sistem untuk lebih mengadabkan perilaku negara dan warganya, hanya bisa terwujud melalui jalan hukum yang tegas. Ya, hukum harus ditegakkan! Siapapun yang melanggar atau mengabaikan hukum Selasa lalu harus diproses secara hukum pula.
Hati Rinto Membuka Jalan Damai
KETIKA di tahun 80-an film laga seri Rambo mencuat terkenal yang berkoinsidensi dengan populernya lagu-lagu karangan Rinto Harahap, entah dari mana asalnya, muncullah ungkapan kocak, tampang Rambo hati Rinto, untuk menggambarkan dualitas karakter orang Batak. Tampang dan suara orang Batak yang tegas dan keras itu biasa terlihat di terminal bis, metromini, kantor-kantor, termasuk gereja-gereja, tetapi di situ juga mereka tarik suara, memetik gitar, dan melantunkan kor.
Tapi dualitas semacam ini pun bukanlah monopoli orang Batak. Semua orang juga begitu: bisa keras bahkan sanggup membunuh secara sadis jika terdesak namun juga memiliki sisi yang lembut, penuh cinta, romantisme, dan puisi. Guru-guru dan ajaran-ajaran kebajikan seperti yang berasal dari Siddharta Gautama, Isa Almasih, Jalaluddin Rumi hingga Mahatma Gandhi, Bunda Teresa, dan Nelson Mandela yang telah mewarnai berbagai peradaban dan kebudayaan sejak dulu kala, juga mempengaruhi masyarakat Batak. Ini jelas tampak dalam keseniannya, tembang-tembang maupun sastranya, serta relasi-relasi interpersonalnya.
Jika berkonflik, sama seperti kelompok masyarakat lain, orang Batak juga mempunyai strategi budaya, perangkat adat, dan instrumen sosial tersendiri untuk menyelesaikannya. Yang terkenal misalnya sistem Dalihan Natolu dengan panduan sehimpunan kaidah canggih semisal ‘menjaga padi di ladang tanpa bandringan’ atau ‘menggembalakan kerbau di padang tanpa pecut’. Namun keberhasilan strategi dan aplikasi perangkat dan instrumen di atas pada akhirnya sangat tergantung pada kualitas pribadi warganya, efektivitas birokrasi organisasi-organisasinya, serta integritas prosedur dan mekanisme operasionalnya.
Kini, pasca anarki Medan, saat semua perangkat di atas diragukan keandalannya, warga Batak sebaiknya kembali berpaling kepada watak terhalusnya, mengakses kalbu terbaiknya, dan mengizinkan hati cantik itu – hati Rinto – kembali tampil mengalun dengan tembang merdu berjudul Jalan Penuh Damai Menunggumu. Horas bah. Njuah-njuah banta karina.
BERITA politik paling heboh pekan ini tentulah unjuk rasa keras yang berlangsung brutal di katedral politik Sumatera Utara yang berujung pada tewasnya Abdul Aziz Angkat, ketua DPRD provinsi yang berpenduduk multietnik itu.
Tak bisa lain, satu kesan sisa yang menonjol adalah: Batak itu memang keras. Di milis Forum Pembaca Kompas – yang beranggota hampir sepuluh ribu itu – seorang warganya menulis begini, “Sebagai orang yang dibesarkan di kota Medan, saya merasa malu. Apalagi kejadian pilu ini terkait dengan pembentukan Provinsi Tapanuli. Saya sangat malu sebagai suku Batak!”
Orang Batak memang jadi terdakwa dalam insiden ini, apa boleh buat. Namun tidak banyak orang tahu, sang korban sebenarnya adalah juga orang Batak, berasal dari rumpun sub-etnik Pakpak. Marga-marga Pakpak seperti Angkat, Bintang, Gajah, Padang, Sinamo, Tumanggor, dan masih banyak lagi, hampir tidak dikenal sebagai marga-marga Batak seperti yang telah tenar lebih dulu dari rumpun Batak lain seperti Sitorus, Sihombing, Sembiring, Pohan, Panggabean, Panjaitan, Silalahi, Siregar, atau Saragih.
Perlu segera ditegaskan, kekerasan bukanlah kegemaran khusus orang Batak, dan bukan pula ciri khasnya. Semua kaum, suku, dan bangsa pernah melakukannya: di Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Papua, bahkan di semua penjuru benua dan pelosok dunia, seperti di istana raja-raja Persia, kaisar-kaisar Romawi, prabu-prabu Singosari – ingat misalnya hikayat keris Mpu Gandring – dan sultan-sultan Mataram kuno. Barangkali cuma di benua Antartika tak ada aksi kekerasan. Dan itu jelas karena manusia apalagi keraton tidak ada di sana.
Jalan Kekerasan Tetap Digemari
KEKERASAN sebagai metode mewujudkan kehendak telah dipraktikkan manusia sejak purbakala dengan sokongan ilmu dan teknologi zamannya. Meski dewasa ini kekerasan dianggap sebagai sangat buruk, dan karena itu harus dijauhi, sebab jika tidak akan dicela dan dihakimi keras oleh masyarakat beradab, tetapi nyatanya kekerasan memang membawa nikmat bagi pelakunya. Juga, jalan kekerasan terlihat sangat praktis, instan dan ekonomis, serta membawa hasil besar secara efektif. Tidak heran Brutus melakukannya terhadap Caesar di Roma, Ken Arok terhadap Tunggul Ametung di Tumapel, dan Suharto di Aceh, Papua, dan Buru. Amerika pun melakukannya di Iran, Irak, dan Afganistan; Israel di Gaza, Tepi Barat, dan Libanon; dan pekan ini pendukung bakal Provinsi Tapanuli di kantor DPRD Sumatera Utara. Bisa diduga, kita masih akan terus menyaksikan aksi-aksi kekerasan di berbagai panggung kehidupan, dari skala kecil sampai kolosal, oleh aktor-aktor individual maupun satuan-satuan resmi nasional.
Persaingan adalah mulanya, konflik kepentingan adalah arenanya, dan perwujudan niat menguasai adalah cita-cita ultimatnya. Sudah niscaya selalu ada pihak yang tersisih, kalah, terluka, hilang atau mati. Tetapi korban-korban itu selalu dianggap wajar belaka, memang sudah seharusnya demikian, dan karenanya baiklah diabaikan atau dilupakan begitu saja.
Pada saat yang sama, pihak pelaku kekerasan, apalagi jika hasilnya besar, selain memperoleh kenikmatan intrinsik yang hebat — perhatikan misalnya ekspresi puas wajah-wajah para pendemo saat berhasil menjebol gerbang, mengobrak-abrik ruang sidang, atau meninju wajah Aziz Angkat — oleh kaumnya akan dielu-elukan sebagai pahlawan, diberi legitimasi legal, dihadiahi berbagai privilese, serta dikukuhkan posisinya dalam panteon sosial mereka.
Saat di zaman mutakhir ini, meminjam istilah Thomas L. Friedman, dunia sudah semakin datar – ketika peristiwa-peristiwa kekerasan bisa ditonton lalu diskusikan lewat televisi layar datar – maka kita pun meniru dan mempelajari kekerasan itu, tidak saja caranya dan tekniknya, tetapi juga nafsunya dan motivasinya, sekaligus dan serentak. Demikianlah etos kekerasan merambah makin luas dan berakar makin dalam di seluruh dunia. Tinggal menunggu momen ledak yang pas. Disederhanakan, kira-kira begitulah keterangan Rene Girard, sejarawan dan filsuf kondang kelahiran Avignon, Prancis, tentang situasi dan dinamika kekerasan dewasa ini dalam sejarah kontemporer kita.
Pancaroba Demokrasi
DEMOKRASI sebagai sebagai suatu sistem, prinsip, proses dan prosedur sesungguhnya tidaklah asing bagi orang Batak sejak zaman pra-kolonial. Bahkan di zaman Orde Baru yang sistem politik nasionalnya tidak demokratis, di tingkat adatnya orang Batak tetap saja bergaya demokratis. Tatkala kesempatan membentuk Provinsi Tapanuli terbuka lebar sedekade lalu bersamaan dengan tumbangnya Orde Baru, antusiasme besar segera saja melanda sebagian elit dan warga eks karesidenan Tapanuli zaman Belanda.
Tetapi warga wilayah itu ternyata sudah banyak berubah: semakin kompleks, semakin sadar kelompok, dan semakin berbeda kepentingan maupun orientasi politiknya. Ditambah dengan belum matangnya demokrasi republik beserta semua perangkat pendukungnya di musim pancaroba era reformasi ini, provinsi yang didamba-dambakan itu tidak juga terbentuk sesudah menghabiskan begitu banyak waktu, tenaga, dan ongkos, akhirnya melahirkan rasa frustrasi yang berujung pada amuk massa. Itulah yang terjadi hari Selasa lalu di Medan.
Namun ini tetap tak bisa diterima, demokrasi yang diniatkan sebagai sistem untuk lebih mengadabkan perilaku negara dan warganya, hanya bisa terwujud melalui jalan hukum yang tegas. Ya, hukum harus ditegakkan! Siapapun yang melanggar atau mengabaikan hukum Selasa lalu harus diproses secara hukum pula.
Hati Rinto Membuka Jalan Damai
KETIKA di tahun 80-an film laga seri Rambo mencuat terkenal yang berkoinsidensi dengan populernya lagu-lagu karangan Rinto Harahap, entah dari mana asalnya, muncullah ungkapan kocak, tampang Rambo hati Rinto, untuk menggambarkan dualitas karakter orang Batak. Tampang dan suara orang Batak yang tegas dan keras itu biasa terlihat di terminal bis, metromini, kantor-kantor, termasuk gereja-gereja, tetapi di situ juga mereka tarik suara, memetik gitar, dan melantunkan kor.
Tapi dualitas semacam ini pun bukanlah monopoli orang Batak. Semua orang juga begitu: bisa keras bahkan sanggup membunuh secara sadis jika terdesak namun juga memiliki sisi yang lembut, penuh cinta, romantisme, dan puisi. Guru-guru dan ajaran-ajaran kebajikan seperti yang berasal dari Siddharta Gautama, Isa Almasih, Jalaluddin Rumi hingga Mahatma Gandhi, Bunda Teresa, dan Nelson Mandela yang telah mewarnai berbagai peradaban dan kebudayaan sejak dulu kala, juga mempengaruhi masyarakat Batak. Ini jelas tampak dalam keseniannya, tembang-tembang maupun sastranya, serta relasi-relasi interpersonalnya.
Jika berkonflik, sama seperti kelompok masyarakat lain, orang Batak juga mempunyai strategi budaya, perangkat adat, dan instrumen sosial tersendiri untuk menyelesaikannya. Yang terkenal misalnya sistem Dalihan Natolu dengan panduan sehimpunan kaidah canggih semisal ‘menjaga padi di ladang tanpa bandringan’ atau ‘menggembalakan kerbau di padang tanpa pecut’. Namun keberhasilan strategi dan aplikasi perangkat dan instrumen di atas pada akhirnya sangat tergantung pada kualitas pribadi warganya, efektivitas birokrasi organisasi-organisasinya, serta integritas prosedur dan mekanisme operasionalnya.
Kini, pasca anarki Medan, saat semua perangkat di atas diragukan keandalannya, warga Batak sebaiknya kembali berpaling kepada watak terhalusnya, mengakses kalbu terbaiknya, dan mengizinkan hati cantik itu – hati Rinto – kembali tampil mengalun dengan tembang merdu berjudul Jalan Penuh Damai Menunggumu. Horas bah. Njuah-njuah banta karina.
Langganan:
Postingan (Atom)