Selasa, 02 Maret 2010

KASUS BANK CENTURY

KASUS BANK CENTURY
Misbakhun Laporkan
Andi Arif ke Mabes Polri

Rabu, 3 Maret 2010
JAKARTA (Suara Karya): Merasa dicermarkan nama baiknya, anggota DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) M Misbakhun melaporkan kasusnya ke Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri di Jakarta, Selasa (2/3).

Didampingi kuasa hukumnya, Zainudin Paru, M Misbakhun melaporkan masalah pencemaran nama baik yang dilakukan staf khusus Presiden bidang Sosial dan Bencana, Andi Arif.

"Saya melaporkan dugaan pencemaran nama baik yang diduga dilakukan Andi Arif, staf khusus Presiden. Biarkan proses hukum yang akan menyelesaikan," kata dia saat keluar dari gedung Bareskrim Polri, kemarin.

Menurut M Misbakhun, apa yang disampaikan staf khusus Presiden tersebut ke beberapa media tidak hanya mencemarkan nama baiknya, melainkan juga telah memfitnah dirinya.

"Kepada publik lewat berbagai media dia (Andi Arif) menuduh saya telah melakukan korupsi. Bahkan, saya disamakan dengan Edi Tanzil. Itu jelas merusak nama baik saya," ujar dia.

Kuasa hukum M Misbakhun, Zainudin Paru menambahkan, dalam laporannya ke Mabes Polri, pihaknya menyertakan beberapa barang bukti berupa rekaman televisi, print out media cetak dan print out media online.

"Pernyataan Andi Arif telah mencemarkan nama baik Pak Misbakhun, karena Pak Misbakhun sebagai pengusaha memiliki kredibilitas dan track record yang baik. Dia juga telah memfitnah," kata dia.

Terkait dugaan menerima fasilitas letter of credit (L/C) fiktif, Misbakhun menolak menjelaskan. Menurut dia, hal itu sudah dijelaskan oleh pihak Bank Mutiara, nama baru Bank Century.

"Soal itu sudah dijelaskan oleh Dirut Bank Mutiara sendiri, tidak benar saya terkait L/C fiktif. Silakan tanya ke Bank Mutiara," tegas dia.

Ditanya soal pajak perusahaan PT Selalang Prima Indonesia (SPI), Misbakhun menandaskan, perusahaannya itu masih beroperasi dengan normal dan tak ada masalah dengan pajak perusahaan miliknya itu.

"Kita sudah selesai. Silakan tanya dirjen pajak. Kalau soal lain, biar korporasi yang memberi jawaban," jelas dia.

Sebelumnya Andi Arief melaporkan Misbakhun soal dugaan L/CFitif itu ke Polres Jakarta Utara. (Hanif S)

KASUS BANK CENTURY

KASUS BANK CENTURY
Misbakhun Laporkan
Andi Arif ke Mabes Polri

Rabu, 3 Maret 2010
JAKARTA (Suara Karya): Merasa dicermarkan nama baiknya, anggota DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) M Misbakhun melaporkan kasusnya ke Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri di Jakarta, Selasa (2/3).

Didampingi kuasa hukumnya, Zainudin Paru, M Misbakhun melaporkan masalah pencemaran nama baik yang dilakukan staf khusus Presiden bidang Sosial dan Bencana, Andi Arif.

"Saya melaporkan dugaan pencemaran nama baik yang diduga dilakukan Andi Arif, staf khusus Presiden. Biarkan proses hukum yang akan menyelesaikan," kata dia saat keluar dari gedung Bareskrim Polri, kemarin.

Menurut M Misbakhun, apa yang disampaikan staf khusus Presiden tersebut ke beberapa media tidak hanya mencemarkan nama baiknya, melainkan juga telah memfitnah dirinya.

"Kepada publik lewat berbagai media dia (Andi Arif) menuduh saya telah melakukan korupsi. Bahkan, saya disamakan dengan Edi Tanzil. Itu jelas merusak nama baik saya," ujar dia.

Kuasa hukum M Misbakhun, Zainudin Paru menambahkan, dalam laporannya ke Mabes Polri, pihaknya menyertakan beberapa barang bukti berupa rekaman televisi, print out media cetak dan print out media online.

"Pernyataan Andi Arif telah mencemarkan nama baik Pak Misbakhun, karena Pak Misbakhun sebagai pengusaha memiliki kredibilitas dan track record yang baik. Dia juga telah memfitnah," kata dia.

Terkait dugaan menerima fasilitas letter of credit (L/C) fiktif, Misbakhun menolak menjelaskan. Menurut dia, hal itu sudah dijelaskan oleh pihak Bank Mutiara, nama baru Bank Century.

"Soal itu sudah dijelaskan oleh Dirut Bank Mutiara sendiri, tidak benar saya terkait L/C fiktif. Silakan tanya ke Bank Mutiara," tegas dia.

Ditanya soal pajak perusahaan PT Selalang Prima Indonesia (SPI), Misbakhun menandaskan, perusahaannya itu masih beroperasi dengan normal dan tak ada masalah dengan pajak perusahaan miliknya itu.

"Kita sudah selesai. Silakan tanya dirjen pajak. Kalau soal lain, biar korporasi yang memberi jawaban," jelas dia.

Sebelumnya Andi Arief melaporkan Misbakhun soal dugaan L/CFitif itu ke Polres Jakarta Utara. (Hanif S)

10 ALASAN MENCINTAIMU

10 Alasan Mencintaimu

Aku butuh teman untuk melalui
Aku butuh kawan untuk berbagi
Aku butuh bayangan untuk mengikuti
Aku butuh mentari untuk menerangi
Aku butuh air untuk menyirami
Aku butuh pohon untuk meneduhi
Aku butuh pagi setelah gelap hari
Aku butuh tempat untuk kudiami
Aku butuh tersenyum setelah bersedih
Aku butuh hati untuk disayangi
Untuk itulah kuingin kau tetap disini
Hingga kelak kujadikan seorang istri
Referensi :
• berjudul 10 Alasan Mencintaimu ini ditulis oleh Kenzt pada 20th, 2008.
• http://www.anggrekbiru.com/alasan-mencintaimu.html

KEPRIBADIAN DAN GAYA HIDUP MANUSIA

KEPRIDADIAN DAN GAYA HIDUP MANUSIA


Kepribadian Manusia

Kepribadian yang kita bicarakan di sini adalah suatu karakter/corak kehidupan yang ada pada diri seseorang. Kepribadian adalah sesuatu yang memberi ciri khas bagi pemiliknya, yang membedakannya dengan orang lain. Maka, kita bisa melihat penampakan kepribadian yang ada pada diri manusia itu dari luar, berupa perbuatan-perbuatan fisik maupun sikap-sikap mental yang ditampakkannya secara konstan dalam kehidupan kesehariannya. Kita bisa mengenali mana orang yang baik dan mana orang yang jahat dari tingkah laku yang dijalankannya dan sikap mental yang ditampakkannya. Kita bisa mempersepsikan mana orang yang terhormat dan mana orang yang hina dari berbagai sikap dan omongan yang ditampilkannya secara ajeg (tetap). Lebih dari itu, dari pola keseharian yang tampak pada diri seseorang, kita bisa menebak "haluan pemikiran" yang dia anut. Maka kita bisa mengdentifikasi mana orang yang berpikiran islami, mana orang yang berhaluan liberal, mana orang yang berhaluan sosialis, dan mana orang yang tidak punya haluan.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: "kenapa penampakan kepribadian manusia itu berbeda-beda? ", "apa faktor yang membuat manusia itu memiliki kepribadian yang berbeda-beda? ". Dengan kata lain "apa faktor yang membentuk kepribadian yang khas yang ada pada diri seseorang?" Inilah yang akan kita jawab. Wa billaahit taufiiq

Manusia itu Pada Dasarnya Sama

Sudah jelas, sebagaimana kami gambarkan di atas, bahwa manusia itu berbeda-beda dalam wujud kepribadiannya. Namun demikian, anda pasti juga setuju jika dikatakan bahwa manusia itu pada dasarnya sama. Tidak ada manusia yang lahir sebagai orang yang mulia atau hina. Tatkala manusia lahir, dia tidak memiliki suatu haluan pun, maka ia tidak bisa disebut sebagai "bayi yang berhaluan sosialis", "bayi yang berhaluan liberal", "bayi yang berkepribadian islam", dst".

Sebagai sebuah spesies, maka manusia memiliki karakter umum yang dimiliki oleh seluruh anggotanya. Karakter umum yang ada pada setiap manusia adalah sebagai berikut:

Pertama, manusia itu adalah makhluk yang memiliki kebutuhan-kebutuhan dasar yang sama. Kebutuhan dasar manusia itu secara garis besar dibagi menjadi dua: Pertama kebutuhan fisik, seperti kebutuhan untuk mendapatkan nutrisi (melalui makanan, minuman, dan nafas), kebutuhan untuk membuang sisa metabolisme melalui saluran-salurannya (buang hajat), kebutuhan untuk hidup pada tempat yang memiliki vareable iklim yang layak (suhu, tekanan udara, kelembaban, dll), dan kebutuhan untuk istirahat. Kedua, kebutuhan manusia yang bersiat naluriah, seperti naluri mempertahankan diri, naluri untuk menyucikan/mengagun gkan sesuatu, dan naluri untuk melestarikan jenis manusia.

Kedua, manusia adalah spesies yang berakal. Selama manusia lahir dan hidup dalam keadaan normal, maka dia pasti memiliki akal, walau pun berbeda dalam tingkat kecerdasannya. Kedua hal inilah, yakni kebutuhan dan akal, yang merupakan karakter umum dari manusia.

Peran Akal Dalam Pembentukan Kepribadian

Kebutuhan-kebutuhan manusia dan tuntutan pemenuhannya merupakan dorongan yang membuat manusia memiliki alasan dan gairah untuk menjalani kehidupannya. Segala macam aktivitas manusia di dunia bisa dikatakan dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Manusia menjalani berbagai bentuk pekerjaan dan usaha dalam rangka mencari pemenuhan kebutuhan hidup. Di jaman sekarang ini, seharian penuh manusia mencari uang. Jika mereka ditanya: "untuk apa uang yang mereka dapat?", maka jawabnya pasti seputar pemenuhan kebutuhan-kebutuhan nya, bisa bersifat fisik, seperti pemenuhan kebutuhan makan, minum, maupun memenuhi kebutuan naluriah, seperti untuk menjalani ibadah, biaya menikah, biaya untuk meningkatkan status sosial, dll. Manusia saling berinteraksi dan berkomunikasi antara satu dengan yang lain juga dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Singkatnya, kebutuhan fisik dan naluriah manusia merupakan faktor yang mendasari segala bentuk aktivitasnya.

Hanya saja, manusia itu berbeda dengan hewan. Sebab, aktivitas hewan sepenuhnya hanya ditentukan oleh dorongan kebutuhan fisik dan naluriahnya. Tidak ada faktor lain yang menentukan tindak-tanduk hewan kecuali dorongan kebutuhan tersebut. Maka, hewan akan makan begitu dia lapar dan ada makanan, dia akan berhubungan seksual begitu ada kebutuhan dan lawan jenis, hewan akan bertarung begitu naluri mempertahankan dirinya terangsang, dst.

Berbeda dengan manusia. Meski manusia memiliki dorongan untuk memenuhi kebutuhan, tapi tingkah lakunya (suluk) tidak hanya ditentukan oleh kebutuhan-kebutuhan itu. Manusia memiliki kebutuhan untuk makan dan minum, akan tetapi rasa lapar dan keberadaan makanan tidak otomatis membuat manusia menyikat makanan yang ada di depannya (karena bukan miliknya atau karena sedang puasa, misalnya). Manusia juga memiliki kebutuhan seksual, akan tetapi keberadaan wanita cantik tidak serta-merta membuat seorang laki-laki -maaf- melampiaskan kebutuhan seksual dengan wanita tersebut (karena tidak halal untuknya). Manusia memiliki rasa marah, tapi rasa marah itu tidak otomatis membuat manusia memukul orang yang membuatnya marah. Dan sebagainya.

Artinya, manusia memiliki tatanan dan kaidah-kaidah nilai yang rumit dalam menentukan tingkah lakunya. Itu karena manusia punya akal. Akal berfungsi untuk mengaitkan fakta-fakta dan pemikiran-pemikiran -yang hadir- dengan informasi-informasi yang dimiliki oleh seseorang. Dengan pengaitan itu, manusia bisa memahami hakekat dari fakta atau pemikiran yang tengah ditela'ah. Setelah itu, manusia akan memasuki tahap "mencari sikap" terhadap pemikiran atau fakta yang hadir dihadapannya. Artinya, akal manusia ini bukan hanya digunakan untuk memahami dan mengembangkan cara-cara yang lebih efektif untuk memuaskan kebutuhan manusia (dengan teknologi). Akan tetapi akal juga memungkin manusia untuk membentuk pemahaman-pemahaman (mafaahim) tentang nilai, status hukum dan penyikapan terhadap suatu pemikiran atau fakta. Maksud saya adalah, bahwa akal bisa menemukan pemahaman mengenai standar yang digunakan untuk membedakan mana suatu hal yang terpuji dan mana hal yang tercela, mana hal yang pantas untuk diterima dan mana hal yang harus ditolak, mana perbuatan yang baik dan mana perbuatan yang buruk, dsb.

Dengan pemahaman seputar nilai atau hukum terhadap suatu fakta itulah manusia akan menentukan kecenderungan (muyul) mengenai apa yang dia hadapi. Ada pun yang disebut dengan kecenderungan (muyul) adalah suatu corak hasrat/keinginan tertentu yang terbentuk oleh pemahaman(mafhum). Maka muyul ini hanya ada pada manusia, sebab, muyul adalah hasil peleburan antara dorongan-dorangan (dawafi') yang muncul dari potensi kebutuhan dengan pemahaman-pemahaman (mafaahim) manusia mengenai status hukum dari alternatif-alternat if perbuatan yang ada.

Jika seorang manusia telah memiliki pemahaman (mafhum) bahwa suatu perbuatan itu merupakan perbuatan yang baik dan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan nya, maka akan tumbuh kecenderungan (muyul) berupa rasa suka dan ingin mengamalkan perbuatan yang dia pahami itu. dia akan memenuhi kebutuhannya dengan perbuatan itu, tapi jika sesuatu diidentifikasi sebagai perbuatan buruk atau tercela, maka dia akan membenci hal tersebut. Jadi muyul bisa membentuk kecintaan dan kebencian terhadap suatu fakta atau pemikiran tertentu.

Atas dasar itu, perbuatan manusia itu tidak hanya ditentukan oleh keberadaan dorongan-dorongan (dawafi') yang muncul dari kebutuhan-kebutuhan yang ada pada dirinya (baik berupa kebutuhan fisik maupun naluriah), tapi, perbuatan manusia itu juga ditentukan oleh bentuk kecenderungannya (muyul) terhadap perbuatan-perbuatan yang akan dilakukannya, sedangkan bentuk kecenderungan (hasrat) ini ditentukan oleh pemahaman-pemahaman (mafaahim) manusia mengenai nalai-nilai perbuatan.

Aqliyah Manusia Adalah Corak Pemahaman Yang Dibentuk Oleh Kaidah Tertentu

Sudah kita jelaskan bahwa perbuatan manusia itu dipengaruhi oleh dorongan yang muncul dari kebutuhannya, pemahamannya mengenai hukum atas fakta dan pemikiran yang ditelaahnya, dan kecenderungannya terhadap sesuatu yang dihadapi.

Dalam tataran inilah kepribadian manusia itu mulai terdeferensiasi. Jika kita bicara mengenai pemahaman manusia mengenai status hukum atas suatu fakta atau pemikiran, maka bisa kita katakan bahwa manusia itu memiliki pemahaman yang beragam mengenai mana sesuatu yang dianggap terpuji dan perbuatan mana sesuatu yang dianggap tercela. Dalam menelaah sebuah perbuatan misalnya, bisa jadi seseorang menganggap sebuah perbuatan itu sah-sah saja untuk dilakukan, namun di mata orang lain ternyata dianggap tidak baik. Seorang wanita berjalan ke sana ke mari dengan bikini di pantai-pantai Amerika bisa jadi tidak masalah, tapi itu akan diaggap masalah besar bagi kaum muslimin. Seorang seniman bisa jadi bangga dan mendapat banyak pujian saat berhasil melukis seseorang yang terkenal, tapi dalam pandangan seorang muslim hal itu adalah suatu perbuatan tercela (melukis makhluk bernyawa). Saya ingat, dulu saat saya kecil, di kampung saya, jika ada seorang muslimah yang berjilbab secara benar justru dipandang aneh oleh sebagian masyarakat. Padahal jilbab adalah kewajiban yang harus ditaati, sedangkan melepaskan jilbab adalah kemakshiatan besar yang pelakunya akan mendapat murka Allah.

Yang ingin saya tunjukkan adalah, bahwa ternyata manusia itu memiliki kaidah-kaidah yang berbeda dalam membentuk pemahamannya mengenai mana yang pantas dilakukan dan mana yang tidak, mana yang baik dan mana yang buruk. Ada yang mendasarkannya pada adat istiadat, ada yang mendasarkannya pada asas manfaat, ada yang mendasarkannya pada hukum syara'. Pola pemahaman manusia yang didasarkan atas kaidah-kaidah tertentu inilah yang disebut aqliyyah.

Maka dari itu, aqliyah manusia itu beraneka ragam. Ada aqliyah yang islami, ada aqliyah yang sekuleristik, ada aqliyah yang sosialistik, dan ada pula aqliyah yang tidak jelas. Semua itu tergantung dari kaidah yang dia gunakan dalam membangun pemahamannya terkait dengan amal perbuatan yang dilakukannya dan pensikapan terhadap segala sesuatu dan fakta yang ditemuinya. Kaidah yang digunakan oleh manusia itu bisa berupa aqidah aqliyah (kaidah yang dibangun dari proses berfikir yang mendasar, dan menyeluruh, seperti aqidah islam), bisa juga berupa kaidah yang rapuh, seperti norma adat.

Nafsiyah Manusia Adalah Corak Kecenderungan Manusia Yang Didasarkan Pada Kaidah Tertentu

Kecenderungan (muyul) yang mempengaruhi perbuatan manusia merupakan hasrat untuk melakukan suatu perbuatan tatkala tuntutannya muncul. Kecenderungan ini biasanya berupa keinginan yang kuat untuk berbuat, atau keinginan yang sangat untuk meninggalkan suatu perbuatan, kecintaan pada suatu perbuatan, atau juga kebencian pada suatu perbuatan. Itu semua merupakan kecenderungan.

Bentuk kecenderungan/ hasrat manusia terhadap suatu perbuatan itu berkaitan erat dengan pemahaman-pemahaman nya (mafaahim). Oleh karena itu, kecenderungan orang terhadap suatu perbuatan pun berbeda-beda tergantung pemahamannya. Ada orang yang senang dengan sholat, tapi ada juga yang benci melihat orang sholat. Ada orang yang tidak pernah rela untuk melepas jilbab, tapi ada juga orang yang benci melihat orang berjilbab. Ada orang yang takut dengan riba, tapi ada juga orang yang asyik menikmati riba. Dst.

Kecenderungan pada diri manusia itu sebenarnya bisa diatur. Benarkah kecenderungan bisa diatur? Saya jawab, dengan yakin, "bisa!". Ingin bukti? Kita buktikan! Pernahkah anda menemukan orang yang tidak pernah sholat tapi kemudian tiba-tiba berubah menjadi orang yang rajin berjamaah? Alhamdulillaah saya berkali-kali menemukan hal itu di masjid kami, dan banyak diantara mereka yang tetap istiqomah. Dulu tatkala mereka belum sadar, seruan adzan mungkin tidak membentuk kesan apa-apa. Mereka tidak tergugah. Tidak ada kebutuhan untuk memenuhi panggilan adzan. Tidak ada hasrat atau kecenderungan (muyul) dalam hati mereka untuk pergi ke masjid dan menunaikan sholat. Tapi sekarang, begitu adzan terdengar, maka muncul kebutuhan dalam diri mereka untuk segera sholat, memutuskan segala aktivitasnya, dan menyempatkan diri ke masjid. Mereka merasa senang bisa berjamaah di masjid, dan merasa kehilangan sesuatu jika sholatnya tertinggal. Mereka merasa senang melihat orang sholat, dan merasa sedih melihat orang yang tidak sholat. Subhaanallah. Pernah juga saya temukan orang yang tadinya tidak berjilbab kemudian berubah menjadi malu dan tidak kuasa jika keluar tanpa berjilbab. Pernah juga saya kenal dengan orang yang tadinya menjadi pegawai bank kemudian keluar karena memahami bahwa riba itu haram.

Apa yang terjadi pada diri mereka adalah perubahan kecenderungan. Kenapa kecenderungan bisa berubah? Jawabnya adalah karena didahului oleh perubahan pemahaman (mafhum). Maka, kita bisa mengatur kecenderungan dengan membentuk pemahaman. Seseorang yang tidak pernah sholat bisa berubah jika ditanamkan aqidah islam pada dirinya, kemudian dijelaskan konsekuensi dari memeluk aqidah itu, kemudian dijelaskan bahwa sholat merupakan kewajiban, setelah itu dijelaskan pula pahala bagi orang yang rajin sholat, dan tak lupa, dijelaskan juga kerasnya hukuman bagi orang yang meninggalkan sholat. Dengan begitu akan terbentuk pemahaman pada dirinya, dan setelah itu, pemahamannya akan menumbuhkan kebutuhan dan kecenderungan terhadap aktivitas sholat.

Atas dasar itu, kecenderungan itu terbentuk oleh pemahaman yang di dasarkan pada kaidah tertentu. Kecenderungan yang terbentuk oleh pemahaman dan kaidah tertentu itu tempatnya ada di dalam jiwa. Inilah yang disebut nafsiyah (pola kejiwaan). Jika kecenderungan seseorang terbentuk oleh pemahaman-pemahaman islam, maka nafsiyahnya disebut nafsiyah islamiyah. Jika yang membentuknya adalah pemahaman-pemahaman yang muncul dari aqidah lain, maka nafsiyahnya bukan nafsiyah islam.

Syakhshiyah Terbentuk Dari Aqliyah dan Nafsiyah

Demikianlah sekilas tentang aqliyah dan nafsiyah yang membedakan kepribadian manusia antara yang satu dengan yang lainya. Aqliyah dan nafsiyah itulah yang nantinya akan membentuk kulit luar dari pola kehidupan manusia. Seluruh kebutuhan yang muncul dalam dirinya akan diatur sesuai dengan pemahaman dan kecenderungan yang ada dalam dirinya. Aqliyah dan nafsiyah itu tercermin dalam segala macam tindak-tanduknya, seakan memberi warna tertentu pada corak kehidupannya. Inilah yang disebut dengan syakhshiyah atau kepribadian manusia. Singkatnya, kepribadian manusia itu terbentuk dari corak pemahaman (aqliyah) dan corak kecenderungannya (nafsiyah) yang didasarkan pada suatu aqidah tertentu.

Pelajaran yang bisa kita petik di sini adalah, bahwa membentuk kepribadian yang kuat pada diri manusia itu tidak bisa dilakukan secara dogmatis. Kita harus membentuk kepribadian itu mulai dari menanamkan sebuah kaidah dasar yang bisa digunakan untuk membentuk pemahaman-pemahaman (mafaahim) yang benar. Dengan begitu, seseorang bisa memahami dan menghukumi segala macam fakta dan pemikiran dengan kaidah yang shohih. Inilah yang disebut corak aqliyah yang mantap dan khas. Setelah itu, seseorang harus dilatih agar hawa nafsunya sejalan dengan pemahaman-pemahaman nya agar terbentuk suatu corak kecenderungan (muyul) yang baik. Corak kecenderungan inilah yang disebut nafsiyah. Dengan corak pemahaman dan corak kecenderungan yang khas ini, terbentuklah manusia yang memiliki corak kehidupan yang tegas dan unik (as syakhshiyah al mu'ayyanah) yang mencerminkan kaidah yang digunakan untuk membentuk aqliyah dan nafsiyahnya. Allaahu A'almu bish showaab.

PENGARUH KELUARGA DAN RUMAH TANGGA YANG MENJADI DASAR PERILAKU KONSUMEN

PERILAKU KONSUMEN

PENGARUH KELUARGA DAN RUMAH TANGGA YANG MENJADI DASAR PERILAKU KONSUMEN

Pembangunan didefinisikan secara luas sebagai suatu proses perbaikan yang
berkesinambungan atas suatu masyarakat atau suatu sistem sosial secara keseluruhan
menuju kehidupan yang lebih baik atau lebih sejahtera. Bentuk nyata atau unsurunsur
dari kehidupan serba lebih baik itu sendiri masih menjadi perdebatan. Namun
menurut Todaro (2000), komponen dasar atau nilai inti yang harus dijadikan basis
konseptual dan pedoman praktis untuk memahami kehidupan yang lebih baik atau
lebih sejahtera terdiri atas tiga komponen dasar yaitu :
1. Kecukupan (sustenance)
Kecukupan yaitu kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Kebutuhan tersebut bukan hanya menyangkut makanan,
melainkan mewakili semua hal yang merupakan kebutuhan dasar manusia
secara fisik yang meliputi pangan, sandang, papan dan keamanan.

2. Jati diri (self esteem)
Jati diri merupakan dorongan dari diri sendiri untuk maju, untuk
merasa diri pantas dan layak melakukan atau mengejar sesuatu. Penyebaran
nilai-nilai modern yang bersumber dari negara-negara maju telah
mengakibatkan kejutan dan kebingungan budaya di banyak negara
berkembang. Kontak dengan masyarakat lain yang secara ekonomis atau
teknologis lebih maju acapkali mengakibatkan definisi dan batasan
mengenai baik-buruk dan benar-salah menjadi kabur. Kemakmuran materil
lambat laun dianggap sebagai suatu ukuran kelayakan yang universal dan
dinobatkan menjadi landasan penilaian atas segala sesuatu.

3. Kebebasan (freedom)
Kebebasan atau kemerdekaan di sini diartikan secara luas sebagai
kemampuan untuk berdiri tegak sehingga tidak diperbudak oleh pengejaran
aspek materil semata-mata dalam kehidupan ini. Kebebasan disini juga
harus diartikan sebagai kebebasan terhadap ajaran-ajaran yang dogmatis.
Jika kita memiliki kebebasan, itu berarti untuk selamanya kita mampu
berpikir jernih dan menilai segala sesuatu atas dasar keyakinan, pikiran
sehat dan hati nurani kita sendiri. Kebebasan juga meliputi kemampuan
individual atau masyarakat untuk memilih satu atau sebagian dari sekian
banyak pilihan yang tersedia. Manfaat inti yang terkandung dalam
penguasaan yang lebih besar itu adalah kebebasan untuk memilih
merasakan kenikmatan yang lebih besar dan bervariasi, untuk memilih
lebih banyak barang dan jasa.

Faktor-faktor yang ikut menentukan pola konsumsi keluarga antara lain
tingkat pendapatan keluarga, ukuran keluarga, pendidikan kepala keluarga dan status
kerja wanita. Untuk mendukung pernyataan tersebut, telah banyak penelitian
dilakukan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendapatan dan pola konsumsi
keluarga. Teori Engel’s yang menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat pendapatan
keluarga semakin rendah persentasi pengeluaran untuk konsumsi makanan
(Sumarwan, 1993). Berdasarkan teori klasik ini, maka keluarga bisa dikatakan lebih
sejahtera bila persentasi pengeluaran untuk makanan jauh lebih kecil dari persentasi
pengeluaran untuk bukan makanan. Artinya proporsi alokasi pengeluaran untuk
pangan akan semakin kecil dengan bertambahnya pendapatan keluarga, karena
sebagian besar dari pendapatan tersebut dialokasikan pada kebutuhan non pangan.
Jumlah anggota keluarga atau ukuran keluarga juga mempengaruhi pola
konsumsi. Hasil Survei Biaya Hidup (SBH) tahun 1989 membuktikan bahwa semakin
besar jumlah anggota keluarga semakin besar proporsi pengeluaran keluarga untuk
makanan dari pada untuk bukan makanan. Ini berarti semakin kecil jumlah anggota
keluarga, semakin kecil pula bagian pendapatan untuk kebutuhan makanan
(Sumarwan, 1993). Selebihnya, keluarga akan mengalokasikan sisa pendapatannya
untuk konsumsi bukan makanan. Dengan demikian, keluarga dengan jumlah anggota
sedikit relatif lebih sejahtera dari keluarga dengan jumlah anggota besar.
Selain jumlah anggota keluarga, tingkat pendidikan formal kepala keluarga
juga berpengaruh terhadap pola konsumsi keluarga. Pendidikan dapat merubah sikap
dan prilaku seseorang dalam memenuhi kebutuhannya. Makin tinggi tingkat
pendidikan seseorang maka makin mudah ia dapat menerima informasi dan inovasi
baru yang dapat merubah pola konsumsinya. Disamping itu makin tinggi tingkat
pendidikan formal maka kemungkinannya akan mempunyai tingkat pendapatan yang
relatif lebih tinggi (Sumarwan, 1993).
Perubahan karakteristik keluarga ini mempunyai dampak sangat penting pada
perubahan pola kebutuhan atau konsumsi keluarga misalnya makanan, perlengkapan
alat-alat rumah tangga, pelayanan kesehatan, perumahan dan pendidikan.

A. Keluarga Sejahtera
Strategi pengembangan kependudukan terus mengalami perluasan karena
masalah kependudukan pun telah bertambah luas dengan berbagai tantangan yang
semakin beragam. Dengan telah ditekannya laju pertumbuhan penduduk, maka
ukuran, struktur dan komposisi penduduk yang tercermin dalam unit-unit keluarga
akan mengalami perubahan baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya.
Undang-undang No. 10 tahun 1992 yang telah dirujuk menjadikan keluarga
sebagai satuan sosial terkecil dalam masyarakat, sekaligus sebagai suatu lembaga
yang amat penting dalam kehidupan manusia. Lembaga keluarga dalam budaya
masyarakat kita dianggap sebagai suatu jalinan jasmani, rohani dan sosial yang
mendasar dan mengakar dalam kehidupan, lembaga keluarga ini sarat dengan fungsi
(Achir, 1993).
Menurut Selo Sumarjan dalam Hatmaji (1993), keluarga merupakan institusi
perantara (mediator) antara individu dengan masyarakat. Sehubungan dengan itu,
keluarga memiliki beberapa fungsi antara lain refroduksi, ekonomi, afeksi, proteksi,
sosialisasi dan keagamaan.
Pada saat ini sedang terjadi pergeseran nilai di masyarakat, termasuk nilainilai
yang berlaku dalam keluarga, misalnya pembagian peran di dalam keluarga.
Perubahan nilai yang ada dalam masyarakat membuat wanita memiliki kemungkinan
yang lebih besar untuk terjun ke lapangan kerja sehingga mempengaruhi pembagian
peran antara suami dan isteri dalam suatu keluarga.
Tugas-tugas yang secara tradisional dilakukan oleh isteri antara lain mengurus
kebutuhan anak baik secara fisik maupun psikologis, mengurus pendidikan anak dan
mengurus penyediaan makanan untuk anggota keluarga mulai bergeser pada sebagian
keluarga. Si suami secara tradisional bertugas memberikan status sosial pada
keluarga, mencari nafkah dan mewakili keluarga dengan pihak-pihak lain yang ada di
dalam masyarakat mulai menerima limpahan tugas dari sang isteri.
Dengan adanya pergeseran nilai dalam keluarga tersebut mengakibatkan juga
terjadi perubahan pola konsumsi barang dan jasa dalam keluarga.
Keberhasilan program pemerintah dalam bidang kependudukan khusunya
penurunan fertilitas nampaknya sudah mulai nyata. Keberhasilan ini antara lain
berdampak pada perubahan struktur keluarga (Hatmadji, 1993). Lebih lanjut ia
mengatakan, struktur keluarga sudah berubah dari keluarga berukuran besar (jumlah
anak banyak) ke keluarga berukuran kecil (sedikit anak).
Pada tahun 1971 rata-rata jumlah anggota rumah tangga di Indonesia sebesar
5,3 orang, tahun 1980 mengalami penurunan menjadi 5,2 orang kemudian pada tahun
1990 penurunannya cukup berarti yakni dari 5,2 pada tahun 1980 menjadi 4,5 o rang
pada tahun 1990 (Kasto dan Sembiring, 1996).
Propinsi Sulawesi Selatan pada tahun 1980 mempunyai rata-rata jumlah
anggota rumah tangga sebanyak 5,3 orang, tahun 1990 mengalami penurunan
menjadi 4,9 orang dan kemudian pada tahun 2000 menjadi 4,6 orang (BPS, 2001).
Pada tahun 1980 rata-rata rumah tangga di huni oleh 5 sampai 6 orang anggota rumah
tangga yang terdiri dari suami, isteri dan 3 sampai 4 orang anak. Namun pada tahun
2000 telah mengalami penurunan dimana rata-rata setiap rumah tangga hanya dihuni
oleh 4 sampai 5 orang anggota rumah tangga, yang terdiri dari suami, isteri dan 2
sampai 3 orang anak.
Penurunan rata-rata anggota rumah tangga tersebut menunjukkan diterimanya
norma keluarga kecil dan menunjukkan kecenderungan pembentukan keluarga batih
atau inti (nuclear family), keluarga yang terdiri dari suami, isteri dan anak.
Hal lain yang dapat diungkap dari menurunnya rata-rata anggota rumah
tangga ini adalah menunjukkan adanya perubahan struktur dalam keluarga, yakni
perubahan dari struktur keluarga luas (extended family) ke arah keluarga batih
(nuclear family). Bahkan adanya perubahan dalam struktur keluarga batih sendiri juga
telah terjadi, yakni perubahan dari jumlah anak banyak ke arah jumlah anak yang
lebih sedikit.
Bersamaan dengan perubahan struktur kelurga, maka terjadi pula perubahan
fungsi dalam kelurga. Masing-masing anggota keluarga karena hubungannya dengan
masyakat lingkungannya akan mengembangkan perannya sesuai dengan tuntutan
yang diharapkan oleh lingkungan tersebut. Salah satu fenomena yang terjadi adalah
masuknya wanita dalam pasar kerja, yang mau tidak mau akan menyebabkan
terjadinya perubahan status dan peran yang mereka mainkan sebelumnya (BKKBN,
1992). Lebih lanjut dijelaskan bahwa, dengan masuknya wanita dalam angkatan
kerja, berarti akan memberikan peranan ekonomi yang lebih besar terhadap keluarga
terutama dalam membantu meningkatkan pendapatan keluarga. Pada gilirannya akan
memberikan dampak psikologis, sosial dan budaya baik pada keluarga itu sendiri
maupun pada masyarakat lainnya.
Konsep keluarga sejahtera sangat beragam, menurut Selo Sumardjan dalam
Hatmadji (1993), sejahtera hanya dilihat dari sisi pencapaian finansial, sedangkan
kondisi ideal yang dari sisi psikologis diartikan sebagai bahagia. Lebih lanjut ia
katakan bahwa kesejahteraan itu haruslah bersifat komprehensif, tingkat pencapaian
kesejahteraan antara satu keluarga dengan keluarga lainnya tidak dapat
diperbandingkan, karena kesejahteraan berkaitan erat dengan tujuan hidup masingmasing
keluarga.

B. Perubahan Pola Konsumsi
Dalam ilmu ekonomi dijelaskan bahwa ekonomi merupakan asumsi dalam
teori ekonomi seseorang bertindak secara rasional dalam mencapai tujuannya dan
kemudian mengambil keputusan yang konsisten dengan tujuan tersebut.
Haris dan Andika (2002) mengemukakan beberapa macam kebutuhan pokok
manusia untuk bisa hidup secara wajar, yaitu :
1. Kebutuhan pangan atau kebutuhan akan makanan.
2. Kebutuhan sandang atau pakaian.
3. Kebutuhan papan atau tempat berteduh.
4. Kebutuhan pendidikan untuk menjadi manusia bermoral dan berbudaya.
Kebutuhan tersebut di atas merupakan kebutuhan primer yang harus dipenuhi
untuk dapat hidup wajar. Bila kebutuhan itu kurang dapat dipenuhi secara
memuaskan maka hal itu merupakan suatu indikasi bahwa kita masih hidup di bawah
garis kemiskinan. Kebutuhan lain seperti : kebutuhan akan perabot rumah tangga,
meja, kursi, lemari, alat-alat dapur, radio, televisi dan aneka kebutuhan lainnya,
disebut sebagai kebutuhan sekunder atau kebutuhan pelengkap yang ditambahkan
sesuai dengan peningkatan pendapatan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa, untuk dapat
memenuhi kebutuhan hidup, kita membutuhkan uang atau penghasilan. Tanpa bekerja
kita tak mungkin mendapatkan penghasilan. Tanpa penghasilan kita tak mungkin
dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan hidup secara wajar.
Semakin banyaknya isteri atau ibu rumah tangga yang masuk dalam dunia
kerja mengakibatkan terjadinya perubahan dalam keluarga. Dalam menghadapi
perubahan ini maka keluarga harus mempunyai beberapa strategi untuk mengatasi
kendala waktu yang dihadapinya. Dua strategi pokok yang dapat dilakukan keluarga
yang bekerja agar kesejahteraan keluarga dapat tercapai adalah membeli waktu dan
menghemat waktu. Membeli waktu merupakan usaha yang dilakukan keluarga untuk
membeli alat-alat rumah tangga, (household appliances) seperti mesin cuci, kulkas,
alat-alat dapur dan lain sebagainya, serta menggunakan jasa-jasa pelayanan. Strategi
semacam ini membuat keluarga lebih mengandalkan alat-alat listrik dalam melakukan
pekerjaan rumah tangga. Selain itu, keluarga dapat menggunakan jasa orang lain
untuk memenuhi kebutuhannya, misalnya menggunakan jasa binatu, jasa penitipan
dan pengasuhan anak, membayar pembantu rumah tangga, sering makan di rumah
makan atau membeli makanan yang siap dihidangkan.
Strategi menghemat waktu, merupakan usaha yang dilakukan oleh keluarga
untuk mengalokasikan pekerjaan rumah tangga yang biasa dilakukan oleh isteri/ibu
kepada suami/ayah atau anak-anak. Strategi menghemat waktu termasuk pula
pengurangan kuantitas dan kualitas pekerjaan rumah tangga yang harus dilakukan,
misalnya mengurangi waktu santai dan kegiatan sosial.
Kendala waktu yang dihadapi keluarga masa depan dan strategi untuk
mengatasinya akan mempengaruhi pola konsumsi keluarga tersebut, baik secara
langsung ataupun tidak langsung. Hal ini didukung oleh industri makanan yang
memproduksi berbagai jenis makanan jadi, industri restoran dan fast food yang
tumbuh pesat (Wilopo, 1998).
Jumlah rumah tangga atau keluarga yang menerapkan strategi membeli waktu
semakin banyak, maka semua itu akan berakibat pada peningkatan permintaan alatalat
rumah tangga. Oleh sebab itu, pengeluaran konsumsi untuk makanan jadi dan
alat-alat rumah tangga akan semakin besar.
Di pihak lain makanan jadi yang tersedia di pasar belum tentu memberikan
jaminan gizi yang baik. Kurangnya nilai gizi dari makanan tersebut membawa
dampak negatif terhadap kesehatan keluarga. Dengan demikian strategi menghemat
waktu tanpa memperhatikan kebutuhan tubuh akan membawa dampak negatif pada
kesehatan keluarga, yang mengakibatkan timbulnya berbagai macam penyakit.
Kondisi semacam ini mempengaruhi pengeluaran keluarga untuk konsumsi jasa
kesehatan dan obat-obatan.
Perubahan pola konsumsi terhadap aneka barang dan jasa diperkirakan akan
meningkat dengan pesat di masa mendatang sejalan dengan perubahan struktur
keluarga, perbaikan tingkat pendapatan, serta semakin banyaknya keluarga yang
menerapkan strategi membeli waktu.

C. Perilaku Konsumen
Menurut Joesron dan Fathorrozi (2003), kebutuhan manusia relatif tidak
terbatas sementara sumber daya yang tersedia sangat terbatas, hal ini mengakibatkan
manusia dalam memenuhi setiap kebutuhannya akan berusaha memilih alternatif
yang paling menguntungkan bagi dirinya. Lebih lanjut ia katakan bahwa timbulnya
perilaku konsumen karena adanya keinginan memperoleh kepuasan yang maksimal
dengan berusaha mengkonsumsi barang dan jasa sebanyak-banyaknya, tetapi
mempunyai keterbatasan pendapatan.

1. Fungsi Permintaan
Permintaan merupakan jumlah barang dan jasa yang diminta pada berbagai
tingkat harga dalam waktu tertentu. Sukirno (1985) menyatakan permintaan
seseorang atas sesuatu barang ditentukan oleh banyak faktor, diantaranya yang
terpenting adalah:
1. Harga barang itu sediri
2. Harga barang-barang lain yang mempunyai kaitan erat dengan barang
tersebut
3. Pendapatan rumah tangga dan pendapatan rata-rata masyarakat
4. Corak ditribusi pendapatan dalam masyarakat
5. Citarasa masyarakat
6. Jumlah penduduk
7. Ramalan mengenai keadaan di masa yang akan datang
Hubungan antara tingkat harga dan jumlah barang yang diminta dapat
disajikan dalam kurva permintaan. Kurva permintaan menunjukkan tempat titik-titik yang mengambarkan maksimum pembelian pada harga tertentu dengan anggapan ceteris paribus (hal-hal lain dianggap tetap).
Permintaan suatu barang bukan hanya dipengaruhi oleh harga barang tersebut,
melainkan juga dipengaruhi oleh pendapatan konsumen, selera, harga barang lain dan
masih banyak faktor lainnya yang dapat diidentifikasi sebagai faktor yang
mempengaruhi permintaan.
Adanya asumsi ceteris paribus, yaitu faktor lain selain harga dianggap tetap,
maka sepanjang fungsi permintaan individu akan dapat dijumpai adanya perubahan
jumlah yang diminta sebagai akibat perubahan harga. Dengan kata lain, dalam suatu
kurva yang sama akan terdapat gerakan dari suatu titik ke titik lainnya apabila harga
suatu barang mengalami perubahan.
Apabila faktor lain, selain harga mengalami perubahan maka fungsi
permintaan akan ikut berubah pula. Misalkan pendapatan konsumen meningkat maka
fungsi permintaan akan bergeser ke kanan (atas), begitu pula sebaliknya bila
pendapatan konsumen berkurang maka fungsi permintaan bergeser ke kiri (bawah).

Ada beberapa pendekatan yang sering digunakan untuk menjelaskan
terbentuknya fungsi permintaan konsumen, yaitu:

A. Pendekatan Kardinal (Cardinal Approach).Menurut pendekatan ini,
daya guna dapat diukur dengan satuan uang atau utilitas, dan tinggi rendahnya nilai
atau daya guna tergantung kepada subyek yang menilai. Pendekatan ini juga
mengandung anggapan bahwa semakin berguna suatu barang bagi seseorang, maka
akan semakin diminati. Asumsi dari pendekatan ini adalah:
1. Konsumen rasional, artinya konsumen bertujuan memaksimalkan
kepuasannya dengan batasan pendapatannya.
2. Diminishing marginal utility, artinya tambahan utilitas yang diperleh
konsumen makin menurun dengan bertambanya konsumsi dari komoditas
tersebut.
3. Pendapatan konsumen tetap
4. Uang mempunyai nilai subyektif yang tetap.
5. Total utility adalah additive dan independent. Additive artinya daya guna
dari sekumpulan barang adalah fungsi dari kuantitas masing-masing
barang yang dikonsumsi.

B. Pendekatan Ordinal. Dalam pendekatan ini daya guna suatu barang
tidak perlu diukur, cukup untuk diketahui dan konsumen mampu membuat urutan
tinggi rendahnya daya guna yang diperoleh dari mengkonsumsi sekelompok barang.
Pendekatan yang dipakai dalam teori ordinal adalah indefference curve, yaitu
kurva yang menunjukkan kombinasi 2 (dua) macam barang konsumsi yang
memberikan tingkat kepuasan sama. Asumsi dari pendekatan ini adalah:
1. Konsumen rasional
2. Konsumen mempunyai pola preferensi terhadap barang yang disusun
berdasarkan urutan besar kecilnya daya guna
3. Konsumen mempunyai sejumlah uang tertentu
4. Konsumen selalu berusaha mencapai kepuasan maksimum
5. Konsumen konsisten, artinya bila barang A lebih dipilih daripada B karena
A lebih disukai daripada B, tidak berlaku sebaliknya
6. Berlaku hukum transitif, artinya bila A lebih disukai daripada B dan B
lebih disukai daripada C, maka A lebih disukai daripada C

C. Preferensi Nyata (Revealed Preference Hypothesis). Kurva permintaan
dapat disusun secara langsung berdasarkan perilaku konsumen di pasar. Asumsi yang
menjadi dasar berlakunya teori ini antara lain adalah:
1. Rasionalisasi, yaitu konsumen adalah rasional, juga mengandung pengertian
bahwa jumlah barang banyak lebih disukai daripada barang sedikit.
2. Konsisten artinya seperti biasanya apabila konsumen telah menentukan A
lebih disukai daripada B maka dia tidak sekali-kali mengatakan bahwa B
lebih disukai dari pada A.
3. Asas transitif, artinya bila konsumen menyatakan A lebih disukai dari pada
B dan B lebih disukai daripada C, maka ia akan menyatakan juga bahwa A
lebih disukai daripada C.
4. Konsumen akan menyisihkan sejumlah uang untuk pengeluarannya. Jumlah
ini merupakan anggaran yang dapat dipergunakannya. Kombinasi barang X
dan Y yang sesungguhnya dibeli di pasar merupakan preferensi atas
kombinasi barang tersebut. Kombinasi yang dibeli ini akan memberikan
dayaguna yang tertinggi.
D. Pendekatan Atribut. Pendekatan ini mempunyai pandangan bahwa
konsumen dalam memberi produk tidak hanya karena daya guna dari produk tersebut,
tetapi karena karakteristik atau atribut-atribut yang disediakan oleh produk tersebut.

Ada beberapa keunggulan pendekatan atribut antara lain :
1. Kita akan terlepas dari diskusi mengenai bagaimana mengukur daya guna suatu
barang, yang merupakan asumsi dari pendekatan sebelumnya.
2. Pendekatan ini memandang suatu barang diminta konsumen bukan jumlahnya,
melainkan atribut yang melekat pada barang tersebut, sehingga lebih dapat
dijelaskan tentang pilihan konsumen terhadap produk.
3. Dapat digunakan untuk banyak barang, sehingga bersifat praktis dan lebih
mendekati kenyataan, serta operasionalisasinya lebih mudah.

D. Ukuran Keluarga
Keluarga yang dimaksud dalam penelitian ini adalah rumah tangga. Dalam
suatu rumah tangga biasanya dikepalai oleh seorang kepala rumah tangga, yaitu orang
dianggap paling bertanggungjawab atas kebutuhan sehari-hari dalam rumah tangga
tersebut, atau orang yang ditunjuk dan dituakan sebagai kepala rumah tangga. Selain
kepala rumah tangga terdapat pula anggota rumah tangga yang mempunyai hubungan
kekerabatan dengan kepala rumah tangga seperti isteri, anak, menantu, cucu, orang
tua, mertua, famili dan lain-lain.
Besarnya rumah tangga menyatakan jumlah seluruh anggota yang menjadi
tanggungan dalam rumah tangga tersebut. Besaran rumah tangga dapat memberikan
indikasi beban rumah tangga. Semakin tinggi besaran rumah tangga berarti semakin
banyak anggota rumah tangga yang selanjutnya semakin berat beban rumah tangga
tersebut untuk memenuhi kebutuhannya, terutama untuk rumah tangga dengan tingkat
pendapatan rendah (BPS, 2001).
Kebutuhan anggota keluarga akan makanan berbeda-beda tergantung dari
struktur umur. Menurut Sediaoetama (1985), distribusi kebutuhan pangan dalam
keluarga tidak merata, artinya setiap anggota keluarga tersebut mendapat jumlah
makanan yang sesuai dengan tingkat kebutuhannya, menurut umur dan keadaan
fisiknya.
Zat gizi yang diperlukan oleh anak-anak dan anggota keluarga yang masih
muda pada umumnya lebih tinggi dari kebutuhan orang dewasa, tetapi kalau
dinyatakan dalam kuantum absolut, anak-anak tentu membutuhkan kuantum makanan
yang lebih kecil dibandingkan dengan kuantum makanan yang diperlukan oleh orang
dewasa.

E. Jenis Pekerjaan
Di negara-negara miskin sebagian besar energi di dalam hidangan berasal dari
korbohidrat, terutama bila kondisi negaranya memungkinkan adanya pertanian maka
karbohidrat umumnya didapat dari padi-padian. Di negara yang mata pencaharian
masyarakatnya terutama beternak, sebagian besar energi, bahkan seluruh energi
berasal dari protein hewani dan lemak.
Di Indonesia sekitar 70 – 80 % dari seluruh energi untuk keperluan tubuh
berasal dari karbohidrat. Menurut Sediaoetama (1989), semakin rendah tingkat
ekonomi suatu keluarga maka semakin tinggi persentasi energi tersebut berasal dari
karbohidrat, karena energi dari karbohidrat termasuk yang paling murah. Lebih lanjut
dikatakan bahwa keluarga yang mengalami kemajuan dalam ekonominya, terlihat
adanya pergeseran sumber energi dari karbohidrat ke protein dan lemak.
Energi yang dibutuhkan oleh tubuh berasal dari karbohidrat, lemak dan
protein. Energi tersebut dibagi menjadi dua kelompok besar menurut penggunaannya
yaitu untuk kebutuhan metabolisme tubuh dan energi yang digunakan untuk
melakukan pekerjaan luar (Sediaoetama, 1985).
Walaupun tubuh tidak melakukan pekerjaan atau aktifitas luar seperti tidur,
tetap menggunakan energi. Energi tersebut dipergunakan untuk kebutuhan
metabolisme sel dalam tubuh. Energi tersebut diperlukan minimal untuk
melaksanakan hayat hidup biologis.
Dalam melakukan suatu pekerjaan atau aktifitas sangat membutuhkan energi
atau tenaga, energi tersebut berasal dari makanan yang dikonsumsi (Sukarni, 1994).
Lebih jauh ia katakan, energi dalam jumlah besar terutama diperlukan untuk kerja
otot yang melakukan pekerjaan luar. Misalnya orang yang pekerja sebagai buruh
bangunan, petani, tukang becak, yang hanya mengandalkan fisik atau kekuatan otot,
akan memerlukan makanan dalam jumlah relatif lebih besar untuk sanggup
melakukan pekerjaan tersebut .
Untuk melakukan kegiatan fisik yang sama, orang dengan ukuran tubuh besar
menggunakan lebih banyak energi dari pada ukuran tubuh kecil, karena untuk
menggerakkan tubuh yang lebih besar diperlukan enegi yang lebih banyak. Akan
tetapi, kegiatan fisik mempengaruhi lebih banyak pengeluaran energi dari pada
pengaruh ukuran tubuh (Suhardjo, 1986).
Klasifikasi pekerja menurut status pekerjaan dapat dibagi atas dua kelompok
yaitu sektor informal dan formal (Bakir dan Manning, 1984).
Klasifikasi tenaga kerja menurut jenis pekerjaan utama dapat dibagi atas tiga
jenis yaitu kelompok terampil, setengah terampil dan tidak terampil.

F. Pendidikan
Investasi sumber daya manusia bukan merupakan tanggung jawab salah satu
sektor pembangunan tetapi bersifat multisektor seperti pendidikan, kesehatan,
program kependudukan dan lain-lain. Namun demikian, di antara berbagai bentuk
investasi sumber daya manusia tersebut, pendidikan dapat dikatakan sebagai
katalisator utama pengembangan sumber daya manusia, dengan asumsi bahwa
semakin terdidik seseorang, semakin tinggi pula kesadarannya terhadap pembentukan
keluarga sejahtera.
Pendidikan merupakan upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai
dengan amanat yang telah dituangkan dalam Pembukaan Undang-undang Dasar
1945. Hal tersebut merupakan landasan yang kuat bagi pemerintah untuk
mencanangkan program wajib belajar. Program wajib belajar tersebut dimaksudkan
untuk memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warga negara
untuk memperoleh pendidikan. Program pendidikan tidak selamanya harus
terselenggara di lingkungan sekolah, tetapi juga pendidikan berkelanjutan seperti
kursus-kursus, pelatihan kerja, pendidikan dalam jabatan dan sejenisnya (Suryadi,
1997).
Pendidikan berorientasi pada penyiapan tenaga kerja terdidik, terampil dan
terlatih sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Pendidikan dalam kaitannya dengan
penyiapan tenaga kerja harus selalu lentur dan berwawasan lingkungan agar
pendidikan keterampilan dan keahlian dapat disesuaikan dengan kebutuhan akan
jenis-jenis keterampilan serta keahlian profesi yang selalu berubah (Mantra, 2000).
Pendidikan diharapkan dapat mengatasi keterbelakangan ekonomi lewat
efeknya pada peningkatan kemampuan manusia dan motivasi manusia untuk
berprestasi. Pendidikan berfungsi menyiapkan salah satu input dalam proses
produksi, yaitu tenaga kerja, agar dapat bekerja dengan produktif karena kwalitasnya.
Hal ini akan mendorong peningkatan out put yang diharapkan pada akhirnya dapat
meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Titik singgung antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi adalah
produktivitas tenaga kerja, dengan asumsi bahwa semakin tinggi mutu pendidikan
seseorang maka semakin tinggi pula produktivitasnya, dan semakin tinggi pula
pengaruhnya terhadap pendapatan keluarga (Ananta,1993).
Tingkat pendidikan kepala keluarga juga berpengaruh terhadap pola konsumsi
keluarga. Hasil Survei Biaya Hidup tahun 1989 mendukung keterkaitan tersebut.
Hasil survei membuktikan bahwa, semakin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga,
semakin kecil persentasi pengeluaran untuk konsumsi pangan (Sumarwan 1993).

G. Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian yang telah
dikemukakan, maka hipotesis penelitian ini dirumuskan sebagai berikut.
Kondisi sosial ekonomi keluarga (pendapatan, pendidikan, jenis pekerjaan dan
ukuran keluarga) mempengaruhi pola konsumsi keluarga.

Senin, 01 Maret 2010

BAHASA PADA MODEL RELASIONAL

TUGAS SIM 2

BAHASA PADA MODEL RELASIONAL

Menggunakan bahasa query pernyataan yang diajukan untuk mengambil informasi terbagi 2, yaitu:

1. Bahasa Formal
Bahasa query yang diterjemahkan dengan menggunakan symbol-simbol matematis.
Contohnya: aljabar relasional dan kalkulus relasional
a. Aljabar Relasional
Bahasa query procedural, pemakai menspesifikasikan data apa yang dibutuhkan dan bagaimana untuk mendapatkannya.
b. Kalkulus Relasional
Bahas query non-prosedural, pemakai menspesifikasikan data apa yang dibutuhkan tanpa menspesifikasikan bagaimana untuk menapatkannya. Terbagi 2:
1. Kalkulus Relasional Tupel
2. Kalkulus Relasional Domain
2. Bahasa Komersial
Bahasa query yang dirancang sendiri oleh programmer menjadi suatu program aplikasi agar pemakai lebih mudah menggunakannya (user friendly).
Contohnya:
a. QUEL
Berbasis pada bahasa kalkulus relational
b. QBE
Berbasis pada bahasa kalkulus relational
c. SQL
Berbasis pada bahasa kalkulus relational dan aljabar relational


REFERENSI :
desthi-m.blogspot.com/.../bahasa-pada-model-data-relasional_01.html

TUGAS B.INDONESIA

Penalaran dan Argumentasi

Aksi 2 Maret Berpusat di Depan DPR


Laporan wartawan KOMPAS.com Caroline Damanik Senin, 1 Maret 2010 | 15:31 WIB JAKARTA, KOMPAS.com —Para mahasiswa dan sejumlah elemen masyarakat akan menggelar aksi besar-besaran di depan Gedung MPR/DPR/DPD RI, Selasa (2/3/2010), untuk mendorong agar Pansus Hak Angket Pengusutan Kasus Bank Century DPR RI berani menghasilkan rekomendasi maksimal. Dalam aksi ini, Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (HMI MPO) pun turut serta. HMI MPO memperkirakan akan membawa kekuatan 500-750 massa untuk tumpah ruah di jalanan besok. Tak hanya dari Jakarta, massa HMI MPO yang akan ikut berasal dari sejumlah kota di Jawa, seperti Yogyakarta, Bojonegoro, Surabaya, Bogor, Serang, dan Lebak. "Besok, Pansus harus berani tegas sebutkan nama siapa yang bertanggung jawab. Harus tegas, itu waktu dua bulan sudah cukup untuk menganalisis," tutur Ketua HMI MPO Chozin Amirullah di Universitas Paramadina, Senin (1/3/2010). Selain di Jakarta, mahasiswa HMI MPO di daerah juga akan menggelar aksi serupa di daerahnya masing-masing, misalnya di Makassar. Untuk rekan-rekannya di daerah, surat instruksi di daerah sudah dikeluarkan. Tujuannya untuk menyatukan suara dan tuntutan. Menurut Chozin, aksi unjuk rasa masih perlu dilakukan meski publik menilai dampaknya kini kurang signifikan atau karena banyaknya massa bayaran yang dampaknya justru untuk membuat kekuasaan baru. "Saya pikir itu tetap punya kekuatan. Kalaupun ada kekuasaan baru, itu juga akan kami kritisi," lanjutnya kemudian. Dalam aksi besok, lanjutnya, akan turun pula BEM sejumlah universitas, BEM se-Jabodetabek, Gerakan Indonesia Bersatu (GIB), Petisi 28, dan Front Umat Islam Bersatu (FUIB).


Merah : PENALARAN

Kuning : ARGUMENTASI