PERILAKU KONSUMEN
PENGARUH KELUARGA DAN RUMAH TANGGA YANG MENJADI DASAR PERILAKU KONSUMEN
Pembangunan didefinisikan secara luas sebagai suatu proses perbaikan yang
berkesinambungan atas suatu masyarakat atau suatu sistem sosial secara keseluruhan
menuju kehidupan yang lebih baik atau lebih sejahtera. Bentuk nyata atau unsurunsur
dari kehidupan serba lebih baik itu sendiri masih menjadi perdebatan. Namun
menurut Todaro (2000), komponen dasar atau nilai inti yang harus dijadikan basis
konseptual dan pedoman praktis untuk memahami kehidupan yang lebih baik atau
lebih sejahtera terdiri atas tiga komponen dasar yaitu :
1. Kecukupan (sustenance)
Kecukupan yaitu kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Kebutuhan tersebut bukan hanya menyangkut makanan,
melainkan mewakili semua hal yang merupakan kebutuhan dasar manusia
secara fisik yang meliputi pangan, sandang, papan dan keamanan.
2. Jati diri (self esteem)
Jati diri merupakan dorongan dari diri sendiri untuk maju, untuk
merasa diri pantas dan layak melakukan atau mengejar sesuatu. Penyebaran
nilai-nilai modern yang bersumber dari negara-negara maju telah
mengakibatkan kejutan dan kebingungan budaya di banyak negara
berkembang. Kontak dengan masyarakat lain yang secara ekonomis atau
teknologis lebih maju acapkali mengakibatkan definisi dan batasan
mengenai baik-buruk dan benar-salah menjadi kabur. Kemakmuran materil
lambat laun dianggap sebagai suatu ukuran kelayakan yang universal dan
dinobatkan menjadi landasan penilaian atas segala sesuatu.
3. Kebebasan (freedom)
Kebebasan atau kemerdekaan di sini diartikan secara luas sebagai
kemampuan untuk berdiri tegak sehingga tidak diperbudak oleh pengejaran
aspek materil semata-mata dalam kehidupan ini. Kebebasan disini juga
harus diartikan sebagai kebebasan terhadap ajaran-ajaran yang dogmatis.
Jika kita memiliki kebebasan, itu berarti untuk selamanya kita mampu
berpikir jernih dan menilai segala sesuatu atas dasar keyakinan, pikiran
sehat dan hati nurani kita sendiri. Kebebasan juga meliputi kemampuan
individual atau masyarakat untuk memilih satu atau sebagian dari sekian
banyak pilihan yang tersedia. Manfaat inti yang terkandung dalam
penguasaan yang lebih besar itu adalah kebebasan untuk memilih
merasakan kenikmatan yang lebih besar dan bervariasi, untuk memilih
lebih banyak barang dan jasa.
Faktor-faktor yang ikut menentukan pola konsumsi keluarga antara lain
tingkat pendapatan keluarga, ukuran keluarga, pendidikan kepala keluarga dan status
kerja wanita. Untuk mendukung pernyataan tersebut, telah banyak penelitian
dilakukan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendapatan dan pola konsumsi
keluarga. Teori Engel’s yang menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat pendapatan
keluarga semakin rendah persentasi pengeluaran untuk konsumsi makanan
(Sumarwan, 1993). Berdasarkan teori klasik ini, maka keluarga bisa dikatakan lebih
sejahtera bila persentasi pengeluaran untuk makanan jauh lebih kecil dari persentasi
pengeluaran untuk bukan makanan. Artinya proporsi alokasi pengeluaran untuk
pangan akan semakin kecil dengan bertambahnya pendapatan keluarga, karena
sebagian besar dari pendapatan tersebut dialokasikan pada kebutuhan non pangan.
Jumlah anggota keluarga atau ukuran keluarga juga mempengaruhi pola
konsumsi. Hasil Survei Biaya Hidup (SBH) tahun 1989 membuktikan bahwa semakin
besar jumlah anggota keluarga semakin besar proporsi pengeluaran keluarga untuk
makanan dari pada untuk bukan makanan. Ini berarti semakin kecil jumlah anggota
keluarga, semakin kecil pula bagian pendapatan untuk kebutuhan makanan
(Sumarwan, 1993). Selebihnya, keluarga akan mengalokasikan sisa pendapatannya
untuk konsumsi bukan makanan. Dengan demikian, keluarga dengan jumlah anggota
sedikit relatif lebih sejahtera dari keluarga dengan jumlah anggota besar.
Selain jumlah anggota keluarga, tingkat pendidikan formal kepala keluarga
juga berpengaruh terhadap pola konsumsi keluarga. Pendidikan dapat merubah sikap
dan prilaku seseorang dalam memenuhi kebutuhannya. Makin tinggi tingkat
pendidikan seseorang maka makin mudah ia dapat menerima informasi dan inovasi
baru yang dapat merubah pola konsumsinya. Disamping itu makin tinggi tingkat
pendidikan formal maka kemungkinannya akan mempunyai tingkat pendapatan yang
relatif lebih tinggi (Sumarwan, 1993).
Perubahan karakteristik keluarga ini mempunyai dampak sangat penting pada
perubahan pola kebutuhan atau konsumsi keluarga misalnya makanan, perlengkapan
alat-alat rumah tangga, pelayanan kesehatan, perumahan dan pendidikan.
A. Keluarga Sejahtera
Strategi pengembangan kependudukan terus mengalami perluasan karena
masalah kependudukan pun telah bertambah luas dengan berbagai tantangan yang
semakin beragam. Dengan telah ditekannya laju pertumbuhan penduduk, maka
ukuran, struktur dan komposisi penduduk yang tercermin dalam unit-unit keluarga
akan mengalami perubahan baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya.
Undang-undang No. 10 tahun 1992 yang telah dirujuk menjadikan keluarga
sebagai satuan sosial terkecil dalam masyarakat, sekaligus sebagai suatu lembaga
yang amat penting dalam kehidupan manusia. Lembaga keluarga dalam budaya
masyarakat kita dianggap sebagai suatu jalinan jasmani, rohani dan sosial yang
mendasar dan mengakar dalam kehidupan, lembaga keluarga ini sarat dengan fungsi
(Achir, 1993).
Menurut Selo Sumarjan dalam Hatmaji (1993), keluarga merupakan institusi
perantara (mediator) antara individu dengan masyarakat. Sehubungan dengan itu,
keluarga memiliki beberapa fungsi antara lain refroduksi, ekonomi, afeksi, proteksi,
sosialisasi dan keagamaan.
Pada saat ini sedang terjadi pergeseran nilai di masyarakat, termasuk nilainilai
yang berlaku dalam keluarga, misalnya pembagian peran di dalam keluarga.
Perubahan nilai yang ada dalam masyarakat membuat wanita memiliki kemungkinan
yang lebih besar untuk terjun ke lapangan kerja sehingga mempengaruhi pembagian
peran antara suami dan isteri dalam suatu keluarga.
Tugas-tugas yang secara tradisional dilakukan oleh isteri antara lain mengurus
kebutuhan anak baik secara fisik maupun psikologis, mengurus pendidikan anak dan
mengurus penyediaan makanan untuk anggota keluarga mulai bergeser pada sebagian
keluarga. Si suami secara tradisional bertugas memberikan status sosial pada
keluarga, mencari nafkah dan mewakili keluarga dengan pihak-pihak lain yang ada di
dalam masyarakat mulai menerima limpahan tugas dari sang isteri.
Dengan adanya pergeseran nilai dalam keluarga tersebut mengakibatkan juga
terjadi perubahan pola konsumsi barang dan jasa dalam keluarga.
Keberhasilan program pemerintah dalam bidang kependudukan khusunya
penurunan fertilitas nampaknya sudah mulai nyata. Keberhasilan ini antara lain
berdampak pada perubahan struktur keluarga (Hatmadji, 1993). Lebih lanjut ia
mengatakan, struktur keluarga sudah berubah dari keluarga berukuran besar (jumlah
anak banyak) ke keluarga berukuran kecil (sedikit anak).
Pada tahun 1971 rata-rata jumlah anggota rumah tangga di Indonesia sebesar
5,3 orang, tahun 1980 mengalami penurunan menjadi 5,2 orang kemudian pada tahun
1990 penurunannya cukup berarti yakni dari 5,2 pada tahun 1980 menjadi 4,5 o rang
pada tahun 1990 (Kasto dan Sembiring, 1996).
Propinsi Sulawesi Selatan pada tahun 1980 mempunyai rata-rata jumlah
anggota rumah tangga sebanyak 5,3 orang, tahun 1990 mengalami penurunan
menjadi 4,9 orang dan kemudian pada tahun 2000 menjadi 4,6 orang (BPS, 2001).
Pada tahun 1980 rata-rata rumah tangga di huni oleh 5 sampai 6 orang anggota rumah
tangga yang terdiri dari suami, isteri dan 3 sampai 4 orang anak. Namun pada tahun
2000 telah mengalami penurunan dimana rata-rata setiap rumah tangga hanya dihuni
oleh 4 sampai 5 orang anggota rumah tangga, yang terdiri dari suami, isteri dan 2
sampai 3 orang anak.
Penurunan rata-rata anggota rumah tangga tersebut menunjukkan diterimanya
norma keluarga kecil dan menunjukkan kecenderungan pembentukan keluarga batih
atau inti (nuclear family), keluarga yang terdiri dari suami, isteri dan anak.
Hal lain yang dapat diungkap dari menurunnya rata-rata anggota rumah
tangga ini adalah menunjukkan adanya perubahan struktur dalam keluarga, yakni
perubahan dari struktur keluarga luas (extended family) ke arah keluarga batih
(nuclear family). Bahkan adanya perubahan dalam struktur keluarga batih sendiri juga
telah terjadi, yakni perubahan dari jumlah anak banyak ke arah jumlah anak yang
lebih sedikit.
Bersamaan dengan perubahan struktur kelurga, maka terjadi pula perubahan
fungsi dalam kelurga. Masing-masing anggota keluarga karena hubungannya dengan
masyakat lingkungannya akan mengembangkan perannya sesuai dengan tuntutan
yang diharapkan oleh lingkungan tersebut. Salah satu fenomena yang terjadi adalah
masuknya wanita dalam pasar kerja, yang mau tidak mau akan menyebabkan
terjadinya perubahan status dan peran yang mereka mainkan sebelumnya (BKKBN,
1992). Lebih lanjut dijelaskan bahwa, dengan masuknya wanita dalam angkatan
kerja, berarti akan memberikan peranan ekonomi yang lebih besar terhadap keluarga
terutama dalam membantu meningkatkan pendapatan keluarga. Pada gilirannya akan
memberikan dampak psikologis, sosial dan budaya baik pada keluarga itu sendiri
maupun pada masyarakat lainnya.
Konsep keluarga sejahtera sangat beragam, menurut Selo Sumardjan dalam
Hatmadji (1993), sejahtera hanya dilihat dari sisi pencapaian finansial, sedangkan
kondisi ideal yang dari sisi psikologis diartikan sebagai bahagia. Lebih lanjut ia
katakan bahwa kesejahteraan itu haruslah bersifat komprehensif, tingkat pencapaian
kesejahteraan antara satu keluarga dengan keluarga lainnya tidak dapat
diperbandingkan, karena kesejahteraan berkaitan erat dengan tujuan hidup masingmasing
keluarga.
B. Perubahan Pola Konsumsi
Dalam ilmu ekonomi dijelaskan bahwa ekonomi merupakan asumsi dalam
teori ekonomi seseorang bertindak secara rasional dalam mencapai tujuannya dan
kemudian mengambil keputusan yang konsisten dengan tujuan tersebut.
Haris dan Andika (2002) mengemukakan beberapa macam kebutuhan pokok
manusia untuk bisa hidup secara wajar, yaitu :
1. Kebutuhan pangan atau kebutuhan akan makanan.
2. Kebutuhan sandang atau pakaian.
3. Kebutuhan papan atau tempat berteduh.
4. Kebutuhan pendidikan untuk menjadi manusia bermoral dan berbudaya.
Kebutuhan tersebut di atas merupakan kebutuhan primer yang harus dipenuhi
untuk dapat hidup wajar. Bila kebutuhan itu kurang dapat dipenuhi secara
memuaskan maka hal itu merupakan suatu indikasi bahwa kita masih hidup di bawah
garis kemiskinan. Kebutuhan lain seperti : kebutuhan akan perabot rumah tangga,
meja, kursi, lemari, alat-alat dapur, radio, televisi dan aneka kebutuhan lainnya,
disebut sebagai kebutuhan sekunder atau kebutuhan pelengkap yang ditambahkan
sesuai dengan peningkatan pendapatan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa, untuk dapat
memenuhi kebutuhan hidup, kita membutuhkan uang atau penghasilan. Tanpa bekerja
kita tak mungkin mendapatkan penghasilan. Tanpa penghasilan kita tak mungkin
dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan hidup secara wajar.
Semakin banyaknya isteri atau ibu rumah tangga yang masuk dalam dunia
kerja mengakibatkan terjadinya perubahan dalam keluarga. Dalam menghadapi
perubahan ini maka keluarga harus mempunyai beberapa strategi untuk mengatasi
kendala waktu yang dihadapinya. Dua strategi pokok yang dapat dilakukan keluarga
yang bekerja agar kesejahteraan keluarga dapat tercapai adalah membeli waktu dan
menghemat waktu. Membeli waktu merupakan usaha yang dilakukan keluarga untuk
membeli alat-alat rumah tangga, (household appliances) seperti mesin cuci, kulkas,
alat-alat dapur dan lain sebagainya, serta menggunakan jasa-jasa pelayanan. Strategi
semacam ini membuat keluarga lebih mengandalkan alat-alat listrik dalam melakukan
pekerjaan rumah tangga. Selain itu, keluarga dapat menggunakan jasa orang lain
untuk memenuhi kebutuhannya, misalnya menggunakan jasa binatu, jasa penitipan
dan pengasuhan anak, membayar pembantu rumah tangga, sering makan di rumah
makan atau membeli makanan yang siap dihidangkan.
Strategi menghemat waktu, merupakan usaha yang dilakukan oleh keluarga
untuk mengalokasikan pekerjaan rumah tangga yang biasa dilakukan oleh isteri/ibu
kepada suami/ayah atau anak-anak. Strategi menghemat waktu termasuk pula
pengurangan kuantitas dan kualitas pekerjaan rumah tangga yang harus dilakukan,
misalnya mengurangi waktu santai dan kegiatan sosial.
Kendala waktu yang dihadapi keluarga masa depan dan strategi untuk
mengatasinya akan mempengaruhi pola konsumsi keluarga tersebut, baik secara
langsung ataupun tidak langsung. Hal ini didukung oleh industri makanan yang
memproduksi berbagai jenis makanan jadi, industri restoran dan fast food yang
tumbuh pesat (Wilopo, 1998).
Jumlah rumah tangga atau keluarga yang menerapkan strategi membeli waktu
semakin banyak, maka semua itu akan berakibat pada peningkatan permintaan alatalat
rumah tangga. Oleh sebab itu, pengeluaran konsumsi untuk makanan jadi dan
alat-alat rumah tangga akan semakin besar.
Di pihak lain makanan jadi yang tersedia di pasar belum tentu memberikan
jaminan gizi yang baik. Kurangnya nilai gizi dari makanan tersebut membawa
dampak negatif terhadap kesehatan keluarga. Dengan demikian strategi menghemat
waktu tanpa memperhatikan kebutuhan tubuh akan membawa dampak negatif pada
kesehatan keluarga, yang mengakibatkan timbulnya berbagai macam penyakit.
Kondisi semacam ini mempengaruhi pengeluaran keluarga untuk konsumsi jasa
kesehatan dan obat-obatan.
Perubahan pola konsumsi terhadap aneka barang dan jasa diperkirakan akan
meningkat dengan pesat di masa mendatang sejalan dengan perubahan struktur
keluarga, perbaikan tingkat pendapatan, serta semakin banyaknya keluarga yang
menerapkan strategi membeli waktu.
C. Perilaku Konsumen
Menurut Joesron dan Fathorrozi (2003), kebutuhan manusia relatif tidak
terbatas sementara sumber daya yang tersedia sangat terbatas, hal ini mengakibatkan
manusia dalam memenuhi setiap kebutuhannya akan berusaha memilih alternatif
yang paling menguntungkan bagi dirinya. Lebih lanjut ia katakan bahwa timbulnya
perilaku konsumen karena adanya keinginan memperoleh kepuasan yang maksimal
dengan berusaha mengkonsumsi barang dan jasa sebanyak-banyaknya, tetapi
mempunyai keterbatasan pendapatan.
1. Fungsi Permintaan
Permintaan merupakan jumlah barang dan jasa yang diminta pada berbagai
tingkat harga dalam waktu tertentu. Sukirno (1985) menyatakan permintaan
seseorang atas sesuatu barang ditentukan oleh banyak faktor, diantaranya yang
terpenting adalah:
1. Harga barang itu sediri
2. Harga barang-barang lain yang mempunyai kaitan erat dengan barang
tersebut
3. Pendapatan rumah tangga dan pendapatan rata-rata masyarakat
4. Corak ditribusi pendapatan dalam masyarakat
5. Citarasa masyarakat
6. Jumlah penduduk
7. Ramalan mengenai keadaan di masa yang akan datang
Hubungan antara tingkat harga dan jumlah barang yang diminta dapat
disajikan dalam kurva permintaan. Kurva permintaan menunjukkan tempat titik-titik yang mengambarkan maksimum pembelian pada harga tertentu dengan anggapan ceteris paribus (hal-hal lain dianggap tetap).
Permintaan suatu barang bukan hanya dipengaruhi oleh harga barang tersebut,
melainkan juga dipengaruhi oleh pendapatan konsumen, selera, harga barang lain dan
masih banyak faktor lainnya yang dapat diidentifikasi sebagai faktor yang
mempengaruhi permintaan.
Adanya asumsi ceteris paribus, yaitu faktor lain selain harga dianggap tetap,
maka sepanjang fungsi permintaan individu akan dapat dijumpai adanya perubahan
jumlah yang diminta sebagai akibat perubahan harga. Dengan kata lain, dalam suatu
kurva yang sama akan terdapat gerakan dari suatu titik ke titik lainnya apabila harga
suatu barang mengalami perubahan.
Apabila faktor lain, selain harga mengalami perubahan maka fungsi
permintaan akan ikut berubah pula. Misalkan pendapatan konsumen meningkat maka
fungsi permintaan akan bergeser ke kanan (atas), begitu pula sebaliknya bila
pendapatan konsumen berkurang maka fungsi permintaan bergeser ke kiri (bawah).
Ada beberapa pendekatan yang sering digunakan untuk menjelaskan
terbentuknya fungsi permintaan konsumen, yaitu:
A. Pendekatan Kardinal (Cardinal Approach).Menurut pendekatan ini,
daya guna dapat diukur dengan satuan uang atau utilitas, dan tinggi rendahnya nilai
atau daya guna tergantung kepada subyek yang menilai. Pendekatan ini juga
mengandung anggapan bahwa semakin berguna suatu barang bagi seseorang, maka
akan semakin diminati. Asumsi dari pendekatan ini adalah:
1. Konsumen rasional, artinya konsumen bertujuan memaksimalkan
kepuasannya dengan batasan pendapatannya.
2. Diminishing marginal utility, artinya tambahan utilitas yang diperleh
konsumen makin menurun dengan bertambanya konsumsi dari komoditas
tersebut.
3. Pendapatan konsumen tetap
4. Uang mempunyai nilai subyektif yang tetap.
5. Total utility adalah additive dan independent. Additive artinya daya guna
dari sekumpulan barang adalah fungsi dari kuantitas masing-masing
barang yang dikonsumsi.
B. Pendekatan Ordinal. Dalam pendekatan ini daya guna suatu barang
tidak perlu diukur, cukup untuk diketahui dan konsumen mampu membuat urutan
tinggi rendahnya daya guna yang diperoleh dari mengkonsumsi sekelompok barang.
Pendekatan yang dipakai dalam teori ordinal adalah indefference curve, yaitu
kurva yang menunjukkan kombinasi 2 (dua) macam barang konsumsi yang
memberikan tingkat kepuasan sama. Asumsi dari pendekatan ini adalah:
1. Konsumen rasional
2. Konsumen mempunyai pola preferensi terhadap barang yang disusun
berdasarkan urutan besar kecilnya daya guna
3. Konsumen mempunyai sejumlah uang tertentu
4. Konsumen selalu berusaha mencapai kepuasan maksimum
5. Konsumen konsisten, artinya bila barang A lebih dipilih daripada B karena
A lebih disukai daripada B, tidak berlaku sebaliknya
6. Berlaku hukum transitif, artinya bila A lebih disukai daripada B dan B
lebih disukai daripada C, maka A lebih disukai daripada C
C. Preferensi Nyata (Revealed Preference Hypothesis). Kurva permintaan
dapat disusun secara langsung berdasarkan perilaku konsumen di pasar. Asumsi yang
menjadi dasar berlakunya teori ini antara lain adalah:
1. Rasionalisasi, yaitu konsumen adalah rasional, juga mengandung pengertian
bahwa jumlah barang banyak lebih disukai daripada barang sedikit.
2. Konsisten artinya seperti biasanya apabila konsumen telah menentukan A
lebih disukai daripada B maka dia tidak sekali-kali mengatakan bahwa B
lebih disukai dari pada A.
3. Asas transitif, artinya bila konsumen menyatakan A lebih disukai dari pada
B dan B lebih disukai daripada C, maka ia akan menyatakan juga bahwa A
lebih disukai daripada C.
4. Konsumen akan menyisihkan sejumlah uang untuk pengeluarannya. Jumlah
ini merupakan anggaran yang dapat dipergunakannya. Kombinasi barang X
dan Y yang sesungguhnya dibeli di pasar merupakan preferensi atas
kombinasi barang tersebut. Kombinasi yang dibeli ini akan memberikan
dayaguna yang tertinggi.
D. Pendekatan Atribut. Pendekatan ini mempunyai pandangan bahwa
konsumen dalam memberi produk tidak hanya karena daya guna dari produk tersebut,
tetapi karena karakteristik atau atribut-atribut yang disediakan oleh produk tersebut.
Ada beberapa keunggulan pendekatan atribut antara lain :
1. Kita akan terlepas dari diskusi mengenai bagaimana mengukur daya guna suatu
barang, yang merupakan asumsi dari pendekatan sebelumnya.
2. Pendekatan ini memandang suatu barang diminta konsumen bukan jumlahnya,
melainkan atribut yang melekat pada barang tersebut, sehingga lebih dapat
dijelaskan tentang pilihan konsumen terhadap produk.
3. Dapat digunakan untuk banyak barang, sehingga bersifat praktis dan lebih
mendekati kenyataan, serta operasionalisasinya lebih mudah.
D. Ukuran Keluarga
Keluarga yang dimaksud dalam penelitian ini adalah rumah tangga. Dalam
suatu rumah tangga biasanya dikepalai oleh seorang kepala rumah tangga, yaitu orang
dianggap paling bertanggungjawab atas kebutuhan sehari-hari dalam rumah tangga
tersebut, atau orang yang ditunjuk dan dituakan sebagai kepala rumah tangga. Selain
kepala rumah tangga terdapat pula anggota rumah tangga yang mempunyai hubungan
kekerabatan dengan kepala rumah tangga seperti isteri, anak, menantu, cucu, orang
tua, mertua, famili dan lain-lain.
Besarnya rumah tangga menyatakan jumlah seluruh anggota yang menjadi
tanggungan dalam rumah tangga tersebut. Besaran rumah tangga dapat memberikan
indikasi beban rumah tangga. Semakin tinggi besaran rumah tangga berarti semakin
banyak anggota rumah tangga yang selanjutnya semakin berat beban rumah tangga
tersebut untuk memenuhi kebutuhannya, terutama untuk rumah tangga dengan tingkat
pendapatan rendah (BPS, 2001).
Kebutuhan anggota keluarga akan makanan berbeda-beda tergantung dari
struktur umur. Menurut Sediaoetama (1985), distribusi kebutuhan pangan dalam
keluarga tidak merata, artinya setiap anggota keluarga tersebut mendapat jumlah
makanan yang sesuai dengan tingkat kebutuhannya, menurut umur dan keadaan
fisiknya.
Zat gizi yang diperlukan oleh anak-anak dan anggota keluarga yang masih
muda pada umumnya lebih tinggi dari kebutuhan orang dewasa, tetapi kalau
dinyatakan dalam kuantum absolut, anak-anak tentu membutuhkan kuantum makanan
yang lebih kecil dibandingkan dengan kuantum makanan yang diperlukan oleh orang
dewasa.
E. Jenis Pekerjaan
Di negara-negara miskin sebagian besar energi di dalam hidangan berasal dari
korbohidrat, terutama bila kondisi negaranya memungkinkan adanya pertanian maka
karbohidrat umumnya didapat dari padi-padian. Di negara yang mata pencaharian
masyarakatnya terutama beternak, sebagian besar energi, bahkan seluruh energi
berasal dari protein hewani dan lemak.
Di Indonesia sekitar 70 – 80 % dari seluruh energi untuk keperluan tubuh
berasal dari karbohidrat. Menurut Sediaoetama (1989), semakin rendah tingkat
ekonomi suatu keluarga maka semakin tinggi persentasi energi tersebut berasal dari
karbohidrat, karena energi dari karbohidrat termasuk yang paling murah. Lebih lanjut
dikatakan bahwa keluarga yang mengalami kemajuan dalam ekonominya, terlihat
adanya pergeseran sumber energi dari karbohidrat ke protein dan lemak.
Energi yang dibutuhkan oleh tubuh berasal dari karbohidrat, lemak dan
protein. Energi tersebut dibagi menjadi dua kelompok besar menurut penggunaannya
yaitu untuk kebutuhan metabolisme tubuh dan energi yang digunakan untuk
melakukan pekerjaan luar (Sediaoetama, 1985).
Walaupun tubuh tidak melakukan pekerjaan atau aktifitas luar seperti tidur,
tetap menggunakan energi. Energi tersebut dipergunakan untuk kebutuhan
metabolisme sel dalam tubuh. Energi tersebut diperlukan minimal untuk
melaksanakan hayat hidup biologis.
Dalam melakukan suatu pekerjaan atau aktifitas sangat membutuhkan energi
atau tenaga, energi tersebut berasal dari makanan yang dikonsumsi (Sukarni, 1994).
Lebih jauh ia katakan, energi dalam jumlah besar terutama diperlukan untuk kerja
otot yang melakukan pekerjaan luar. Misalnya orang yang pekerja sebagai buruh
bangunan, petani, tukang becak, yang hanya mengandalkan fisik atau kekuatan otot,
akan memerlukan makanan dalam jumlah relatif lebih besar untuk sanggup
melakukan pekerjaan tersebut .
Untuk melakukan kegiatan fisik yang sama, orang dengan ukuran tubuh besar
menggunakan lebih banyak energi dari pada ukuran tubuh kecil, karena untuk
menggerakkan tubuh yang lebih besar diperlukan enegi yang lebih banyak. Akan
tetapi, kegiatan fisik mempengaruhi lebih banyak pengeluaran energi dari pada
pengaruh ukuran tubuh (Suhardjo, 1986).
Klasifikasi pekerja menurut status pekerjaan dapat dibagi atas dua kelompok
yaitu sektor informal dan formal (Bakir dan Manning, 1984).
Klasifikasi tenaga kerja menurut jenis pekerjaan utama dapat dibagi atas tiga
jenis yaitu kelompok terampil, setengah terampil dan tidak terampil.
F. Pendidikan
Investasi sumber daya manusia bukan merupakan tanggung jawab salah satu
sektor pembangunan tetapi bersifat multisektor seperti pendidikan, kesehatan,
program kependudukan dan lain-lain. Namun demikian, di antara berbagai bentuk
investasi sumber daya manusia tersebut, pendidikan dapat dikatakan sebagai
katalisator utama pengembangan sumber daya manusia, dengan asumsi bahwa
semakin terdidik seseorang, semakin tinggi pula kesadarannya terhadap pembentukan
keluarga sejahtera.
Pendidikan merupakan upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai
dengan amanat yang telah dituangkan dalam Pembukaan Undang-undang Dasar
1945. Hal tersebut merupakan landasan yang kuat bagi pemerintah untuk
mencanangkan program wajib belajar. Program wajib belajar tersebut dimaksudkan
untuk memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warga negara
untuk memperoleh pendidikan. Program pendidikan tidak selamanya harus
terselenggara di lingkungan sekolah, tetapi juga pendidikan berkelanjutan seperti
kursus-kursus, pelatihan kerja, pendidikan dalam jabatan dan sejenisnya (Suryadi,
1997).
Pendidikan berorientasi pada penyiapan tenaga kerja terdidik, terampil dan
terlatih sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Pendidikan dalam kaitannya dengan
penyiapan tenaga kerja harus selalu lentur dan berwawasan lingkungan agar
pendidikan keterampilan dan keahlian dapat disesuaikan dengan kebutuhan akan
jenis-jenis keterampilan serta keahlian profesi yang selalu berubah (Mantra, 2000).
Pendidikan diharapkan dapat mengatasi keterbelakangan ekonomi lewat
efeknya pada peningkatan kemampuan manusia dan motivasi manusia untuk
berprestasi. Pendidikan berfungsi menyiapkan salah satu input dalam proses
produksi, yaitu tenaga kerja, agar dapat bekerja dengan produktif karena kwalitasnya.
Hal ini akan mendorong peningkatan out put yang diharapkan pada akhirnya dapat
meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Titik singgung antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi adalah
produktivitas tenaga kerja, dengan asumsi bahwa semakin tinggi mutu pendidikan
seseorang maka semakin tinggi pula produktivitasnya, dan semakin tinggi pula
pengaruhnya terhadap pendapatan keluarga (Ananta,1993).
Tingkat pendidikan kepala keluarga juga berpengaruh terhadap pola konsumsi
keluarga. Hasil Survei Biaya Hidup tahun 1989 mendukung keterkaitan tersebut.
Hasil survei membuktikan bahwa, semakin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga,
semakin kecil persentasi pengeluaran untuk konsumsi pangan (Sumarwan 1993).
G. Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian yang telah
dikemukakan, maka hipotesis penelitian ini dirumuskan sebagai berikut.
Kondisi sosial ekonomi keluarga (pendapatan, pendidikan, jenis pekerjaan dan
ukuran keluarga) mempengaruhi pola konsumsi keluarga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar